Ini semua berawal ketika aku meminta izin untuk menyimpan foto-fotonya kala kami terlibat wawancara untuk sebuah majalah. Kami akhirnya terlibat percakapan yang menakjubkan. Entah siapa yang memulai. Mungkin aku. Mungkin dia. Yant.
“Boleh foto-fotomu kusimpan?” Yant memprotes, keberatan jika foto-fotonya kujadikan koleksi di ponselku. Namun, akhirnya dia menyerah. “Mau kamu apakan foto-foto itu?” Kukatakan padanya hal yang pertama melintas di benakku “Ini awal mula pemujaanku padamu.”
Demikianlah kisahnya bagaimana aku menjadi kolektor foto untuk membuat video-video singkat kami dan terus memantau hubungan Yant dan diriku. Setiap potongan foto berbagai acara dia dan aku, aku jadikan gambar-gambar hidup yang kusimpan di album kami berdua. Ditambah berbagai macam musik yang mengiringi. Mulai dari lagu “It Must Have Been Love” dari Roxette, “Right Here Waiting” dari Richard Marx, “On My Way” dari Alan Walker, “Shoulder To Cry On” dari Tommy Page sampai lagu-lagu lokal “Suara” manjanya Luna Maya, “Cinta Karena Cinta” dari Yudika, “Akhirnya Ku Menemukanmu” dari NaFF, “Jangan Berhenti Mencintaiku dari Titi DJ.
Aku membingkai gambar-gambar hidup itu dan menatanya di album ponsel kesayanganku. Aku senang bisa punya ponsel super canggih. Aku bahkan punya aplikasi aroma, tinggal klik dan aroma Yant menyeruak keluar dari lubang atas ponsel itu. Sebuah lubang kecil sebesar lubang kamera di sana. Aroma Yant sebenarnya aroma parfum yang dipakainya. Aneh, biasanya diriku mual dan muntah dengan bau parfum jenis dan wangi apa pun.
Tapi Yant beda, jangankan parfum, aroma keringatnya pun ku suka. Aku memintanya mengirim aromanya saat melatih karate, memberi materi kepelatihan, ketika rapat di kantor bahkan saat menggeliat bangun tidur.
Dalam berbagai file, kusimpan catatan dan rekam data yang amat rinci tentang semua video-video dan aroma-aroma itu. Selain deskripsi tentang setiap video, kucatat juga di mana dan bagaimana, serta kapan video dan aroma itu dibuat.
Hal terakhir itu sungguh amat penting karena selama setahun kami berkencan, yang berarti selama itu pula ponselku telah menjadi gudang beragam kejadian – seperti yang sering kukatakan kepada Yant- “labirin pemujaan yang menakjubkan.”
Kini aku berdiri di dalam labirin itu- dan rupanya Yant telah menemukan pintu keluar dari sana- dan menatap heran saat ternyata semua video-video dan aroma- aroma itu kini telah kehilangan kilau dan wanginya. Segala yang merupakan pengingat dan rekaman pemujaan, kini telah menjadi limbah kenangan, sampah tak berguna.
Ketika Yant berkata kepadaku bahwa hubungan kami telah berakhir, aku tidak berpikir tentang limbah atau sampah. Dia berkata begitu tiba-tiba, meski terbata- bata. Saat kami duduk di tribun, menonton kejuaraan karate malam itu dan seharusnya kami merayakan ulang tahun kebersamaan kami yang pertama sejak awal pemujaan.
Aku baru saja berdiri, mengangkat botol air mineral dan hendak memberikan padanya, saat dia memotong,” Turunkan botol itu, ada hal yang ingin kukatakan padamu.”
Suaranya mendadak jadi terdengar dingin, padahal selama ini terasa hangat, bahkan panasnya mampu membuatku terbuai. Aku duduk, menaruh botol dan melirik Yant yang duduk di sampingku. Tak bisa kuterka apa yang bakal disampaikannya.
Yant menggeser letak duduknya agar bisa berhadapan denganku. Aku juga melakukan hal yang sama. Dia juga menggeser letak botol air mineral, piring kertas bekas kentang goreng yang menghalangi kami. Lalu berkata, “Kurasa sebaiknya kamu berhenti memintaku mengirim foto dan aromaku ke ponselmu.”
Suaranya begitu dingin membekukan kedua kupingku. Aku tak punya pilihan. Kugigit bibirku yang bergetar, sambil terus menatapnya.
Dia mengatakan bahwa kami pernah bahagia bersama. Bahwa aku pernah menjadi perempuan yang sangat diinginkannya. Sehingga betapa sangat menyesal jika sampai harus berpisah. Tetapi hidup adalah pilihan-pilihan.
“Sekarang hubungan kita berakhir. Aku harus pergi.” Dia memindahkan kembali piring kertas bekas kentang goreng dan botol air mineral, sehingga berada di antara kami lagi, lalu dia beranjak pergi.
Saat itulah ide tentang sampah melintas di benakku. Jika sebelumnya hatiku akan meleleh setiap kali melihat video- videonya, kini hanyalah gambar-gambar hidup yang memuakkan. Jika sebelumnya aromanya memabukkanku, sekarang betul-betul telah membuatku mual.
Kusadari, cinta tak hanya membuatku buta, tapi juga menulikan telingaku, menumpulkan indra penciumanku juga menghambat indra perasa dan perabaku.
Kukutuk cinta dan Yant serta takdir yang mempertemukan kami dan memisahkan kami. Sungguh, ini bukan kesalahanku. Memang semakin dahsyatnya aku memujanya semakin aku berkembang menjadi seorang kolektor ketimbang menjadi seorang kekasih. Tapi semua kulakukan justru demi cinta. Seandainya Yant mau mendengarkanku sekali lagi, pasti semua akan berubah. Tapi sudah telat.
Betapa cepatnya cinta lenyap dan berbalik seperti benda yang tak mau disebut oleh seorang Gichin Funakoshi, yaitu kaos kaki. Tapi, daripada sampah cintaku, kaos kaki bekas, lebih baik. Bisa didaur ulang.
***
Oleh : Eni Kusuma


Komentar