oleh

FEMINISME DAN PERAN RA KARTINI MASA KINI

Kemarin tanggal 21 April hampir di semua status yang beredar di jejaring media sosial memasang profil salah satu pahlawan feminisme Indonesia yakni RA Kartini. Ya, di tanggal tersebut tepatnya 21 April 1879 lahirlah wanita yang bernama Raden Ajeng Kartini. Tidak hanya foto RA Kartini yang dipampang di status medsos itu tetapi juga ucapan selamat hari Kartini dan ada juga yang menambahkan dengan Doa pengharapan.Tahun ini sudah 142 tahun kita peringati sebagai hari lahirnya sosok wanita yang berani memperjuangan hak hak di era itu. dimana kaum wanita saat itu menjadi kaum yang sangat lemah, tertindas dan menderita. Bagaimana gerakan feminisme dan perlawanan yang dilakukan Kartini muda saat itu akhirnya, ya.. dapat kita lihat hari ini, wanita memiliki hak serta kesempatan yang sama dengan kaun pria seperti mendapatkan pendidikan, pekerjaan, kesehatan dan sebagainya. Bagaimana saat ini, banyak wanita yang memiliki andil, peran dan kemampuan yang tidak kalah hebat dengan kaum pria dalam memberikan sumbangsih tenaga serta pikirannya dalam pembangunan bangsa ini. Berbicara feminisme berarti berkaitan dengan gerakan emansipasi, sementara emansipasi sendiri identic dengan kaum hawa yang memperjuangkan hak-haknya yang selama ini merasa tertindas. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia makna Feminisme adalah : gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. Gerakan feminisme ini sendiri muncul dan ada sejak akhir abad ke 18 dan berkembang pesat hingga abad ke 20 di eropa. Feminisme sendiri berasal dari Bahasa latin yakni femina atau perempuan dan istilah feminisme sendiri mulai dihembuskan sekitar tahun 1890an. Tercatat di Indonesia sendiri saat zaman kolonialisme peran wanita sangat terkungkung dan tidak mendapatkan kesempatan sederajat dengan kaum pria, hanya wanita dari kaum ningrat, priyayi dan bangsawan yang mendapatkan kesempatan yang sama dengan kaum pria, itupun terbatas geraknya. Sehingga dapat dikatakan sangat langka wanita di era kolonialisme atau penjajahan tampil sebagai leader karena masih adanya persepsi yang dimunculkan bahwa wanita tugasnya hanya macak, manak, masak.

Penjajahan terhadap hak — hak kaum wanita saat itu cukup massif dan tersistem yang menyebabkan peran wanita sangat minim sekali. Kalaupun di zaman itu ada wanita yang tampil sebagai tokoh inisiator pergerakan feminesme maka segera dilakukan pencekalan oleh pihak penguasa setempat atau mereka-mereka yang tidak menginginkan wanita tampil sebagai seorang yang dominan. Toh demikian, dengan kondisi yang tidak berpihakpun terhadap kaum wanita saat itu, masih ada dan muncul gerakan-gerakan pemberontakan kaum feminisme, walau dengan cara dan metode perjuangan yang berbeda-beda, Tokoh-tokoh perempuan ketika itu melakukan gerakan perlawanan atas ketertindasannya, ada yang melalui media konfrontatif fisik diplomasi atau dengan menggunakan senjata pena. Dengan pembatasan ruang lingkup di era itu, kaum wanita diharapkan tidak akan menjadi pesaing kaum pria. Bahkan wanita kala itu sangat di “eman-eman” dan di jaga sangat ketat setiap tindak-tanduk dan prilakunya agar dapat bersikap sopan, tunduk kepada kaum pria. Konsep Patriaki inilah yang menyebabkan gesekan-gesekan dan tumbuhnya perlawanan dari kaum wanita di masa itu. Terus, bagaimana dengan situasi kondisi saat ini ? apakah prilaku dan aturan-aturan terhadap kaum wanita masih dalam budaya patriaki atau sebaliknya berubah menjadi budaya matriarki, dimana dominasi kepemimpinan ada ditangan perempuan?. Nah, dalam perkembangan saat ini, justru yang dikhawatirkan adalah munculnya superior power dalam penerapan peran emansipasi, mengapa? hal ini dapat kita amati dari pergeseran prilaku sosial saat ini seperti munculnya kelompok sosialita, borju dan kalangan jetset yang memiliki label stereotype wanita high class yang terkesan dengan kehidupan glamour, elite. Jika hal tersebut hanya untuk sekedar menunjukkan eksistensi kelompoknya sih, masih dapat dipahami namun bila eksistensi tersebut ditujukan untuk meruntuhkan dominasi lainnya, ini yang akan menimbulkan konflik baru. Justru seharusnya kekuatan yang mereka miliki saat ini dapat membantu kaumnya yang masih tertindas. Sebab masih banyak kelompok atau komunitas-komunitas wanita pinggiran yang harus berjuang menegakkan emansipasinya agar terbebas dari kemiskinan, kebodohan, diskriminasi kesehatan, ekonomi, social dan politik bahkan kungkungan patriaki, mereka berupaya dengan sekuat tenaga untuk dapat menjadi wanita seutuhnya.

Namun demikian emansipasi yang ada saat ini harus di barengi dengan kesadaran hati dan pikiran bahwa tugas dan tanggung jawab yang selama ini dijalankan bukan berarti di oper alihkan ke kaum pria. Saya kira bukan itu esensi dari makna emansipasi sesungguhnya tetapi peran dan tugas antara kaum pria dan wanita dapat saling mengisi, mendukung dan menutupi. Jangan sampai terjadi, bahwa salah satu golongan harus merosotkan derajat haknya agar dapat setara atau sama.
Karena bila gerakan feminisme ini tidak dijaga dan dirawat dengan baik, dikhawatirkan menjadi gerakan emansipasi yang “kebablasan” yang berakibat kepentingan, tugas dan tanggung jawabnya menjadi tumpang tindih. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia emansipasi memiliki dua makna : yang pertama adalah Pembebasan dari perbudakan, yang kedua adalah persamaan hak di bebagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria). Kata emansipasi sendiri adalah serapan dari Bahasa Inggris “emancipation” yang bermakna asal dari bahasa latin “ex manus capere”(detech from the hand) atau lepas dari genggaman atau lepas dari belenggu. Emansipasi juga bersinonim dengan kata merdeka. Dapat di artikan bahwasanya emansipasi adalah milik semua golongan tidak melihat status gender, ras, suku. Dalam salah satu tulisannya di harian portal nasional (detiknews) Hasan Abdurakhman seoarang cendikiawan mengatakan :

“Emansipasi adalah membangkitkan kesadaran bahwa perempuan adalah ibu bagi setiap manusia, sehingga tak ada ruang lagi untuk memandang mereka tidak setara denga laki-laki. Bagaimana mungkin laki-laki bisa lebih tinggi dari sosok yang melahirkannya?”.

Sedangkan Abdul Rachman Husein mengatakan : “wanita adalah seorang ibu sekaligus pendidik yang luar biasa”. Sementara makna ibu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia salah satunya adalah: “panggilan yang takzim kepada wanita baik yang sudah bersuami maupun yang belum”. Pertanyaannya adalah mengapa wanita atau ibu ini adalah sosok yang memiliki keistimewaan ?. Makhluk yang diciptakan dari tulang rusuk pria ini adalah sosok makhluk pendamping yang dapat memberikan kesejukkan, kedamaian di dalam keluarga, serta lingkungannya. Yusuf Al Qaradhawi menyebutkan : “wanita adalah penyempurna bagi laki-laki”. Tentunya dengan sentuhan, kelembutan serta kasih sayangnya, wanita atau ibu akan menjadi very important and special person dan benteng dalam menghadapi berbagai traumatic diskriminasi serta mampu menjadi balancing dan roh dalam roda kehidupan dimanapun ia berada tanpa harus meninggalkan kewajiban-kewajibannya dan juga terpenuhi akan hak-hak yang diperolehnya. Sehingga dengan adanya kesejajaran ini akan menaikan derajat nilai bahwa ibu, wanita adalah sosok kaum yang memiliki power, pesona, pengaruh dan menjadi inspirator di dalam segala aspek kehidupan tanpa melupakan kodratnya.

Selamat Hari Kartini, semoga wanita wanita Indonesia masa kini mampu dan dapat meneladani watak dan sikap dari seorang wanita Jepara yang bernama lengkap Raden Adjeng Kartini Djojo Adhiningrat itu. (Nur Prasetyo Pemimpin Perusahaan Majalah Keboundha)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *