oleh

Ritual Unik Resik Lawon *Petilasan Ki Buyut Cungking*

Prosesi Resik lawon diawali dengan persiapan berupa aktifitas ritual yang dilakukan sejak rabu malam kamis, mereka warga Cungking menyiapkan perlengkapan di bale tajug, merupakan bale-bale yang juga berfungsi menyimpan benda-benda bersejarah peninggalan Buyut Cungking. Ritual Tradisi Resik Lawon merupakan kegiatan yang rutin dilakukan warga lingkungan Cungking Kelurahan Mojopanggung Giri- Banyuwangi beberapa hari jelang bulan suci Ramadhan bertepatan dengan Ruwah ( kalender Jawa ) adalah sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur desa tesebut. Keesokannya , kamis 17 maret 2022 kain mori putih yang mereka sebut lawe sepanjang 100 an meter sebagai kelambu di petilasan Buyut Cungking dilepas dan dilipat lalu ditempatkan pada 20 wadah dari anyaman bambu.

Tradisi ini diawali dengan melepas kain lawon penutup petilasan. Tradisi unik ini sudah berlangsung ratusan tahun berupa Resik Lawon diawali dengan menyapu sekitar halaman untuk membersihkan petilasan Buyut Cungking (Ki Wongso Karyo ) dan mereka secara bersama-sama membuka tabir kain lawon penutup petilasan berbentuk makam itu. Warga lingkungan Cungking Kelurahan Mojopanggung secara bergotong royong dipimpin oleh Jam’i , 78
tahun jupel (juru pelihara ) petilasan Buyut Cungking.

IMG-20220319-WA0017

“Sebenarnya ritual Resik Lawon pada hari ini, untuk mengganti baju setiap tahun satu kali. Karena ini mau menghadapi atau jelang bulan Ramadhan, jadi ini rutinitas setiap tahunnya dilaksanakan,” katanya.

Mereka bahu membahu membawa kain lawon itu ke Dam Krambatan Banyu Gulung yang berada di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah 2 km dari lokasi petilasan Buyut Cungking untuk dicuci, sebelum kain putih tersebut kembali dibawa ke Bale Tajuk – Cungking untuk dibilas dan diperas. Uniknya, ini semua dilakukan oleh laki-laki. Sementara warga lainnya menunggu air sisa perasan lawon yang dipercaya membawa berkah, bermanfaat dapat menyembuhkan penyakit bahkan melindungi sawah dari hama pertanian. Air pembilasan lawon ini banyak diburu warga. Dipercaya memberikan berkah. Setelah lawon putih tersebut dibilas dan diperas, maka secara gotong royong masyarakat lingkungan Cungking menjemur kain sepanjang 100 an meter tersebut di tengah jalan dengan bantuan bambu dan juga tali ijuk warna hitam, dijemur hingga ketinggian belasan meter karena ukurannya yang panjang dan tidak boleh menyentuh tanah. Nantinya setelah kering, kain tersebut dilipat dan disimpan di Bale Tajuk selama satu minggu sebelum dikembalikan dengan cara dipendam ( dilabuh) di sekitar petilasan Ki Buyut Cungking.

Sementara Mardianto,  Ketua Paguyuban Buyut Cungking menyatakan, “Ritual ini adalah tradisi yang sudah ratusan tahun secara turun menurun dilakukan warga lingkungan Cungking dengan tujuan resik lawon/ membersihkan Ki Buyut Cungking. Jika ada yang rusak, diganti dengan yang baru maknanya, membersihkan jiwa raga sebelum memasuki puasa,” jelasnya.

Setelah ritual resik lawon selesai, warga sekitar nyekar dengan menggelar doa bersama, selamatan di petilasan
Ki Buyut Cungking.  Selama rangkaian ritual dilaksanakan, kegiatan ini merupakan ungkapan terima kasih atas jasa buyut Cungking. Tak hanya menjalankan tradisi yang memiliki nilai-nilai adiluhung tetap dilestarikan, ditambah lagi kegiatan ini dapat mempererat tali silaturahmi dan menjaga hubungan baik antar warga setempat.(Ilham Triadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *