Apakah dengan melalui praktik literasi, para TKW menjadi sosok yang lebih pintar, terdidik dan berpengetahuan? Apakah para TKW yang tidak membaca dan menulis, yang tidak akrab dengan buku, yang tidak kenal dengan perpustakaan, yang tidak turut berdiskusi tentang esai, prosa dan sastra adalah TKW yang bodoh, terbelakang dan mudah menjadi sasaran kejahatan?
Apakah dunia literasi itu? Jangan-jangan literasi hanya sebuah mitos? Literasi berasal dari istilah latin “literature” dan bahasa Inggris “letter”. Literasi yang kita kenal selama ini merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf / aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Sedangkan produk dari aktivitas literasi adalah berupa tulisan.
Benarkah literasi adalah tiket untuk menjadi masyarakat yang beradab? Benarkah para TKW yang melek literasi menjadi sosok yang lebih percaya diri, lebih mandiri dan siap terjun ke masyarakat kembali?
Saya melihat para TKW yang tidak berpraktik literasi atau baca tulis, bisa belajar dari pengalaman orang lain yang lebih berhasil, misalnya dengan bertanya atau mengamati. Tidak melulu belajar dari tulisan. Mereka bisa belajar dari siapa saja dan di mana saja. Para TKW yang tidak berliterasi bisa jadi sangat literate dalam kewirausahaan, berkesenian, bermain saham dan properti. Dan bisa saja para TKW yang berliterasi menjadi tidak berani mengambil langkah karena banyak pertimbangan-pertimbangan yang diakibatkan terlalu banyak mikir.
Seperti halnya dengan sosok-sosok di masyarakat yang tidak terlalu suka membaca dan menulis. Bisa jadi mereka adalah pribadi-pribadi yang amat literate di wilayahnya. Kita bisa mengamati sosok-sosok ini yang mungkin buta aksara, namun semangat literate dalam membaca bagaimana semesta bekerja, paham dalam membaca alam yang memberikan feed back atas usaha-usaha yang dilakukannya, menguasai life skill, bijaksana, dan menjadi teladan dalam budi pekerti.
Apakah kita tetap yakin bahwa dunia literasi adalah satu-satunya jalan menuju masyarakat yang beradab? Bahkan bisa jadi masyarakat yang tidak berliterasi lebih beradab daripada masyarakat yang berliterasi, yang kerap perang konsep, doktrin, dan bahasa? Sama halnya dengan guru atau bukan guru, apa bedanya? Bukan guru bisa lebih “guru” daripada guru itu sendiri. Atau orang yang tidak beragama bisa jadi lebih “beragama” daripada orang yang taat agama. Jika demikian, benarkah literasi benar-benar hanya mitos belaka?
Lalu bagaimana dengan peradaban? Bukankah masa prasejarah dan masa sejarah ditandai dengan adanya tulisan? Tulisan berfungsi untuk merawat ilmu, memudahkan komunikasi antar manusia, mengetahui pemikiran para filsuf bahkan nabi. Sehingga akan membentuk kesadaran yang mencerahkan dan mencerdaskan. Untuk itu kita wajib berterimakasih kepada tulisan.
Dengan demikian sangat disayangkan sosok-sosok yang literate tersebut jika tidak melek literasi (baca: menjadi penulis). Seperti kata Pramoedya Ananta Toer:”Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. “
Demikian juga dengan para TKW, boleh saja mereka cerdas dalam mengelola uangnya, piawai dalam bermain saham dan properti serta pintar dalam berkesenian dan berwirausahanya. Namun jika tidak menulis, nama mereka tidak akan dikenal dalam masyarakatnya. Mereka tenggelam dalam sejarah dan dunia.
Literasi mungkin bukan satu-satunya jalan menuju masyarakat yang beradab. Kita ambil contoh Suku Badui, Suku Eskimo, dan suku pedalaman lainnya yang ramah dan lebih bisa menghormati alam lingkungan daripada masyarakat yang lebih melek huruf sekalipun. Tapi bagaimana pun peradaban bangsa ditentukan oleh melek literasi masyarakatnya yang seharusnya lebih beradab. Dengan melek literasi seharusnya lebih paham dan mengerti tentang segala hal, sehingga lebih paham bagaimana seharusnya memperlakukan sesuatu, bukan malah merusaknya.
Hanya berterimakasih kepada tulisan? Saya rasa tidak cukup. Kita harus ambil bagian sesuai dengan latar belakang kita untuk menghasilkan produk literasi, yaitu tulisan. Kita harus ikut serta dalam menyumbang ide atau gagasan. Kita harus berpartisipasi dalam memajukan peradaban. Dan kita kudu turut andil dalam bekerja untuk keabadian.
Saya yakin, jika semakin banyak para TKW yang berliterasi, mereka akan menjadi contoh yang baik dalam masyarakatnya. Contoh yang bagus, karena keberadaan mereka yang dianggap terbelakang dan kurang berpendidikan. Akan ada anggapan bahwa “Para TKW yang kesehariannya berkutat dengan kain pel, sapu, dan penggorengan saja bisa, mengapa kita tidak?” Terlebih yang kesehariannya berkutat dengan buku dan ilmu pengetahuan. Tentu hal ini akan menjewer mereka, kaum intelektual yang tidak suka baca dan menulis buku. Sebuah ironi di dalam dunia literasi kita. Bahwa masih banyak para guru, dosen bahkan yang sudah professor sekalipun yang mengaku “pusing” membaca buku apalagi menulis. Mereka hanya mengajarkan apa yang sudah mereka pelajari dan apa yang sudah diketahui, namun tidak ikut andil dalam memperkaya pengetahuan itu sendiri. Sangat disayangkan.
Masih meragukan dunia literasi? Literasi sendiri bukanlah sebuah mitos. Literasi adalah dunia yang membuat masyarakatnya lebih maju, cerdas, kritis dan beradab yang tidak akan bisa diadu domba oleh golongan-golongan tertentu. Literasi yang sesungguhnya membuat kita saling menghormati satu sama lain yang akan membuat dunia nyaman kita huni.
Salam Literasi!(*)
Eni Kusuma, Mantan TKW Hong Kong, Penulis buku “Anda Luar Biasa!!!”, “Mitra Kerja Tanpa Pamrih”, “Karate in You”, “Karate with You, Peraih Penghargaan Tupperware “She Can Award” 2009 dan Liputan 6 SCTV Award 2015 sebagai Tokoh Inspiratif di bidang Sosial Pendidikan, Pendiri Bimbel “Rumah Cerdas”, Pendiri Sekolah (Gratis) Paud “Melati”, Seorang karateka, Pendiri Dojo Karate Laskar Arum & Jurnalis Inkai Jatim.


Komentar