oleh

Panen Madu di Alasbuluh Tuai Apresiasi, CDK Banyuwangi Dorong Lahirnya Brand “Madu Osing” Berdaya Saing Nasional

Banyuwangi, Jurnalnews.com – Potensi madu hutan di Kabupaten Banyuwangi semakin mendapat perhatian serius. Tim dari Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Banyuwangi turun langsung ke kawasan HGU perkebunan kapuk di Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Senin (6/7/2026), untuk mengikuti panen madu bersama komunitas peternak lebah Banyuwangi.

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk melihat secara langsung potensi besar usaha perlebahan yang berkembang di kawasan perkebunan randu. Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Banyuwangi, Purwadhi, S.HUT., M.M., memberikan apresiasi atas semangat para peternak yang mampu memanfaatkan lahan perkebunan sebagai sentra produksi madu alami.

Menurut Purwadhi, pengembangan usaha madu tidak bisa hanya mengandalkan kerja keras para peternak. Diperlukan kolaborasi lintas sektor agar potensi tersebut mampu berkembang menjadi produk unggulan daerah yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

“Saya melihat potensi ini sangat luar biasa. Sudah saatnya seluruh pihak duduk bersama menyusun langkah nyata untuk mengangkat Madu Osing sebagai produk khas Banyuwangi. Mulai dari penguatan branding, kemasan, pemasaran hingga perizinan harus disiapkan secara matang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kebutuhan madu di Banyuwangi sebenarnya cukup besar. Karena itu, peluang pasar masih sangat terbuka apabila produk dikemas secara profesional dengan berbagai pilihan ukuran, mulai dari kemasan botol hingga sachet yang menyasar berbagai kalangan masyarakat, termasuk wisatawan dan pecinta alam.

Purwadhi juga mendorong perangkat daerah seperti Dinas Koperasi dan instansi terkait untuk ikut memberikan pendampingan dalam hal desain kemasan, strategi pemasaran, legalitas produk, hingga promosi agar madu lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

“ Pemerintah daerah dapat memanfaatkan produk madu lokal dalam berbagai kegiatan resmi sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku usaha di Banyuwangi sekaligus memperkenalkan madu khas daerah kepada masyarakat.” Katanya. 

Di sisi lain, Purwadhi mengingatkan bahwa usaha perlebahan masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama faktor cuaca dan musim berbunga yang sangat mempengaruhi produksi madu. Di kawasan HGU Alasbuluh, lebah banyak memanfaatkan nektar bunga pohon randu dan tanaman vernonia yang tumbuh di sekitar lokasi.

Karena itu, ia mengusulkan adanya kerja sama yang lebih erat antara peternak lebah dengan pengelola lahan perkebunan. Menurutnya, selain membahas pola kemitraan yang saling menguntungkan, kedua belah pihak juga perlu memperhatikan kelestarian pohon randu melalui perawatan maupun peremajaan tanaman yang sudah tua agar sumber pakan lebah tetap terjaga.

“Kalau pohon randunya dirawat dengan baik dan dilakukan regenerasi terhadap tanaman yang sudah tua, tentu akan berdampak positif terhadap kualitas bunga dan hasil madu. Ini akan menjadi hubungan yang saling menguntungkan antara peternak dan pengelola lahan,” pungkasnya.

(Venus). 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *