BANYUWANGI, Jurnalnews – Semangat syukur memenuhi udara Desa Sraten, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, dalam peringatan HUT RI ke-78. Pemerintah Desa Sraten dengan semangat gotong-royong menginisiasi Pawai Karnaval sebagai bagian dari rangkaian perayaan yang menggembirakan.
Ketua panitia, yang diwakili oleh sekretarisnya, Saipul Bahri, menjelaskan bahwa pada kesempatan kali ini, dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-78, mereka telah merencanakan perlombaan pawai karnaval dengan tema beragam kostum. Kostum-kostum yang dihadirkan termasuk kostum petani, kostum nelayan, kostum ustadz dan ustadzah, kostum guru, kostum kades, pakaian adat, seragam TNI, POLRI, dan masih banyak lagi.
“Kegiatan ini diikuti oleh berbagai kelompok, termasuk 5 kelompok pelajar tingkat TK dan 5 kelompok pelajar SD. Selain itu, terdapat 25 kelompok peserta dari masyarakat umum. Namun, kelompok peserta dari SMP dan SMA tidak berpartisipasi karena berada dalam lingkungan pondok pesantren,” ujar Saipul Bahri.
Konsep dari karnaval ini sendiri mengusung semangat “Bhinneka Tunggal Ika” yang menampilkan keberagaman budaya dan tema perjuangan. Rute karnaval melintasi jarak sekitar 4,5 kilometer, dimulai dari Dusun Krajan dan berakhir di Dusun Sukodadi. Acara dimulai pada pukul 12.00 WIB. Meski demikian, peserta dari kelompok TK hanya menempuh jarak sekitar 2 kilometer.
“Karnaval ini merupakan yang pertama kali diadakan, dan kami yakin akan menjadi acara yang meriah dan menggemparkan, menarik banyak penonton,” tambahnya.
Dengan penuh semangat, Pawai Karnaval Desa Sraten bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sarana untuk menghargai dan merayakan keberagaman budaya serta semangat perjuangan bangsa. Acara ini diharapkan akan menciptakan suasana yang penuh kegembiraan dan inspirasi, serta mengukuhkan ikatan sosial di antara warga Desa Sraten dalam semangat menuju Indonesia yang lebih baik.

Sementar itu, salah seorang warga Jauhari, mengaku telah merasakan kegembiraan yang tak terlupakan. Hingga saat ini, kenangan indah itu masih terus menggelora, seiring dengan impian yang telah mendarat di lubuk hatinya. Namun, di tengah-tengah riuh rendahnya kehidupan desa, terdapat satu hal yang belum pernah terwujud: karnaval Agustusan, suatu perhelatan yang ia selalu idamkan.
“Selama hayatku, tak pernah kulihat karnaval Agustusan digelar di kampung tempatku dibesarkan. Betapa senangnya hatiku, Mas,” ujarnya.
Dalam benaknya, harapan telah berkembang subur, mengingatkan akan keindahan dan keceriaan yang mungkin bisa dibagikan bersama. Namun, seperti layaknya awan hitam yang datang tanpa diundang, ada kenyataan bahwa ia masih terbelit tanggung jawab yang mendesak.
“Jika suatu hari nanti, mimpiku menjadi nyata, dan karnaval itu akhirnya diadakan, aku pasti akan menjadi bagian darinya. Meski saat ini belum bisa, karena masih ada urusan tak terduga yang menuntut perhatianku,” terangnya dengan tulus.
Dalam kata-kata itu, terpancar tekad yang tak tergoyahkan, meski kewajiban yang tak terduga masih memagut waktunya.
Di balik semua itu, ada harap yang membara dan semangat yang tak pernah padam. Ia tahu, suatu hari nanti, ia akan berjalan bersama dalam barisan karnaval, sambil membawa cerita indah dari masa kanak-kanaknya yang mempesona. Dengan setiap hela nafasnya, ia siap untuk merangkul masa depan yang cerah, sambil tetap memeluk akar dan jejak perjalanan hidupnya.
Penulis : Rony Subhan.


Komentar