Kopat Merespon positif para Pegiat Sejarah Jawa yang menyelenggarakan Ngabab edisi 6 secara zoom meetings dengan mengangkat tema Kedhaton wétan dan hubungannya dengan Blambangan, sebagai narasumber Damar wulung dan dimoderatori oleh Alif Farda berlangsung sangat menarik walau pada malam itu turun hujan. Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi (Kopat) Banyuwangi mengikuti secara virtual di Omahseum jalan Widuri no 21 Kelurahan Banjarsari Kecamatan Glagah Kabupatèn Banyuwangi-Jatim (31/10/2022), turut hadir dalam ngabab virtual kali ini diantaranya pengurus dan anggota Kopat Banyuwangi, ketua Kopat Blimbingsari, Licin, Songgon dan Cluring.
Selama ini, saat kita membaca Sejarah masa-masa akhir Majapahit, banyak yang menyebutkan bahwa runtuhnya kerajaan terbesar di Jawa itu berawal dari konflik Paregrek antara Kedhaton Kulon dengan Kedhaton Wetan. Kedhaton Wetan yang selama ini disamakan dengan Balambangan, akhirnya memunculkan dua pendapat yaitu :
1. Bagi yang pro-Majapahit, Balambangan adalah penyebab utama runtuhnya Majapahit. 2. Sementara bagi yang pro-Balambangan, dengan bangga mereka akan merasa sebagai penghancur kerajaan terbesar dan terkuat di Jawa itu.
“Padahal, selama ini belum final perdebatan mengenai letak Kedhaton Wetan itu. Apakah Kedhaton Wetan itu memang sama dengan Balambangan, sehingga Bhre Wirabhumi kemudian dianggap sebagai Raja Blambangan yang bergelar Menak Jinggo? Kalau benar, dasarnya apa? Kalau salah, dasarnya juga apa?
Jadi, belum tentu Kedhaton Wetan ini ada hubungannya dengan Blambangan, ” Cetus narasumber.

Mendengar pemaparan dari narasumber dan beberapa peserta, acara semakin lama semakin menarik. Acara Ngabab ini terselenggara berkat kerjasama antara Komunitas Sejarah Jawa dengan Balambangan Royal Volunteers yang juga didukung oleh :
@ajisangkala.id @balambanganroyalvolunteers @semangatbanyuwangi @sanggarsilir @massaylaros @landofosing.banyuwangi
Menanggapi kegiatan Ngabab (ngaji babad) ini, Thomas Racharto yang juga sebagai tim ahli sejarah Kopat mengatakan “Saya rasa kegiatan ini sangat bagus terhadap upaya mencari pemahaman tentang sejarah Blambangan yang berupaya menuju kebenaran sejarahnya, “tutur Thomas.
Masih Thomas “Mengapa Kopat perlu mengikuti kegiatan ini, karena saya akan meluncurkan buku tentang Balambangan Kuno abad 13-14 yang sebentar lagi terbit, ” katanya.
Aekanu Hariyono selaku Pemerhati Adat Budaya Osing pada kesempatan ini mengatakan “Kegiatan ini merupakan kegiatan belajar bareng dan bagus sekali untuk menimba ilmu tentang sejarah Kedhaton wétan yang berkaitan dengan sejarah Blambangan, ” ujarnya.
Di saat sesi tanya jawab, memang biasa ada perbedaan perbedaan mendapat, tetapi Semua peserta menyadarinya sebagai pembelajaran untuk menambah pengetahuan baru untuk menuju adanya kebenaran.
Thomas Racharto pada ujung acara menambahkan “Acara Ngabab atau ngaji babad ini sangat bagus sebagai sarana untuk mendiskusikan tentang Sejarah lokal seperti Sejarah Blambangan, Sejarah Situbondo, Bondowoso, Jember, Lumajang dan lainnya dengan maksud untuk mengisi sejarah nasional. Mereka dari tiap tiap kabupatèn bisa membentuk suatu tim yang bertujuan untuk menyusun tentang sejarah lokal, mereka akan merumuskan sejarah lokal secara valid dan tentunya harus terlebih dahulu dibentuk tim yang valid juga dengan melibatkan sejarawan, unsur akademisi, tokoh tokoh masyarakat peduli sejarah dan juga dari unsur pemerintahan. Sehingga diharapkan pembahasan yang dihasilkan dapat dipakai sebagai materi sejarah lokal yang mudah dipahami dan selanjutnya dapat diajarkan di sekolah sekolah sebagai warisan nenek moyangnya dalam menemukan jati diri sebagai generasi penerus bangsa, ” cetusnya.
Acara berakhir dengan menikmati berbagai macam hidangan yang telah disediakan dan menyanyikan lagu Umbul umbul Blambangan sebagai lagu kebanggaan wong Osing.
(Agus Wahyudi Iriyanto).


Komentar