oleh

Pupuk Subsidi Dianggap Petani Langka, Kata Kadis Pertanian Cukup Terpenuhi; Mana Yang Benar Ya..!

BANYUWANGI – Kelangkahan pupuk bersubsidi membuat cemas petani Banyuwangi terutama diwilayah selatan, terhitung dibulan Juni stok dibeberapa kios yang mempunyai e RDKK mengaku berkurang dan sekarang kosong. Jumat (14/10/2022).

Kelangkahan pupuk subsidi membuat petani cemas lantaran pupuk non subsidi harganya terbilang mahal, di kios tidak lagi menyediakan semua jenis pupuk bersubsidi hingga sekarang.

Nanang Eko Triyanto, salah satu Petani diwilayah Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo, memilih tidak menanam padi karena banyak mengeluarkan modal lebih banyak, dirinya menafsir jika diambil untung tidak banyak lantaran harga gabah tetap tidak bakalan naik.

Eko memilih menanam jagung karena biaya produksinya lebih murah dan bisa ditekan, sebab menurutnya bisa menggunakan pupuk dan pestisida organik tidak harus menggunakan pupuk subsidi atau non subsidi. Musim tanam tahun ini tanaman jagung miliknya tidak lagi memakai pupuk subsidi, dirinya mencoba beralih menggunakan pupuk organik tetapi hasil panennya malah merugi karena belom paham bagaimana teori menggunakan pupuk organik.

“Karena pupuk subsidi tidak ada, musim tanam saat ini saya mencoba memakai pupuk organik. Tetapi tidak seperti yang saya harapkan. Tanaman jagung saya malah tidak produktif, daun dan pohonnya banyak yang kuning kering dan mati,” keluh Eko.

Ketika umur tanaman jagung akan memasuki masa panen, pada saat itu hanya dipupuk memakai pupuk organik maka tanaman banyak yang mati sehingga musim pengen tahun ini Eko tidak lagi mendapat untung bahkan tambah merugi.

Sementara, info saat ini pupuk subsidi semua jenis masih saja kosong, seperti diwilayah Kecamatan Cluring disebagian kios mengaku belom ada datang bahkan pupuk non subsidi saja jumlahnya sudah mulai berkurang.

YD, pemilik kios mengaku sampai sekarang pupuk subsidi semua jenis masih kosong,” sampai hari ini masih kosong, belom ada mas.” Terangnya.

Stok pupuk subsidi tahun 2021 dan 2022 tercukupi didistribusikan ke kios yang mempunyai e RDKK, langkahnya pupuk subsidi dikios – kios saat ini menjadi pertanyakan petani dan semua pihak.

Cerita petani, pupuk subsidi tidak ada lagi dikios, tetapi kata Kadis Pertanian dan Pangan Banyuwangi, pupuk subsidi sudah terpenuhi. Sulitnya pengawasan membuat Mujiono (Sekda Banyuwangi) dan juga ketua Komisi Pengawasa Pupuk bersubsidi dan pestisida Banyuwangi enggan komentar.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, M.Khoiri menyebut jika pupuk subsidi di infokan tidak ada dikios baginya sangat mustahil karena sampai saat ini pendistribusi sudah dilakuakan tetapi yang mendapatkan kusus yang punya e RDKK.

Khoiri menyebut, jika ada kios yang nakal menghilangkan kuota pupuk subsidi maka petani diharap melaporkan ke komisi pengawas pupuk dan pestisida atau ke Polisi, petugas segera menindak tegas.

“Ini kita sedang input e RDKK keperluan tahun 2023, jika ada kios yang nakal laporkan ke saya akan saya geser,” tegas M.Khoiri menjelaskan kepada Jurnalnews.com.

Khoiri menambahkan, kuwota pupuk subsidi yang distribusikan ke kios sudah mencukupi itu pun sudah sesuai e RDKK, kios yang tidak mempunyai e RDKK tidak diperbolehkan menjual pupuk bersubsidi.

“kuwotanya sudah mencukupi Urea alokasi kita banyaknya 47 ribu ton sesuai usulan e RDKK, kemudian alokasi dari menteri pertanian 56 ribu ton sudah 100 ton lebih, cukup sebenarnya itu untuk yang kusus disubsidi saja. itu sesuai e RDKK yang masuk.” Jelasnya.

Meski begitu, pupuk subsidi sampai saat ini dikios belom tampak ada. Ada apa ini, apakah kuwota yang diberikan dari distributor yang berkurang atau kios asal menjual kepada petani tidak memakai data e RDKK, sehingga kuwota yang seharusnya cukup menjadi berkurang, maka sejak bulan Juli pupuk subsidi mulai langka sampai sekarang. (Ron//JN).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *