Cuaca mendung sangat mendukung pelaksanaan Ritual / haul ke 52 tahun Maestro Penari Gandrung perempuan pertama (Gandrung Wadon Kawitan) Almarhumah Buyut Semi yang digelar di Jalan Angklung Caruk lingkungan Cungking Kelurahan Mojopanggung Kecamatan Giri Kabupaten Banyuwangi-Jatim Sabtu (20/11/2922). Kepanitiaan dari lingkup keluarga besar Buyut Semi mengucap banyak terima kasih kepada segenap tamu undangan yang menyempatkan diri hadir di kegiatan ini.
Buyut Semi lahir di Banyuwangi pada tahun 1882 dan meninggal pada tahun 1970 merupakan seniman tari gandrung perempuan pertama dan menurut Slamet Sugiono yang mewakili DKB (Dewan Kesenian Blambangan) Kabupaten Banyuwangi mengisahkan “Buyut Semi dulu pada tahun 1895 pernah mengadakan pertunjukan tari Gandrung di Surabaya, ” kisahnya.

Bambang yang ditunjuk sebagai ketua panitia mengatakan “Kegiatan ritual/haul mengenang Buyut Semi, kami gelar setiap tahun secara rutin, ” katanya.
Acara ini dihadiri oleh Suko selaku Kepala Kelurahan Mojopanggung mengatakan dalam sambutannya “Banyuwangi kini telah mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerahnya dari sektor pariwisata dibanding tahun tahun sebelumnya, dan ini semua berkat kerja keras dari pemerintah dan yang terkait, khususnya para budayawan dan para pelaku seni, ” katanya.
Suko menambahkan kegiatan Ritual buyut Semi adalah murni swadaya dari keluarga buyut Semi tanpa sumbangan dari pemerintah.

Wowok Meirianto selaku Ketua umum Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi dan yang mewakili semua komunitas yang hadir mengatakan dalam sambutannya “Buyut Semi sangat berjasa dalam bidang seni khususnya seni Gandrung, dan di lingkungan Cungking inilah awal gandrung Perempuan pertama ada. Oleh karena nya saya mengusulkan kepada Pemerintah Daerah agar di lingkungan Cungking Kelurahan Mojopanggung dibuatkan Omprog Gandrung yang besar untuk menghormati dan mengenang Buyut Semi, ” cetusnya.
Masih Wowok “Gandrung sekarang oleh Pemerintah Daerah Banyuwangi ditetapkan sebagai Ikon Banyuwangi, oleh karenanya sangat layak kalau Buyut Semi mendapat penghargaan yang setinggi tingginya, ” tambahnya.
Sedang Teguh Eko Rahadi yang didaulat mewakili pihak keluarga “mengajak semua anak anak, cucu cucu dan cicit cicit Buyut Semi untuk mengamalkan apa yang telah diajarkan oleh Buyut Semi yaitu Jaga persatuan, bekerja keras serta saling menerima dan memberi, ” sambutnya.

Sambutan selanjutnya dari pihak wakil Dinas Pariwisata Kabupatèn Banyuwangi dan senada dengan Camat Giri yang mengatakan “Mari kita hormati dan kita kenang semua jerih payah Buyut Semi dalam melakoni sebagai Gandrung perempuan pertama, ” sambutnya.
Acara ritual ditutup pembacaan do’a yang disampaikan Sanusi Marhaedi selalu pendiri Kopat.
Acara ritual/haul kè 52 tahun ini dihadiri oleh KOPAT (Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi) Banyuwangi, Patih Senawangi (Pelatih tari dan seniman) Banyuwangi, Aliansi Masyarkat Adat Nusantara (AMAN), Dewan Kesenian Blambangan kabupaten Banyuwangi, Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Camat Giri, Kepala Kelurahan Mojopanggung, Kepala Desa Tamansuruh Kecamatan Glagah, Kelompok Serawung Merajut Persaudaraan Lintas Iman dari Malang, Jogja, Indramayu, Jombang, Lumajang dan Bali, serta dihadiri wisatawan asing dari Maroko dan Itali.
Pada Sesi pertunjukan diisi beberapa tari yang dimainkan oleh cucu cicit Buyut Semi yakni Gandrung Wiwik duet tari dengan Wika(putri alm Rustadi) dengan gerakan2 khas gandrung terop.
“On behalf of the family and the people here, I’d say thanks a lot for your coming and appreciation. Gandrung has already been invited to perform in many countries, not only for ritual but also for making friendship by dancing together, “ucap Aekanu Hariyono kepada tamu dari Maroko dan Itali, dan mereka terlihat senang jika bisa menari bersama gandrung.
Lagu podo nonton yang dilantunkan Bambang dan Wiwik sebagai Penutup acara dan disambung menyanyikan lagu Umbul Umbul Blambangan oleh seluruh Keluarga Buyut Semi dan Semua Undangan.
(AWI).


Komentar