LSP Perkerisan Indonesia Dorong Transformasi Digital Budaya Keris Pada Hari Keris Nasional 2026 Digelar di Malang. Acara tersebut diproyeksikan menjadi magnet bagi pecinta budaya, kolektor, hingga akademisi perkerisan dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi lintas lembaga, antara lain Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Bakorwil III Malang, komunitas pelestari tosan aji, serta LSP Perkerisan Indonesia.
Berbagai agenda akan ditampilkan dalam kegiatan ini, mulai dari pameran keris milik Presiden RI Prabowo Subianto, koleksi pusaka Menteri Kebudayaan RI, pusaka Garuda Nuswantoro, hingga pameran tosan aji yasan enggal. Selain itu, pengunjung juga dapat mengikuti bursa koleksi, serta menyaksikan prosesi budaya seperti jamasan dan mewarangi pusaka yang sarat nilai filosofi dan spiritualitas.
Direktur LSP Perkerisan Indonesia, Agung Guntoro Wisnu, S.Ak, mengatakan bahwa momentum ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga langkah strategis dalam memperkuat ekosistem perkerisan berbasis kompetensi.
“Hari Keris Nasional 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat ekosistem perkerisan berbasis standar kompetensi nasional. Selain itu, pengembangan budaya digital menjadi kunci untuk memperluas akses edukasi, dokumentasi pengetahuan empu, serta membuka peluang ekonomi kreatif di bidang perkerisan,” ujarnya.
Ia menambahkan, digitalisasi di bidang perkerisan dinilai penting untuk menjangkau generasi muda sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya di tengah perkembangan zaman.
Dalam kegiatan ini, KRT. Ilham Triadi Nagoro, selaku Kurator dan Asesor LSP Perkerisan Indonesia, dijadwalkan hadir dalam pembukaan acara mendampingi Direktur LSP.
Menurut Ilham, kegiatan ini memiliki peran penting dalam menjaga nilai autentik budaya keris sekaligus memperluas pemahaman masyarakat.
“Keris bukan sekadar benda pusaka, tetapi juga mengandung nilai filosofi, etika, dan sejarah panjang peradaban. Melalui kegiatan ini, edukasi kepada masyarakat menjadi sangat penting agar pemahaman terhadap keris tidak berhenti pada aspek fisik, tetapi juga nilai-nilai yang dikandungnya,” katanya.
Sementara itu, CEO TosanAji.id, Wahyu Eko Setiawan, selaku salah satu inisiator kegiatan, menilai bahwa kolaborasi lintas komunitas menjadi kunci dalam memperkuat eksistensi budaya perkerisan di era modern.
“Kami ingin menghadirkan ruang kolaborasi antara pelaku budaya, kolektor, akademisi, dan generasi muda. Melalui platform digital, kami mendorong agar perkerisan Indonesia semakin dikenal luas, termasuk di tingkat global,” ujarnya.
Seluruh prosesi budaya dalam kegiatan ini akan melibatkan pelaku perkerisan yang telah tersertifikasi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) melalui LSP Perkerisan Indonesia.
Melalui kegiatan ini, diharapkan peringatan Hari Keris Nasional tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga mendorong penguatan ekosistem perkerisan yang profesional, adaptif, dan berdaya saing di era digital.(Ilham T)


Komentar