oleh

Diskusi Kelompok Terpumpun Upaya Pemkab Banyuwangi Dukung Revitalisasi Bahasa Osing

Bahasa memang berfungsi sebagai alat atau sarana seorang individu berkomunikasi dengan individu lainnya. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman fungsi bahasa menjadi sebuah hal yang penting pula untuk dibahas.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sebagai tuan rumah sangat mendukung penuh Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) Revitalisasi Bahasa Osing yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Jawa Timur dengan mengundang berbagai elemen masyarakat bertempat di Gedung Minak Jinggo Pemkab Banyuwangi Jl. A. Yani, pada Selasa 28 Maret 2023.

IMG-20230329-WA0013

Dalam kegiatan yang berlangsung sejak pukul 13.00 WIB ini, DR. Umi Kulsum, M.Hum selaku Kepala Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) menyampaikan bahwa diskusi ini diharapkan menghasilkan modul yang sangat bermanfaat bagi pengembangan Bahasa Osing di Banyuwangi.

Program revitalisasi bertujuan untuk menjamin keberlanjutan bahasa daerah. Bahasa daerah dianggap sebagai identitas dan kekayaan Indonesia, sehingga harus dipastikan tetap lestari.Bahasa daerah tidak boleh punah. Bagaimanapun bahasa daerah merupakan salah satu kekayaan bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan, papar Umi Kulsum.

IMG-20230329-WA0007

Umi menyampaikan juga bahwa diskusi ini menghasilkan pra modul yang sangat bermanfaat bagi pengembangan Bahasa Osing di Banyuwangi. Dengan demikian, keberadaan bahasa daerah tetap terjaga sebagai warisan budaya bangsa Indonesia, tambahnya.

Pada acara pembukaan, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Banyuwangi yang dilakukan oleh Drs. Dwi Yanto, MM, Kepala Dinas Pendidikan Suratno, S.Pd, M.Pd serta Kepala Pusat Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jawa Timur, DR. Umi Kulsum, M.Hum, Ketua Dewan Kesenian Blambangan, Hasan Basri, Ketua KKG SD, Ketua MGMP Bahasa Osing SMP, Tujuh Ketua Komunitas.

Selanjutnya melalui saluran virtual, Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra Drs. Imam Budi Utomo menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan lebih banyak para penulis berbahasa daerah. Jangan sampai bahasa daerah mengalami kepunahan , menyatir juga apa seperti yang pernah disampaikan Mendikbudristek Nadiem Makarim bahwa kepunahan bahasa berarti kehilangan identitas dan juga kebinekaan.
Mendikbudristek mengingatkan kepada seluruh masyarakat bahwa melestarikan bahasa adalah tanggung jawab bersama.

Selain itu, program ini juga merupakan bagian dari Merdeka Belajar ke-17 yang berfokus pada upaya revitalisasi bahasa daerah.

Mewakili Bupati Banyuwangi, Dwi Yanto menyampaikan bahwa saat ini juga Kementerian Agama telah menerbitkan Al-Quran terjemah Bahasa Osing

“Sebenarnya banyak upaya-upaya untuk merevitalisasi bahasa Osing. Salah satunya yaitu dengan memberikan pelajaran bahasa Osing yang diharapkan dapat merevitalisasi bahasa Osing di sekolah tingkat SD dan SMP. Bahasa Osing perlu diajarkan, supaya bahasa Osing tidak menjadi asing di daerahnya sendiri. Sudah saatnya pembelajaran bahasa memberi pemahaman pada pelajar atau anak-anak muda dan warga lainnya, jangan hanya karena belajar bahasa Inggris, rasa bangga pada bahasa daerah sendiri pudar atau malah hilang. Memang menguasai bahasa Inggris atau asing memiliki manfaat, tetapi bahasa Osing juga perlu untuk menjaga eksistensi bahasa Osing, “urai Dwiyanto

Dwiyanto menambahkan, revitalisasi bahasa daerah bertujuan untuk menjadikan penutur muda menjadi penutur aktif bahasa daerah. Revitalisasi ini dipandang sebagai upaya penting untuk melestarikan keragaman bahasa daerah di tanah air.

Program revitalisasi bertujuan untuk menjamin keberlanjutan bahasa daerah. Bahasa daerah dianggap sebagai identitas dan kekayaan Indonesia, sehingga harus dipastikan tetap lestari.Bahasa daerah tidak boleh punah. Bagaimanapun bahasa daerah merupakan salah satu kekayaan bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan.

Para maestro yang hadir saat ini adalah para ahli dibidangnya yang akan mengajarkan Bahasa Osing di Sekolah. Kedepan akan ada pelatihan 60 guru SD dan SMP untuk selanjutnya menjadi fasilitator bahasa Osing oleh para ahli dibidangnya diantaranya oleh 7 maestro terpilih yakni Adapun 7 maestro yang telah terpilih yaitu, 1. Wiwin Indiarti (Nembang/Mocoan Lontar), 2. Antariksawan Yusuf (Baca-tulis Using), 3. Abdullah Fauzi (Cerpen Using), 4. Slamet Penyet (Mendongeng), 5. Nany Asiyani (Pidato Basa Using), 6. Eko Budi Setianto (Puisi Using), 7. Ali Kenthus (Stand up Komedi Using), melalui modul yang akan mereka persiapkan bersama untuk mengajarkan Bahasa Osing di Sekolah yang selanjutnya wajib mendiseminasikan kepada kelompok atau guru lain. Revitalisasi ini akan dilakukan secara berkelanjutan dan dimonitoring secara berkala

Salah satu peserta Syafaat dari komunitas Lentera Sastra menyampaikan bahwa banyak cara yang dapat dilakukan untuk melestarikan Bahasa Daerah, seperti menulis dan membaca puisi, menyanyi, menulis cerpen maupun novel Bahasa Daerah dan lain-lain, pelestarian Bahasa Osing bukan berarti meng-osing-kan seluruh warga Banyuwangi yang dihuni berbagai macam etnik yang mempunyai bahasa daerah sendiri, Suku Osing yang berjumlah 20 % dari penduduk di Kabupaten Banyuwangi mempunyai ciri khas tersendiri.

“Kita jangan memaksakan kesamaan atas perbedaan atau memaksakan adanya perbedaan dari suatu yang sama, ” tambah Syafaat.

Sementara Wowok Meirianto menyampaikan, Kami berdua (saya dan Joko) yang mewakili KOPAT, sudah menanyakan apa yang menjadi concern teman-teman tentang istilah Bahasa Jawa Dialek Osing. Sudah kami sampaikan secara terpelajar, sabar, dan tidak emosi. Juga telah dijawab dengan beralasan dan santun.
Kami di Banyuwangi tetap mengatakan sebagai Bahasa Osing.

IMG-20230329-WA0008

Kedepan proyek revitalisasi akan terus berjalan, menciptakan master-master, guru-guru, dan praktisi bahasa Osing untuk mengajar, mengarang lagu/puisi, serta bertutur kata Osing.

“KOPAT sebagai Komunitas, tentunya akan mendukung dan melakukannya. Para master akan dilatih, untuk menghasilkan guru-guru bahasa Osing. Guru-guru akan mengajar siswa. Penulis, pencipta lagu, youtuber, artis diberi kesempatan menciptakan karya Usingan. Praktisi/Komunitas juga diberi ruang untuk menuturkan bahasa Osingnya, festival-festival Osing akan diselenggarakan. Bukankah ini juga akan berdampak pada putaran ekonomi atau multiplier effect pada semua lapisan,  “pungkas Wowok.(Ilham Triadi)

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *