BANYUWANGI – PT. Industri Gula Glenmore perusahaan milik negara (BUMN), yang berlokasi diwilayah Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, beredar kabar tersendat berproduksi diduga karena kekurangan bahan baku berupa tebu.
Kabar itu diutarakan oleh Tarmuji (52), salah satu anggota Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) yang tinggal diwilayah Kecamatan Glenmore. Menururtnya jika pabrik kehabisan atau kekurangan bahan baku untuk digiling sudah tentu terhitung ada kerugian.
Pabrik gula di Kecamatan Glenmore, Banyuwangi mulai produksi tahun ini pada 9 Juni giling awal, biasanya waktu yang dicapai hampir 5 bulan, mesin tanpa berhenti.
Tarmuji bersama tiga temannya saat sedang dilokasi pabrik menceritakan kepada wartawan situasi kondisi ditempat antrian truk pengangkut tebu yang akan masuk pabrik gula.
“Kondisi pabrik sehari – harinya ya seperti ini mas, setiap harinya macet ndak giling karena kurang pasokan tebu, rata – rata 8 sampai 10 jam pabrik tersendat produksi.” Jelasnya.
Menurutnya, kemacetan produksi karena kurangnya bahan baku tebu yang dipasok ke pabrik, kemungkinan besar akan berdampak pada pendapatan pabrik, tentunya akan berdampak pada kerugian negara.
Tarmuji menduga keterlambatan bahan baku tebu karena pekerja penebang tebu enggan bekerja, sebab tidak imbang upah yang didapat jika tanaman tebu yang akan dipanen berukuran kecil.
Sebab, bekerja sebagai penembang tebu upah yang didapat dibayar perton, tahun sebelumnya per hektar biasa didapat penebang mencapai target umumnya, namun tahun ini karena tanaman tebunya kecil penebang enggan bekerja sebab dianggapnya rugi.
“Sebenarnya kemacetam produksi di pabrik IGG ini ada keterkaitannya dengan bahan baku yaitu tebu, para pekerja enggan bekerja kalau upah mereka tidak sesuai, sebab cara upah yang didapat oleh pekerja memakai sistem (borongan perton). Jika tebu yang akan dipanen ukurannya kecil pekerja tidak akan mau bekerja dianggapnya rugi.” Jelas Tarmuji.
Sementara Kepala Pabrik Industri Gula Glenmore (IGG), Yusmartin menepis apa yang disangkakan salah seorang dari kelompok petani tebu, menurutnya keterlambatan bahan baku karena faktor cuaca, jika terus ada hujan pekerja penebang tebu tidak bisa melanjutkan penebangan.
“Ketika hujan mereka tidak bisa tebang. kalau tenaganya cukup sih, sehingga pasokan ke pabrik kurang dari semestinya. Lantas proses giling yang kita sesuaikan tetapi proses dipabrik terus jadi gula juga tidak ada gendala,” terang Yusmartin saat menjelaskan melalui telpon.
Melihat truk tebu yang mengantri ke pabrik di infokan menurun karena kurangnya pekerja tebang yang berdampak kepada pasokan tebu ke pabrik, Yusmartin juga tidak membenarkan.
Menurutnya, antrian truk tebu yang datang ke pabrik dilihat jam kerjanya, jika pagi sampai siang tentu agak berkurang truk yang akan masuk pabrik karena penebang mulai kerja jam 07.00 wib. Semua armada pengangkut tebu masih dilahan.
“Kalau jam 07.00 wib sampai siang tentu truk – truk pengangkut masih dilokasi lahan karena penebang masih bekerja dan pengangkut masih mempersiapkan angkutan, biasanya truk tebu mulai datang ke pabrik sekitar jam 14.00 wib sampai malam,” terang Yustin,
Bahkan kata Yustin, truk pengangkut tebu biasa datang untuk menghantarkan tebu ke pabrik tiap harinya sampai mencapai 600 truk, diperkirakan tebu yang disetor ke pabrik mencapai 6000 ton.
Lagi – lagi Yustin kepala Pabrik IGG tidak membenarkan isu keterlambatan pasokan tebu ke pabrik karena kurangnya pekerja tebang. Apalagi disebabkan mogok kerja karena upah yang didapat sangat rendah, Yustin menepis hal itu.
Karena jika penebang tidak lagi bekerja tidak akan mungkin ada aktivitas didalam pabrik saat ini pabrik masih berjalan produksinya. Dan sampai saat ini upah pekerja penebang juga masih tinggi.
“Pabrik masih produksi artinya keterlambatan bahan baku masih kategori normal keterlambatan bahan baku tebu itu karena faktor cuaca, penebang akan berhenti menebang jika cuaca hujan,” terang Yustin.
Yustin menambahkan, tebu dari petani masih saja masuk pabrik tidak hanya dari Banyuwangi melainkan dari kabupaten Jember juga masuk pabrik Glenmore.
Bahkan kata Yustin, tidak hanya tebu dari perkebunan yang masuk pabrik dari lahan petani tebu milik rakyat yang masuk pabrik IGG jika kondisi tanaman tebu normal sangat banyak mencapai 100 ton per hektar.
“Kita juga menggiling tebu rakyat milik petani tapi sama saja saat tebang juga terkendala tenaga jika cuaca hujan akan berhenti tebang. Saat ini sebanyak 2500 hektar dari tebu rakyat, itu dari Banyuwangi dan Jember.” Uangkap Yustin.
Awal produksi Mesin tidak pernah mati selalu hidup sampai 5 bulan, walau pun saat tidak ada tebu, pabrik tetap saja beroprasi untuk menggiling nira menjadi gula.
“Saat tebu berhenti masuk pabrik karena faktor cuaca, maka pabrik tidak berhenti bahkan terus berproduksi karena didalam pabrik ada nira yang harus diproses dijadikan gula,” ucapnya.
Sekedar diketahui pabrik tebu di Glenmore memproduksi tidak hanya gula namun hasil limbah dijadikan etanol dan pupuk organik.
“Limbah kita masih olah, seperti limbah padat kita olah menjadi pupuk organik, dan yang cair kalau masih mengandung gula itu menjadi tetes bisa untuk bahan baku etanol,” terang Yustin. (Ron//JN).


Komentar