Masyarakat dusun Andong yang ada di desa Tamansuruh Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi-Jatim masih tetap melestarikan tradisi yang unik yakni Selamatan Kampung- “Tumpeng songo” (sembilan), kegiatan ini digelar setiap tahun pada bulan Dzulka’da. Menurut penuturan mbah Sumi’ah yang merupakan salah satu warga yang selalu menguri-nguri ritual adat tradisi ini mengatakan pada awak Jurnal news (Kamis paing 28/10/2021).
Tradisi selamatan Kampung Tumpeng songo sejatinya adalah mengingat akan jasa seorang tokoh beserta istrinya yang bernama mbah buyut Minut di dusun Andong ini. Lebih lanjut masih mbah Sumi’ah yang didampingi Ayuk cucunya melanjutkan “Dalam prosesi selamatan kampung tumpeng songo, warga yang membuat tumpeng dilarang icip icip (mencicipi) masakannya. Selain itu yang memasak nasi tumpeng tidak boleh pas datang bulan (haid), kemudian masakan nasi tumpengnya dikumpulkan di rumah Ketua adat, “katanya.

Saat semua Nasi tumpeng sudah terkumpul, lalu dibawa oleh para gadis yang masih perawan (belum pernah menikah) untuk selanjutnya dibawa ke makam Mbah Buyut Minut yang terletak masih diwilayah dusun Andong dengan iring iringan warga yang mengikuti dibelakang gadis si pembawa Nasi tumpeng tanpa ada suara gamelan atau musik. Para wanita yang sedang datang bulan dilarang mengikuti prosesi ini tetapi hanya diperbolehkan melihat iring iringan ini dipinggir pinggir jalan yang dilalui.
Sesampai di Pemakaman mbah buyut Minut, semua Nasi tumpeng dan sesaji (berisi sego sak pinchuk atau nasi setakir ditempatkan pada daun pisang dengan lauk aseman daging, kinangan + tembakau ampenan, rokok kretek+korek api serta kembang kirim diturunkan dan ditaruh didekat makam untuk selanjutnya memanjatkan do’a kepada Allah SWT dengan dipimpin oleh Ketua adat”. Pada saat berada di pemakaman, semua yang hadir tidak boleh berbicara dan semua diam membisu sehingga membuat suasana semakin sakral. Ayuk beserta ibunya menambahkan

“Setelah upacara prosesi di Makam mbah Buyut minut selesai, semua nasi tumpeng dibawa kembali dan selanjutnya di taruh di sepanjang jalan depan rumah Ketua Adat untuk dimakan bersama sama warga, “ungkapnya.
(Hariyanto)


Komentar