oleh

Tradisi Jamasan Pusaka di Padepokan Watu Semar Gunakan 9 Sumber Mata Air

Prosesi Jamasan pusaka atau pembersihan benda-benda pusaka menjadi tradisi rutin masyarakat Jawa setiap bulan Suro, termasuk di Kabupaten Banyuwangi. Tradisi ini ada sejak zaman kerajaan dan lestari hingga saat ini. Padepokan Watu Semar bersama warga dan pegiat budaya menggelar tradisi jamasan pusaka (5/8/2023). 100 ( seratus ) keris lebih disucikan dengan 9 sumber mata air bertuah.

Selain Padepokan Watu Semar sebagai tuan rumah , hadir Pelestari Budaya Jawa dari Kediri, Panji Blambangan dan beberapa komunitas budaya yang diwakili beberapa anggota dengan membawa keris dan tosan aji lainnya untuk diikutkan jamasan.

IMG-20230806-WA0107

Menjamas pusaka adalah proses memandikan/membersihkan pusaka dengan maksud untuk merawat dan menjaga pusaka supaya tetap bebas dari karat sehingga terjaga dari kerusakan. Proses menjamas/merawat pusaka ini dimulai dari proses membersihkan dari karat/mutih, mewarangi, hingga meminyaki dan memberi wewangian pada pusaka. Keseluruhan proses ini disebut proses Jamasan Pusaka. Dan yang terpenting dari seluruh proses ini adalah sikap batin kita yang harus menghormati dan sama sekali tidak meremehkan. Hal tersebut merupakan kehormatan kita atas kerja sang empu pembuat pusaka dan atas berkah Tuhan yang diberikan pada pusaka tersebut.

Dan merupakan bentuk rasa terima kasih pada para pemimpin kita yang terdahulu yang pernah memakai pusaka-pusaka yang dijamas, dan penghormatan pada barang-barang yang pernah ikut berjasa dalam berdirinya suatu wilayah baik secara lahiriyah maupun batiniyah. Karena konon pusaka-pusaka yang dijamas ini pernah dipergunakan para pemimpin dalam mempertahankan martabat, menumpas kejahatan, serta menjadi simbol derajat seseorang. Terlepas dari sudut pandang kepercayaan, juga bertujuan untuk mengenang, bernostagia serta pembelajaran pada generasi sekarang tentang sejarah masa lalu.
Diawali doa bersama dipimpin oleh Sutjipto dari Kemiren merupakan bentuk rasa terima kasih kepada para pendahulu, sehingga Banyuwangi bisa seperti keadaan yang sekarang ini.

IMG-20230806-WA0108

Setelah doa bersama dilakukan jamasan, jamasan mengunakan 9 sumber mata air . Prosesi sakral itu dimulai dengan memakan bersama nasi tumpeng kuning, tumpeng putih, sego ( nasi ) golong, pecel pitik, tumpeng buceng lulut ( berbahan ketan dilumururi parutan gula kelapa ), jenang suro , jajan pasar, dll.

Pusaka-pusaka berupa keris, tombak dan lainnya ini merupakan peninggalan leluhur yang sudah berusia ratusan tahun.
Satu per satu pusaka dimandikan menggunakan air yang dicampur dengan aneka bunga. Yang menarik, air tersebut berasal dari 9 sumber mata air bertuah.

Ketua Paguyuban Mbah Cholik ( Choliqul Ridha ) sebagai tuan rumah mengatakan, jamasan merupakan pensucian terhadap benda pusaka ini dimaksudkan untuk membuang aura negatif yang menempel pada pusaka selama satu tahun
dan menjaga apa yang pernah dimiliki para leluhur kita, adalah sama seperti menjaga kehormatan negeri ini” begitu kata mbah Cholik mengawali sambutannya.

“Kalau pusaka tidak dijamas, orang dulu bilang bisa membawa sengkala atau mara bahaya. Dengan dilakukan jamasan diharapkan benda pusaka atau peninggalan bersejarah ini awet dan tidak rusak digerogoti korosi, sehingga masih bisa dinikmati untuk generasi selanjutnya, ” terang Mbah Cholik

“Kalau pemilihan tempat dan waktu ini sabtu pon malam minggu wage , merupakan kegiatan seperti ini bisa membawa berkah bagi masyarakat sekitar,” urainya.(Ilham Triadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *