Banyuwangi adalah kabupaten welas asih, kabupaten harmoni di Ujung Timur Pulau, Jawa kaya akan keragaman suku dan budaya, serta agama. Keberagaman ini menjadi daya tarik lintas provinsi, Kabupaten dan kota untuk berkunjung ke Banyuwangi dalam kegiatan studi banding atau studi tiru. Kali ini kunjungan FPK kabupaten Pasuruan di desa Kebangsaan, kampung Pancasila di Patoman Blimbingsari (31/8/2022)
Maka tak salah jika keheterogenan tersebut menjadi daya tarik pegiat kebangsaan.
Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Pasuruan. Demi menggali wawasan kebhinekaan, mereka memilih study banding ke Kampung Pancasila di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, (31/8/2022).
Menurut Miskawi, “Desa Patoman bisa dikatakan sebagai miniatur Indonesia, kita bisa melihat keberagaman yang saling rukun, menghormati dan welas asih. Menariknya lagi desa Patoman tepatnya di Patoman tengah adalah perkampungan dengan suasana ala Pulau Dewata Bali, ” ungkap Ketua FPK Banyuwangi.

Lanjut Miskawi, “Ketika sesi gesah pendapat mengatakan terbentuknya desa kebangsaan dan kampung Pancasila tercipta secara alami, natural dan telah ada sejak dahulu. Toleransi dan kolaborasi dalam setiap kegiatan berjalan sejak ratusan tahun lalu. Bahkan istimewanya lagi, pada tahun 2021 telah dilaksanakan festival Kebangsaan ditempat ini dan tahun 2022 dilaksanakan festival Kebangsaan yang kedua kalinya dengan kemasan ngopi kebangsaan didalamnya,” Tambah Ketua FPK Banyuwangi 3 periode.
Sementara itu, Nasrodin dari perwakilan Bakesbangpol Banyuwangi, dalam sambutannya menyebut bahwa Bakesbangpol Banyuwangi telah memiliki aplikasi Sidik Wangi, sebuah aplikasi informatif memudahkan seseorang mendapat referensi literasi suku atau etnis yang ada di Banyuwangi.
“Sistim informasi data dikumpulkan dan akan menjadi sebuah buku, Banyuwangi Dalam Bingkai Etnis dan Suku,” Tambahnya.
Kegiatan kunjungan FPK Kabupaten Pasuruan juga dihadiri Forum pimpinan Kecamatan, Bakesbangpol Banyuwangi, perwakilan tokoh agama, suku dan etnis, pemuda Patoman, Ibu -ibu PKK dan luar biasanya lagi para tokoh budaya Suku Osing yang tergabung dalam Komunitas Osing Pelestari adat Tradisi (KOPAT), sebagai suku asli kabupaten ujung timur pulau Jawa.
Ketua FPK Pasuruan, Bayhaqi Kadmi mengatakan, Banyuwangi sungguh luar biasa. Terlepas dari keindahan alam dengan sebutan Sunrise of Java, ternyata Banyuwangi memiliki kampung dengan kerukunan dan toleransi yang amat tinggi, dimana mereka tidak memandang suku,ras maupun agama.
Bayhaqi menambahkan, study banding ini merupakan salah satu kegiatan lapangan sebagai bentuk percontohan. Sehingga apa yang didapat dari Banyuwangi dapat diterapkan di daerah asal. Dimana, kerukunan antar masyarakat, toleransi, dan gotong royong terlihat amat kental di Kota Gandrung itu.
“Semua masih alami, adat seni dan budaya sangat kental disini. Ini yang akan menjadi percontohan untuk kami terapkan, meskipun pastinya tidak sama persis,” terangnya.
Di Kampung Pancasila, lanjut Bayhaqi, kerukunan yang tercipta secara alami sangat patut menjadi contoh. Toleransi beragama, kegiatan ibadah, hingga gotong royong semuanya terlihat sempurna. Tentu hal ini menjadi kebanggaan FPK Pasuruan dapat berkunjung dan dijamu oleh FPK Banyuwangi. Kerukunan dalam kehidupan setiap hari.
“Sekali lagi, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada keluarga besar di Banyuwangi. Alhamdulillah, kami disambut sangat meriah, bahkan rasanya kami selevel Anggota DPR RI saja,” cetus Gus Bayhaqi.
Di akhir acara, ketua FPK Banyuwangi menyampaikan juga sebagai ucapan terima kasih dan semoga bisa berkunjung ke FPK Kabupaten Pasuruan, amiin (Miska).


Komentar