Banyuwangi, JurnalNews — Dunia perfilman Banyuwangi kembali menunjukkan geliatnya. Sekelompok anak muda kreatif yang tergabung dalam KRESEK ENTERTAINMENT, komunitas sineas yang berbasis di Srono, merilis sebuah film horor terbaru berjudul “Darma Malam Kelahiranku” Jumat (14/11/25)
Film karya Muftiurrahman ini mengangkat kisah yang berakar dari kepercayaan budaya masyarakat lokal tentang larangan bepergian pada hari dan weton kelahiran, yang diyakini dapat membawa celaka bagi pelakunya. Keyakinan tradisional inilah yang menjadi fondasi cerita film tersebut. Kisah Petualangan Empat Remaja dan Teror Weton Kelahiran
Film berdurasi ±90 menit ini sebagian besar lokasi gambarnya diambil di kawasan hutan pinus Songgon yang terkenal dengan sebutan Swiss van Banyuwangi. Disajikan dalam dua bahasa—Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa—untuk memperkuat nuansa lokalitas. Cerita berpusat pada petualangan empat remaja: Darma dan tiga sahabatnya yang melakukan perjalanan mendaki gunung. Di tengah hutan, mereka bertemu seorang kuncen, penjaga wilayah tersebut, yang memperingatkan agar rombongan segera kembali. Namun dengan rasa penasaran dan semangat petualangan, Darma dan teman-temannya justru memilih melanjutkan perjalanan.
Keputusan itu membawa mereka pada rangkaian peristiwa mistis yang mencekam dan perlahan merenggut nyawa satu per satu, termasuk Darma sendiri. Kejadian tragis itu ternyata bertepatan dengan hari sekaligus weton kelahirannya, titik utama yang menjadi inti horor film ini.
Screening Diwarnai Diskusi dan Kritik Membangun
Screening film “Darma Malam Kelahiranku” digelar hari Jumat, 14 Nopember 2025 di Ruang Sinema Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, dipandu oleh Kabid Pemasaran Disbudpar, Ainur Rofiq, sebagai pembawa acara sekaligus moderator.
Acara ini juga dihadiri sejumlah sineas senior Banyuwangi, termasuk Bambang Harjito, serta komunitas dan pemerhati film dari berbagai wilayah di Banyuwangi.
Dalam sesi diskusi, beberapa catatan kritis muncul, terutama pada aspek:
• Intonasi dialog yang dinilai masih kurang natural, cenderung seperti gaya teater.
• Makeup dan kostum yang masih perlu banyak peningkatan.
• Pemilihan pemeran (casting) yang dianggap kurang tepat untuk beberapa karakter.
Catatan Penting: “Based on True Story” atau “Based on Culture”?
Sineas senior Bambang Harjito menyoroti pentingnya pemahaman konsep dalam penulisan kredibilitas cerita. Ia menegaskan bahwa label “Based on True Story” seharusnya hanya digunakan ketika kisah yang diangkat benar-benar pernah terjadi secara faktual.
Sementara dalam film ini, cerita lebih banyak bersumber dari kepercayaan budaya masyarakat setempat. Karena itu, menurutnya, lebih tepat bila film tersebut diberi label “Based on Culture”, bukan “Based on True Story”.
Apresiasi: Karya Anak Muda dengan Cinematografi Menjanjikan
Meski demikian, secara umum film ini mendapat apresiasi positif. Menurut Andre Waluyo dari Sanggar Merah Putih 45, hasil produksi “Darma Malam Kelahiranku” tergolong sangat baik untuk ukuran film yang dikerjakan anak-anak muda.
Ia menilai aspek cinematografi dan manajemen scene dalam beberapa adegan terlihat matang dan menunjukkan potensi besar bagi perkembangan industri sineas Banyuwangi.
DARMA MALAM KELAHIRANKU menjadi bukti bahwa kreativitas generasi muda Banyuwangi terus tumbuh, sekaligus menandai langkah KRESEK ENTERTAINMENT dalam kontribusinya pada dunia perfilman lokal Banyuwangi. (AW)


Komentar