oleh

Bedah Buku Puisi Kisah Kopi yang Menunda Gerimis Reda Karya Tengsoe Tjahjono

Kehormatan bagi sastrawan Bumi Blambangan, dengan diadakannya  gesah Sastra ; Persoalan Kopi, Gerimis dan Puisi Selasa (28/06/2022) di Palinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi bersama Tengsoe Tjahjono

yang tercatat sebagai Tenaga pengajar Universitas Negeri Surabaya dan sempat
menjadi dosen tamu Bahasa dan Sastra Indonesia di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul Korea Selatan (2014 – 2016).

Dalam kesempatan tersebut beberapa Seniman dan Budayawan Banyuwangi membacakan Puisi Karya Tengsoe Tjahjono Dalam buku Kisah Kopi Yang Menunda Gerimis Reda, seperti Abdullah Fauzi membacakan Puisi dengan judul Jangan Minum Kopi seperti minum air putih, beberapa Puisi Tengsoe juga Dibacakan Yeti Chotimah dan beberapa Pelajar dan Mahasiswa yang hadir.

Gesah sastra dengan moderator sastrawan Samsudin Adlawi, Direktur Jawa Pis Radar Banyuwagi tersebut dihadiri Ketua Dewan Kesenian Belambangan  (DKB) Hasan Hasri dan pengurus lainnya, Aekanu Hariyono dari Killing Osing, Wiwin Indiarti, yang konsen pada penulisan budaya, Ipung Purwadi, Pengacara yang juga penulis novel, beberapa Mahasiswa Untag Banyuwangi yang menggeluti sastra dibawah asuhan Muttafaqur Rohmah, pelajar SMA dan Siswa MAN 1 Banyuwangi.
Tengsoe Tjahjono yang lahir pada tanggal 3 Oktober 1958 dan besar di Banyuwangi ini menyampaikan bahwa Jangan berharap kaya dengan menulis puisi, meskipun Tengsoe sendiri bisa mendapatkan kekayaan hingga keluar negeri karena puisi-puisinya.

Menurut Tengsoe tidak ada kiat khusus untuk menulis puisi yang baik, dan untuk menjadi penulis puisi terkenal haruslah banyak membaca dan membandingkan puisi dari para penyair, kemudian menulis dan menulis lagi.

“Jika ingin pandai, menbacalah dan jika ingin terkenal maka menulislah, ” ungkapnya.

Tengsoe berpesan terutama bagi penulis muda untuk banyak membaca.
Nurul Ludfia Rochmah, Sekretaris Lentera Sastra yang juga Guru Bahasa indonesia pada MAN 1 Banyuwangi sengaja membawa peserta didiknya agar mendapatkan pengalaman dari penyair kelamaan ini.

Ketua Lentera Sastra yang hadir dalam kesempatan tersebut berharap lebih sering diadakan acara serupa agar menambah wawasan bagi pelajar dan mahasiswa dalam menulis puisi.

“Puisi itu unik dan mempunyai daya tarik yang khas, ” ungkapnya.

Lebih lanjut penulis aktif di beberapa media tersebut berharap para penulis muda yang hadir dalam kegiatan tersebut dapat menghasilkan banyak karya fiksi, baik puisi, prosa, cerpen, novel maupun lainnya.
Acara yang berjalan gayeng tersebut ditutup dengan pembacaan puisi oleh Samsudin Adlawi. (syaf)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *