BANYUWANGI – Pupuk non subsidi terbilang mahal bahkan harganya 4 kali lipat dengan pupuk subsidi. Hilangnya pupuk subsidi dipasaran membuat pupuk non subsidi diburu petani walau pun harus merogoh koceh lebih banyak.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi M.Khoiri menjelaskan mahalnya harga saprodi pupuk dan pestisida kerena terjadi krisis global.
“bahan baku impor pupuk dan pestisida terjadi kenaikan 100% lebih, sehingga mengakibatkan produsen pupuk di Indonesia menaikan harga pupuk dan pestisida 100% dari harga sebelum pandemi dan krisis global,” jelasnya.
Pupuk subsidi terbilang langka itu terbukti stok pupuk dipasaran hampir tidak ditemukan, info kelangkaan pupuk subsidi ditepis oleh Kadis Pertanian dan Pangan Banyuwangi. Kamis (29/09/2022).
“sebenarnya tidak langka hanya kuwotanya berkurang. Untuk pupuk subsidi komoditasnya berdasar permentan No. 41, tahun 2021 terdapat 70 komoditas jenis pupuknya ada 6 yaitu urea, SP36, Urea, NPK, ZA, POC, POG,” terangnya.
Permentan No. 10 tahun 2022 terdapat 9 komoditas yaitu padi, jagung, kedelai, cabe, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kakao rakyat, kopi rakyat. Jenis pupuk hanya ada 2 jenis yaitu Urea dan NPK.
Kebutuhan pupuk subsidi tahun 2022 sesuai e RDKK, untuk pupuk Urea sebanyak 47.095,432 ton . Sedangkan pupuk NPK sebanyak 60.792,916 ton, sedangkan alokasi untuk pupuk Urea 56.014,97 ton, pupuk NPK 40.876 ton.
Dari data itu, kata Khoiri,” Kebutuhan pupuk subsidi urea dan NPK pada petani yang terdaftar di e RDKK untuk pupuk Urea terpenuhi sedangkan pupuk NPK baru terpenuhi 67%.” Terangnya.
Menurutnya, Pemkab Banyuwangi tahun 2022 memberikan stimulan bantuan POC untuk petani yang terdaftar di e RDKK.
Bagi petani yang tidak terdaftar di e RDKK membeli pupuk non subsidi di kios – kios tersedia. (Ry//JN).


Komentar