Saat bulan Suro tiba salah satu ritual yang kerap dilaksanakan adalah jamasan pusaka atau pembersihan benda pusaka.
Tradisi Jamasan Pusaka menjadi salah satu tradisi yang identik dilakukan pada bulan Suro. Salah satu pelaksanaan tradisi tersebut adalah Jamasan Pusaka yang baru saja diselenggarakan Jumat malam Sabtu (29/7/2022).Tradisi tersebut malam itu dilaksanakan di Pesantogan Gesah Pancasila Wonosari Desa Tamansuruh Kecamatan Glagah. Terdapat 29 buah pusaka yang dijamas, dikirab dan dibawa masuk ke Pesantogan Gesah Pancasila. Sementara warga berebut sisa jamasan pusaka.
Salah satu benda pusaka yang dibersihkan pada malam 1 Suro atau 1 Muharram adalah keris yang hingga kini masih memiliki nilai sentimental tersendiri.
Pembersihan benda pusaka seperti keris merupakan upaya melestarikan budaya warisan para leluhur pada malam 1 Suro.

Selain keris jamasan pusaka yang lain adalah pedang luwuk dan tombak. Lalu bagaimana cara melakukan jamasan atau pembersihan keris pada malam 1 Suro yang dilakukan di berbagai daerah di masyarakat Osing- Jawa yang biasa dilakukan oleh masyarakat ataupun pihak komunitas seperti malam itu Paguyuban Pelestari Tosan Aji Belambangan bekerja sama dengan Pemdes Tamansuruh dan Komunitas Osing Pelestari Adat dan Tradisi ( KOPAT ). Salah satu yang melakukan tradisi membersihkan keris atau benda pusaka untuk memperingati 1 Suro adalah Paguyuban Panji Belambangan.
Tradisi Jamasan Pusaka atau membersihkan keris dan benda pusaka ini telah menjadi tradisi yang dilakukan oleh Panji Belambangan sejak 1 Syuro 2006, tak lama setelah keris Indonesia diakui oleh badan Dunia Unesco, 25 Nopember 2005 merupakan Simbol Kecerdikan Budi Manusia Nusantara Sebagai Warisan Kemanusian Milik Dunia. Tradisi ini dilakukan pada setiap hari selama bulan Suro.
Upacara jamasan pusaka umumnya dilakukan secara bertahap. Adapun tahapan-tahapan yang dilalui dalam upacara tersebut dimulai dengan pengambilan pusaka yang disimpan di tempat tertentu, tahap tirakatan (bersemedi), tahap kirab dan tahap pemandian atau jamasan pusaka.
Jamasan simbol bersih diri, Kanjeng Ilham Panji Belambangan mengatakan, jamasan memiliki makna yang dalam.
“Selain membersihkan secara fisik, prosesi itu juga sebenarnya bertujuan untuk membersihkan diri. Secara fisik dibersihkan dan secara kebatinan juga dibersihkan. Bagaimana manusia itu harus introspeksi setidaknya setahun sekali mengingat apa yang sudah dilakukan sepanjang tahun dan apa yang akan dilakukan pada tahun mendatang,” papar Ilham.

Adanya tahapan dan ritual dengan sejumlah aturan, menurut Ilham juga mencerminkan tentang kehidupan manusia yang memiliki norma-norma.
“Orang perlu introspeksi dan mengingat norma-norma kehidupan yang ada sehingga orang tak menyimpang dari pakemnya (jalan hidup),” kata dia.
“Demikian juga dalam konteks masyarakat ketika ada orang-orang yang tidak sesuai dengan aturan yang jadi kesepakatan, dia harus diingatkan untuk kembali ke tujuan hidupnya,” imbuh dia.
Kanjeng Ilham juga mengingatkan, benda pusaka seperti keris merupakan wujud budaya fisik bernilai tinggi yang sudah seharusnya dihargai. Penghargaan tersebut menurutnya sebagai simbol tentang harmoni keseimbangan dalam berperilaku.
“Di sana ada keterampilan dan kesabaran untuk membuatnya. Ada juga keris yang bisa berdiri. Itu bukan karena daya magis, melainkan dibuat dengan sungguh-sungguh dan seimbang. Secara sosial, generasi muda saat ini juga diberi wejangan bahwa hidup itu mestinya penuh dengan harmoni dan keseimbangan dalam berperilaku,” katanya.
Prinsip gotong royong maksud dan tujuan jamasan pusaka yakni untuk mendapatkan keselamatan, perlindungan, dan ketentraman. Sebab, bagi leluhur masyarakat Osing yang hingga kini masih dijadikan weluri , benda-benda pusaka tersebut dianggap mempunyai kekuataan gaib yang akan mendatangkan berkah apabila dirawat dengan cara dibersihkan atau dimandikan.
Apabila tidak dirawat, mereka percaya “isi” yang ada di dalam benda pusaka tersebut akan pudar atau akan hilang sama sekali, dan hanya berfungi sebagai senjata biasa.
Sementara Menurut Kepala Desa Tamansuruh, Teguh Eko Rahadi, apabila dicermati lebih dalam, jamasan mengandung nilai-nilai budaya yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut diantaranya adalah kebersamaan, ketelitian, gotong-royong dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari keberadaan masyarakat yang berkumpul dalam satu tempat untuk mengikuti prosesi, seperti melakukan doa bersama demi keselamatan bersama.
Adapun nilai ketelitian, tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara harus dilakukan dengan persiapan sebaik mungkin dan dengan seksama sehingga upacara bisa berjalan lancar.
“Sedangkan nilai religius tercermin dalam doa bersama yang ditujukan kepada Tuhan agar mendapat perlindungan, keselamatan, dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan, “pungkas Teguh.
Beberapa hal yang dilakukan oleh Penjamas pusaka, seperti : wajib dalam keadaan bersih atau telah mandi sebelum membersihkan keris atau benda pusaka.
Selain itu, juga harus menjaga sikap dan tutur kata selama prosesi Jamasan Pusaka berlangsung. Prosesi Jamasan Pusaka diawali dengan membaca doa atau mantra yang bertujuan agar prosesi ini berjalan lancar. Selain itu, juga harus menjaga sikap dan tutur kata selama prosesi Jamasan Pusaka berlangsung.
Kemudian keris atau benda pusaka lainnya yang telah dibersihkan tersebut akan diberi warangan atau campuran cairan arsenik dan perasan air jeruk nipis. Tujuannya agar keris atau benda pusaka tersebut awet dan tidak mudah berkarat.
Selanjutnya dikeringkan dengan cara mengelap menggunakan kain mori, dan diberi minyak aroma melati, cendana, seribu bunga atau selera pemilik pusaka. Pada tahap terakhir prosesi membersihkan keris dan benda pusaka adalah mengembalikan benda-benda tersebut ke tempat semula dan ditata dengan baik untuk menjaga keawetannya.
Setelah itu juga diadakan upacara yang bernama Sugengan , gesah silaturahmi sebagai penutup dari serangkaian upacara atau prosesi Jamasan Pusaka sebagai wujud rasa syukur terselenggaranya upacara tersebut.
Demikianlah cara membersihkan keris dan benda puasa guna menyambut 1 Suro yang dilakukan di Pesantogan Gesah Pancasila, Wonosari Desa Tamansuruh Kecamatan Glagah, Banyuwangi.(Ilham T.)


Komentar