oleh

Ribuan Warga Menyantap Tumpeng dalam Ritual Tumpeng Sewu Kemiren

Setelah dua tahun berturut-turut dilakukan tertutup akibat pandemi Prosesi Tumpeng Sewu Desa Adat Osing Kemiren diselenggarakan terbuka untuk umum, warga dari luar desa juga berdatangan. Mereka bebas ikut menyantap tumpeng sewu di Desa Adat Osing Kemiren, Banyuwangi, Minggu (3/7/2022) malam.

Ritual dimulai sejak pagi, Warga menjemur kasur berwarna khas merah hitam di depan rumah masing-masing, makna filosofinya membersihkan segala kotoran dalam rumah dan membersihkan energi negatif ( warna hitam ) agar mendapatkan semangat dalam menjalani kehidupan ini ( warna merah ).

Kemudian, menjelang sore, digelar barong ider bumi. Iring-iringan barong pun melintas dan melakukan Ider Bumi. Beberapa panitia kemudian menyalakan beberapa obor yang ada di sepanjang jalan. Kesenian barong diarak berkeliling kampung, Selama arak-arakan barong, warga tua muda bahkan anak-anak seluruhnya keluar rumah, mengikuti arak-arakan yang berakhir di pusat desa saat matahari tergelincir ke ufuk barat pertanda menjelang senja.

IMG-20220704-WA0043

Baru sekitar pukul 18.30 Wib atau usai salat Maghrib, ritual ini mulai dibuka. Usai dibacakan doa, ritual ini dimulai. Di bawah temaram api obor, semua orang duduk dengan tertib bersila di atas tikar maupun karpet yang tergelar di depan rumah. Mereka duduk rapi di depan rumahmasing-masing sambil menyediakan tumpeng. Jenis tumpengnya menggunakan makanan khas pecel pitik. Bahannya, ayam panggang diramu dengan parutan kelapa dilengkapi sambel pecel plus sayur mayur seperti labu siam, terong, slada air, kangkung , mentimun , dsbnya.

Menariknya, pecel pitik menjadi menu wajib yang tersedia di setiap tumpeng. Pecel pitik adalah makanan khas suku Osing, ayam kampung yang dibakar lalu dicampur dengan parutan kelapa dengan racikan bumbu tertentu.

Ritual ditandai dengan doa yang dibacakan sesepuh desa Kemiren usai sholat magrib berjamaah di masjid. Doa ini memohon perlindungan Yang Maha Kuasa agar dijauhkan dari segala bahaya. Suasana terasa religius, karena selama prosesi, warga juga memasang obor di depan rumah masing-masing.

Di bawah temaram api obor, semua orang duduk dengan tertib bersila di atas tikar maupun karpet yang tergelar di depan rumah. Di hadapannya tersedia tumpeng yang ditutup daun pisang. Dilengkapi lauk khas warga Kemiren, pecel pithik dan sayur lalapan sebagai pelengkapnya.

Menurut Suhaimi, sesepuh Desa Kemiren, Tumpeng Sewu merupakan tradisi adat warga Using, suku asli masyarakat Banyuwangi, yang digelar awal Idul Adha.

“Kita terus lestarikan adat dan tradisi budaya ratusan tahun lalu. Semoga dengan kegiatan ini warga Kemiren dijauhkan mara bahaya,” tambahnya.

Tampak pula sejumlah wisatawan luar kota juga berdatangan, apalagi ritual Tumpeng Sewu masuk dalam agenda pariwisata di Banyuwangi.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi MY Bramuda mengatakan tradisi telah menjadi atraksi yang menarik bagi wisatawan.

“Makanya pemerintah terus konsisten mengangkat tradisi ini dalam sebuah festival. Selain sebagai upaya melestarikan tradisi leluhur juga diharapkan mampu menjadi sebuah atraksi yang mampu menarik wisatawan,” kata Bramuda.

Dia melanjutkan, dengan menjadi atraksi yang menarik wisatawan, diharapkan mampu menggeliatkan perkonomian daerah.

“Kekhasan semacam ini banyak diminati wisatawan. Ditambah lagi keramah tamahan warga Kemiren, tradisi ini akhirnya menjadi salah satu favorit bagi wisatawan,” pungkasnya.(Ilham Triadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *