oleh

Jejak Pengabdian Tanpa Batas, Dua Sekdes di Wongsorejo Pamit dengan Haru

Banyuwangi, Jurnalnews.com – Suasana haru menyelimuti dua desa di Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi. Dua sosok yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dalam roda pemerintahan desa, Sekretaris Desa Sidodadi dan Sekretaris Desa Bajulmati, bersiap mengakhiri masa pengabdiannya pada pertengahan April 2026.

Adalah Moh. Rosyidi, Sekretaris Desa Sidodadi, yang telah mengabdikan diri lebih dari tiga dekade. Sosok yang dikenal tekun dan bersahaja ini akan resmi purna tugas pada 15 April 2026. Selama lebih dari 30 tahun, Rosyidi telah melewati dinamika pemerintahan desa bersama empat kepala desa, menjadi saksi sekaligus pelaku perubahan di desanya.

“Alhamdulillah, tinggal menghitung hari. Insyaallah setelah purna saya akan bertani, kebetulan punya sedikit lahan,” ujarnya kepada Jurnalnews, Senin (6/4), dengan senyum penuh ketenangan.

Bagi Rosyidi, pengabdian di desa bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati. Ia menitipkan pesan mendalam kepada generasi penerus agar bekerja dengan niat tulus membangun desa sendiri.

“Kalau bekerja di desa, harus punya rasa memiliki. Desa ini milik kita bersama, jadi harus dipikirkan kemajuannya,” pesannya.

Sementara itu, Sulaiman, Sekretaris Desa Bajulmati, juga akan mengakhiri masa tugasnya pada 12 April 2026. Lebih dari 20 tahun ia mengabdi, meniti karier dari posisi sederhana hingga dipercaya menjadi sekretaris desa.

Dengan penuh kerendahan hati, Sulaiman menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat dan rekan kerja atas segala kekurangan selama menjalankan tugas.

“Insyaallah beberapa hari ini saya sudah purna. Dengan segala kekurangan saya selama mengabdi, saya mohon maaf kepada seluruh perangkat desa dan masyarakat Bajulmati. Mungkin pelayanan yang saya berikan belum maksimal,” ungkapnya. Saat ditemui Di ruang kerjanya, Selasa, (7/4).

Ia juga menitipkan harapan besar kepada perangkat desa yang masih aktif, khususnya generasi muda, agar terus menjaga integritas, kekompakan, dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

“Semoga pengganti saya nanti bisa lebih baik, lebih sabar, dan sigap dalam melayani warga,” pesannya.

Kepergian dua figur ini meninggalkan jejak panjang pengabdian yang tak ternilai. Dedikasi mereka menjadi inspirasi bahwa membangun desa tidak selalu harus dengan hal besar, tetapi dengan ketulusan, konsistensi, dan rasa cinta terhadap tanah kelahiran.

Di tengah perubahan zaman, kisah mereka menjadi pengingat bahwa pengabdian sejati akan selalu dikenang, meski waktu terus berjalan. (Venus)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *