oleh

Pawai Obor Kampung Mondoluko Sebuah Tradisi Sambut Lebaran Idul Adha

Bulan Dzulhijah merupakan bulan yang paling dinanti oleh semua orang khususnya umat muslim. Beragam kegiatan sering dilakukan dalam menyambut datangnya bulan haji tersebut.

Seperti yang di lakukan muda-mudi Kampung Mondoluko Desa Tamansuruh Kecamatan Glagah Banyuwangi. Layaknya bulan dzulhijah sebelumya, pemuda desa menggagas acara pawai obor untuk turut menyambut kedatangan bulan haji

Setiap Lebaran Idul Adha masyarakat Osing yang tinggal di Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh Kecamatan Glagah, Sabtu malam (9/7/2022) menggelar selamatan dusun. Warga berjalan kaki keliling kampung (Ider Bumi) sembari membaca istigfar dan mengumandangkan adzan di pertigaan, pojok dan tikungan penjuru kampung.

Lantunan syair-syair islami lontar yusup terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Suara orang membacanya semakin jelas terdengar begitu mendekati Balai Dusun Mondoluko Desa Tamansuruh Kecamatan Glagah.

IMG-20220710-WA0011

Tak jauh dari tempat sekelompok lelaki duduk bersila itu, ada tujuh nasi tumpeng yang masih tertutup rapat daun pisang. Nasi tumpeng berbentuk kerucut itu ukurannya lumayan besar. Tumpeng tersebut dihiasi lauk-pauk dan sayur-mayur yang ditata melingkar mengelilingi nasi tumpeng. Ada juga petheteng ayam, yakni ayam bakar dan diberi kuah parutan kelapa.

Pada jelang bulan Dzulhizah ibu-ibu tidak kalah sibuk memasak di dapur. Mereka memasak berbagai menu untuk mempersiapkan acara tumpengan dan ancak yang akan dibawa pada acara selamatan kampung tersebut.

”Ancak berisi nasi dan kue basah dibawa dari rumah dan dikumpulkan di balai dusun. Selama rombongan berkeliling kampung, anak-anak yang membawa obor berada di barisan terdepan. Setelah satu jam berkeliling, warga kembali ke balai dusun untuk membaca tahlil dan istighotsah dipimpin ulama setempat dan ditutup dengan doa bersama. Selama seharian penuh diisi kegiatan keagamaan, agar kampung kita diberkahi,” ujar Kepala Desa Tamansuruh Teguh Eko Rahadi,

Seharian, sebelum matahari terbenam di hari kesepuluh bulan Dzulhijah, umat Islam di Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh silih berganti berkumpul untuk baru dilanjutkan Ider Bumi (keliling kampung), selama tradisi yang berjalan turun temurun selalu diikuti dengan pembacaan Lontar Yusuf.

”Selama seharian penuh diisi kegiatan keagamaan, agar kampung kita diberkahi, Setelah selamatan Ider Bumi selesai, warga berebut ancak,” jelas Teguh

“Acara pawai obor ini rutin kami adakan setiap tahun untuk menyambut datangnya bulan Dzulhijah.”

Menurutnya acara pawai obor yang rutin dilakukan setiap tahun ini adalah salah satu bentuk ungkapan rasa syukur karena telah kembali dipertemukan dengan bulan yang mulia ini.

”Pokoknya semacam belum mendapatkan berkah karena belum didoakan bersama-sama,” harap Teguh.

Tradisi Ider Bumi baru dilakukan petang harinya. Tanpa dikomando, puluhan warga berdatangan menuju balai dusun yang berada di tengah perkampungan tersebut. Acara dilaksanakan dengan berjalan kaki mengelilingi kampung serta diiringi lantunan selawat. Warga kampung sangat antusias dengan kegiatan tersebut bahkan beberapa warga kampung tetangga juga mengikuti acara tahunan ini. Tampak pula puluhan pengurus dan anggota Komunitas Pelestari Adat dan Tradisi ( Kopat ) berbaur dengan warga dusun Mondoluko.

Selanjutnya, warga dipimpin sesepuh desa dan ulama setempat berjalan kaki keliling kampung sembari melantunkan istigfar bersama-sama. Mulai anak-anak, remaja, dan orang tua kompak berjalan kaki membaca kalimat toyibah.

Selama berjalan kaki mengitari jalan perkampungan, warga berhenti sejenak di pertigaan dan tikungan penjuru kampung. Mereka mengumandangkan azan dilanjutkan dengan berdoa bersama-sama.

”Setiap langkah kaki kita memohon ampun dan mengumandangkan azan. Maksudnya agar kita ingat akan perintah salat, dan berkurban, ” kata Aseral sesepuh dusun Mondoluko.

Menurutnya, kegiatan ini berpusat di pelataran balai dusun dan dimulai jelang petang.

“Kegiatan ini sangat positif, semoga acara seperti ini bisa terus berjalan di tahun-tahun berikutnya dan bisa menekan angka kegiatan negatif pemuda yang akhir-akhir ini marak terjadi, keesokan harinya tradisi ini masih dilanjutkan dengan kegiatan yang tak kalah serunya yakni Pencak Sumping, ” pungkas Aseral.(Ilham Triadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *