Pagi belum beranjak pergi, sekumpulan anak anak dari usia 5 sampai dengan 12 tahun berlari lari kecil. Setelah itu dilanjutkan dengan latihan fisik keseimbangan dan kelenturan tangan. Para penari kecil baik laki laki maupun perempuan berlatih dengan gigih dan riang gembira. Latihan yang dengan rutin digelar setiap minggunya di sawah art yang terletak di Desa Kemiren kecamatan Glagah Banyuwangi Jawa Timur.
Kali ini Minggu, 14 Maret 2021 hari ini ada yang istimewa dari sawah art yang berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendirikan sekolah adat, mereka menggelar sinau bareng yang dihadiri oleh ikatan mahasiswa Banyuwangi (Imaba) yang kuliah di Jember. Senyampang perkuliahan masih dilakukan secara daring, Imaba berkomitmen untuk bermitra dengan sawah art.

Seperti yang disampaikan oleh Samsul selaku pemilik sekaligus pengurus sawah art, ” Teman-teman Imaba berkolaborasi saling mendayagunakan kompetensi ilmu yang dimiliki. Diantaranya dari Imaba yang mempunyai talenta tari, maka akan melatih tari kepada anak anak yang tergabung dalam sawah art. Sedangkan sawah art yang mana pengurusnya mempunyai banyak talent akan memberikan materi tentang budaya Banyuwangi di Kemiren”.
Seperti pagi ini, ketika anak-anak sawah art berlatih dasar wiraga, maka sekitar 25 anggota Imaba belajar tentang batik klasik Banyuwangi di Kemiren.
Pemateri kali ini yakni Ilham Syaifullah. Ilham menyampaikan tentang macam, filosofi serta fungsi batik di Desa Kemiren. Ilham menyampaikan bahwa motif batik klasik khas Banyuwangi ada 11 macam. Motif tersebut yakni; sekar jagat, suluk, wader kesit, kluwung, kopi pecah, gajah oling, paras gempal, manuk kecaruk, gedekan, cacing dan galaran. Kekhasan lain yakni dari warna yang keluar dari daun dilem sebagai pewarna alami pada masanya dulu, maka batik Banyuwangi berwarna coklat tanah yang basah.

Tidak hanya itu, Ilham menyampaikan tentang pemanfaatan batik yang jarang diketahui oleh orang. Diantaranya motif wader kesit yang digunakan sebagai jain panjang untuk menggendong bayi karena berharap bayi yang sedang masa perkembamga dalam gendongan diharapkan selalu sehat, kreatif dan tekun dalam berbagai hal kebaikan. Kemudian fungsi motif kluwung, biasanya digunakan untuk menggendong “maesan” atau batu nisan. Kluwung yang berarti busur, diharapkan jenazah yang dihantarkan ke pemakaman akan mendapatkan jalan yang mulus dan cepat menuju syurga.
Sawah art yang di gagas sejak bulan Januari 2021 lalu merupakan salah satu tempat belajar budaya yang ada dan dijalankan di Kabupaten Banyuwang. Keberadaan sawah art memang sangat membantu menciptakan ekosistem mencintai budaya lokal untuk menguatkan rasa cinta tanah air kepada Indonesia.
Seperti yang di lansir oleh Bapak Hasan Basri selaku Ketua Dewan Kesenian Belambangan (DKB) Banyuwangi saat pembukaan sawah art kala itu.
“Keberadaan sawah art sangat didukung pula oleh kerawat Desa setempat sehingga keberlanjutannya perlu dijaga, ” Ungkap Dedi mahasiswa Poltek Banyuwangi yang sengaja menyempatkan diri mengikuti sesi pesinauan hari ini. Karena menurut Dedi, pembelajaran batik merupakan pembelajaran tentang hidup dan kehidupan. Agar kita tidak lupa dikandung badan ada, oleh dan untuk Indonesia. (Yeti Ch)


Komentar