oleh

Pawartawangi Temu Kangen Blitaran di Banyuwangi

Banyuwangi, Jurnalnews.com – Di rumah bu Menik di belakang Balai Kelurahan Kalipuro dan depan Mts Darusalam ada sekitar 45 lansia yang gayeng bercengkerama menikmati pasugatan polo pendem dan kuliner tradisional sambil gendingan, Minggu, 18 Mei 2025.Ya mereka dari Paguyuban Warga Blitar Di Banyuwangi (Pawartawangi) yang tiap minggu ketiga anjangsana ke rumah anggota. Bisa jadi anggota paguyuban yang lahir tanggal 12 April 1992 ini yang giliran tuan rumah ditempatkan di warung yang sediakan sarana karaoke.

Menurut Soehari Soekotjo (86) dan Edi (67), paguyuban terbentuk tahun 1992 dengan nama Paguyuban Blitaran dengan anggota 200 orang. Mayoritas Guru dan PNS Pemda maupun pegawai BUMN seperti Bulog walau terbuka untuk semua kalangan sanak kadhang. “Ada 1 pendiri seorang tentara namanya Soetomo, ” jelas Soehari yang begitu diangkat jadi PNS Guru ditempatkan di SDN Gombengsari di dalam persil Perkebunan Kaliklatak di era Orde Baru.
Sejak tahun 2012 begitu banyak yang pensiun ajak sesama pensiunan yang tergabung di PWRI, Gerontologi, Gotongroyong’45 ataupun di sanggar seni Karawitan ataupun Keroncong untuk ikut nimbrung.Maka yang asal Kediri, Madiun, Ponorogo, Jepara,Madura dan urban Jawa di Bali dan netap di Banyuwangi ikut. Dan sejak 2011 nama Paguyuban Blitaran jadi Pawartawangi.

Saat media ini hadir di pertemuan Bu Menik, acara diawali nyanyi Langgam Blitar yang disana cerita Pahlawan Supriyadi dan Gunung Kelud disambung Langgam Bung Karno yang kisahkan tokoh proklamator tersebut. Baru ada sambutan tuan rumah, ketua, penasehat dan kultum disambung doa. Diakhiri langgam pamungkas. Dipungkasi ramah tamah dan undian 10 Doorprize.

Ketua Pewartawangi Sujianto dengan bahasa Jawa halus dan penuh guyonan ungkapkan makna silaturahmi rutin yang nguri-nguri leluhur untuk keluhuran bangsa. Dan berkesan pertemuan bulan April dengan tuan rumah Hj Nurul Mujib di Perum Pengatigan Indah Busek yang agendanya Dirgahayu Pawartawangi ke-33, Hari Kartini sekaligus Halal bihalal.
Disambung oleh Hj Sukarsih bahwasanya Pawartawangi ini menganggap Bulan Juni adalah istimewa karena bulan Bung Karno. “Maka kami mengundang jenengan sedoyo dan kabarkan ke seluruh keluarga besar untuk hadir pada minggu ketiga bulan Juni, 15 Juni, di rumah sesepuh Paguyuban sekaligus beliau ambal warso ke 91 H. Soesanto. Juga kami harap Bung Aguk Darsono dari Forum Pembauran Kebangsaan berkenan hadir kembali, ” tutur pensiunan guru SDN Kabat yang nama udaranya di komunitas fans radio dan keroncong yakni Bu Sari Gitik Kediri ini.
H Soesanto mantan kepala SMPN 1 Rogojampi dan Mantan Ketua Paguyuban Gerontologi Abiyoso.

Saat Kultum H. Markatib yang tempat kelahiran sama dengan pahlawan wanita RA. Kartini ungkapkan tentang syair lagu balada lansia hingga kenapa kakek dan nenek disebut eyang dan kisah Nabi Ibrahim dengan hati-hati bila ber nadzar. “Bila mampu ayo berhaji atau berqurban atau senanglah berbagi sedekah, ” ungkap kakek yang kini tinggal di Desa Bengkak Wongsorejo ini. (AWN/YC/JN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *