oleh

Mahasiswa UI Selenggarakan “K3FUN” di SMPN 63 Jakarta: Wujudkan Sekolah Siaga Bencana Lewat Pembelajaran Interaktif

Jakarta, 1 November 2025 — Mahasiswa Universitas Indonesia di bawah bimbingan Abdul Kadir, S.K.M., M.Sc. melaksanakan kegiatan K3FUN (Fun Based Learning for Fire & Emergency Preparedness) di SMP Negeri 63 Jakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Hibah Kepedulian Masyarakat yang diinisiasi oleh Direktorat Kemahasiswaan Universitas Indonesia, sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam penerapan ilmu K3 di masyarakat.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh 10 mahasiswa Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), 2 mahasiswa Sistem Informasi, serta 10 volunteer mahasiswa K3, yang berkolaborasi untuk mewujudkan lingkungan sekolah aman dan tanggap bencana. Program K3FUN bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa terhadap pentingnya keselamatan, kesehatan, dan kesiapsiagaan bencana di sekolah. Melalui kegiatan ini, siswa diajak mengenali fasilitas keselamatan, memahami prosedur evakuasi, serta berlatih menghadapi kondisi darurat secara langsung.

Rangkaian kegiatan dilaksanakan dalam tiga hari, yaitu 10 Oktober, 18 Oktober, dan 1 November 2025, dengan fokus pembelajaran yang berbeda di setiap pertemuan.
Kegiatan hari pertama (10 Oktober 2025) diawali dengan pembukaan dan sambutan dari Ketua Pelaksana, Zainah Nurhayati, serta Kepala Sekolah SMPN 63 Jakarta, Ibu Lilis Nurhayati, yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa UI dalam menanamkan budaya keselamatan sejak dini.

Rangkaian kegiatan meliputi seminar, sosialisasi interaktif, dan simulasi evakuasi. Pada sesi seminar “Apa Itu K3 dan Mengapa Penting?”, volunteer dari mahasiswa K3 UI menjelaskan konsep dasar keselamatan dan pentingnya perilaku aman dalam kegiatan sehari-hari. Para siswa tampak sangat antusias dan aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, dan menjawab pertanyaan seputar K3.

Kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi interaktif melalui infografis, fire alarm, dan fasilitas keselamatan yang telah dipasang di lingkungan sekolah. Para siswa dibagi dalam kelompok kecil dan diajak berkeliling untuk mengenali rambu evakuasi, titik kumpul, serta fungsi alat keselamatan seperti APAR dan alarm gempa yang berada di sekolah. Pendekatan ini mendorong siswa belajar langsung dari lingkungan sekitar dan memahami arti setiap tanda keselamatan secara kontekstual.

Sesi terakhir diisi dengan simulasi terpadu evakuasi gempa dan kebakaran yang melibatkan para siswa. Dalam simulasi ini, peserta dibagi ke dalam beberapa tim yang tersebar di berbagai area sekolah, seperti aula, kantin, lapangan dalam, hingga gerbang belakang. Setiap tim dipandu oleh instruktur mahasiswa yang berperan sebagai komandan wilayah, petugas keamanan, floor warden, tim APAR, serta tim P3K. Skenario dimulai dengan pengumuman resmi oleh petugas keamanan yang menginformasikan terjadinya gempa bumi. Siswa diarahkan untuk melakukan prosedur Drop, Cover, and Hold On, kemudian melakukan evakuasi menuju titik kumpul setelah “guncangan” berhenti. Tak lama berselang, skenario berlanjut dengan munculnya kebakaran di area kantin, di mana tim APAR bergegas melakukan pemadaman ringan dan tim P3K mengevaluasi siswa yang seakan-akan mengalami luka ringan maupun kepanikan. Seluruh komunikasi antar petugas dilakukan secara real-time melalui handy talky (HT), meniru situasi darurat yang sebenarnya. Simulasi ditutup dengan sesi evaluasi oleh koordinator yang menegaskan pentingnya kerja sama, komunikasi, dan ketenangan dalam menghadapi keadaan darurat.

Setelah sukses menyelenggarakan kegiatan edukatif dan simulasi bencana pada hari pertama, mahasiswa Universitas Indonesia melanjutkan rangkaian program K3FUN di SMP Negeri 63 Jakarta pada 18 Oktober 2025 dengan fokus pada pelatihan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K). Kegiatan hari kedua ini bertujuan memperkuat keterampilan teknis siswa dalam menghadapi keadaan darurat, sekaligus mengintegrasikan pembelajaran interaktif yang menyenangkan dengan penerapan langsung di lapangan.

Pelatihan dibagi menjadi dua sesi utama, yaitu Pelatihan APAR yang diikuti oleh 30 peserta dan Pelatihan P3K dengan 20 peserta. Seluruh kegiatan berlangsung di aula dan ruang kelas SMPN 63 Jakarta dengan bimbingan para instruktur dari Kantor Keselamatan Direktorat Kesejahteraan Kampus Universitas Indonesia. Dalam pelatihan APAR, peserta mendapat materi tentang kebencanaan, penanggulangan kebakaran, gempa, dan penggunaan APAR yang dipandu oleh Devi Partina Wardani, Nida Hanifah Nasir, dan Qurotul Ayuni. Peserta diperkenalkan pada jenis-jenis APAR, teknik pemadaman ringan, serta prosedur tanggap darurat ketika terjadi kebakaran di lingkungan sekolah. Namun, praktik APAR secara langsung tidak dapat dilakukan karena beberapa pertimbangan di antaranya lapangan sekolah yang tertutup plafon sehingga berpotensi menahan asap api dan mengganggu sirkulasi udara, ramainya warga sekolah dan padatnya lingkungan sekitar yang dapat terganggu oleh asap maupun isi APAR, serta jadwal yang bersamaan dengan kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) sekolah.

Sementara itu, sesi Pelatihan P3K berlangsung bersamaan dan difasilitasi oleh Heri Jamal, Gumi Mani Saputra, Dewi Mega Sari, Sugino, dan Malik Ibrahim. Materi difokuskan pada Bantuan Hidup Dasar (BHD), fiksasi imobilisasi korban, serta lifting and moving, yaitu teknik memindahkan korban secara aman tanpa menimbulkan cedera tambahan. Seluruh siswa terlihat antusias mempraktikkan langkah-langkah dasar resusitasi jantung paru (RJP) menggunakan manekin dan belajar menggunakan peralatan pertolongan pertama sederhana yang tersedia di sekolah.

Menjelang siang, kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan sertifikat kepada pihak Kantor Keselamatan Direktorat Kesejahteraan Kampus Universitas Indonesia sebagai bentuk apresiasi atas dukungan dan kolaborasi dalam pelaksanaan program. Melalui pelatihan APAR dan P3K ini, mahasiswa UI berharap dapat memperkuat kemampuan kesiapsiagaan bencana di sekolah serta menanamkan kebiasaan tanggap dan sigap menghadapi situasi darurat.
Rangkaian kegiatan diakhiri pada 1 November 2025. Acara dibuka oleh Zainah Nurhayati selaku PO K3FUN, Abdul Kadir, S.K.M., M.Sc., selaku dosen pembimbing, serta Nur Syamsi, S. Ag, selaku Humas Kesiswaan SMPN 63 Jakarta, yang bersama-sama memberikan apresiasi atas semangat dan antusiasme seluruh peserta.

Kegiatan diawali dengan ice breaking Ular Tangga K3, permainan edukatif yang menggabungkan konsep keselamatan dalam bentuk board game. Setiap petak berisi pertanyaan dan pesan K3, mendorong siswa untuk memahami bahaya, prosedur tanggap, dan langkah pencegahan melalui pendekatan yang menyenangkan.

Selanjutnya, mahasiswa memperkenalkan safety induction melalui pemutaran video edukatif hasil pengembangan tim. Video ini menyajikan pengenalan dasar K3 di sekolah, prosedur evakuasi darurat, tindakan keselamatan dan pertolongan pertama, serta arti simbol dan rambu keselamatan. Visualisasi jalur evakuasi dan titik kumpul aman juga disertakan untuk membantu siswa memahami langkah-langkah menghadapi keadaan darurat. Materi tersebut nantinya akan disebar dan dapat diakses melalui QR Code di setiap ruang kelas, sehingga siswa dan guru dapat menonton ulang secara mandiri.

Sesi berikutnya adalah BrightSafe, yaitu inovasi pembelajaran berbasis teknologi yang menggabungkan buku interaktif dan permainan kartu edukatif. Buku Si Api dan Tiga Teman Rahasianya mengajarkan konsep segitiga api, jenis-jenis APAR, dan tindakan pencegahan kebakaran melalui teknologi Augmented Reality (AR). Setelah membaca, siswa memainkan kartu BrightSafe yang terdiri dari empat warna: merah (situasi), hijau (solusi), kuning (waspada), dan biru (fakta). Dengan bimbingan fasilitator, siswa memadukan kartu untuk menyelesaikan skenario keselamatan, sehingga pembelajaran menjadi aplikatif sekaligus menyenangkan.

Kegiatan dilanjutkan dengan K3Talent, di mana siswa menampilkan berbagai karya bertema keselamatan melalui penampilan kreatif. Sebagai penutup, dilaksanakan pemilihan Duta K3 SMPN 63 Jakarta, yang dipilih berdasarkan keaktifan selama kegiatan. Zaneta Elaia dan Emir Marden Mufasa dari kelas 9 terpilih sebagai Duta K3. Keduanya diharapkan menjadi agen perubahan dalam menumbuhkan budaya keselamatan di lingkungan sekolah serta menjadi teladan bagi para siswa dalam menerapkan perilaku aman dan tanggap darurat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat dan pengetahuan yang telah diberikan dapat terus diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah. Dengan adanya Duta K3, nilai-nilai keselamatan dan kesiapsiagaan dapat dijalankan secara nyata oleh seluruh siswa, sehingga budaya K3 menjadi bagian dari keseharian di SMPN 63 Jakarta. (Miskawi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *