Upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi melalui Bappeda, Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pemerintahan Kabupaten Banyuwangi menginisiasi dan mendorong Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan (RPKP) dengan mengembangkan Kawasan Perdesaan selingkar Alas Purwo dan Kawasan Selingkar Sukamade. Kabupaten Banyuwangi termasuk bagian dari 62 wilayah Kawasan Perdesaan Perioritas Nasional (KPPN). Kondisi tersebut merupakan peluang yang sangat menguntungkan, apabila mampu dimanfaatkan dengan baik. Keseriusan pemerintah daerah Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan Focus Group Dicussion (FGD) Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan (RPKP) Selingkar Alas Purwo dilaksanakan di Ruang Rapat BAPPEDA Lt. III Banyuwangi, Rabu (23/06).
Peserta FGD terdiri dari unsur akademisi dan SKPD terkait antara lain : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Banyuwangi, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kab. Banyuwangi, Dinas Pertanian dan Pangan Kab. Banyuwangi, Dinas PU Cipta Karya, Perumahan dan Pemukiman Kab. Banyuwangi, Dinas PU Pengairan Kab Banyuwangi, Dinas Koperasi, UM dan Perdagangan Kab. Banyuwangi, Dinas Perikanan Kab. Banyuwangi, Kasi Pemberdayaan Masyarakat dan Kesra Blimbingsari, Muncar, Cluring, Purwoharjo dan Tegaldlimo, Ketua BPKAD Pengawas Alas Purwo dan, Tenaga Pendamping Kawasan Pedesaan dan Bidang-Bidang Bappeda.

Khoirul Hidayat, S.STP, Kasubid Pendidikan dan Kesehatan, dalam sambutan pada pembukaan kegiatan FGD menyampaikan “Agar kegiatan Focus Group Dicussion (FGD) Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan Selingkar Alas Purwo Kabupaten Banyuwangi mampu membangun kesamaan potensi, kesamaan karakter kawasan perdesaan agar kemajuan Kabupaten Banyuwangi merata. Munculnya potensi-potensi unggulan dari masing-masing desa tentunya akan berdampak positif pada peningkatan ekonomi masyarakat, ”ungkapnya.
Menurut Titov Chuk’s Mayvani, SE., ME menyampaikan bahwa “Desa sebagai ujung tombak perekonomian, tempat keberadaan potensi ekonomi daerah mulai sektor pertanian, peternakan dan perikanan. Namun sayangnya potensi tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik karena belum optimalnya potensi daerah, hal tersebut karena keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan tekhnologi dan sebagainya. Dibentuknya RPKP sebagai solusi dan sekaligu harapan mempercepat dan meningkatkan kualitas pelayanan, pengembangan ekonomi, pemberdayaan masyarakat desa, ”Ungkap Dosen Trunojoyo Madura.

Titov Juga menambahkan salah satu meningkatkan perkembangan ekonomi masyarakat dibutuhkan strategi dengan mensinergikan kerjasama antar desa dengan potensi-potensi yang dimilikinya. Namun upaya ini juga dibutuhkan partisipasi dengan mengintegrasikan berbagai kebijakan, rencana, program, dan kegiatan para pihak pada kawasan yang sudah ditetapkan.
Tema yang diangkat dalam kegiatan FGD Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan Selingkar Alas “Agroecoedu Wisata” artinya melalui potensi yang ada di desa dapat dikembangkan menjadi Agroindustri, Agrowisata, Wisata dan Edukasi. Maka Tahapan 5 tahun pembangunan Kawasan Perdesaan Selingkar Alas Purwo dengan peningkatan kapasitas sumberdaya kawasan, penguatan identitas spasial wilayah kawasan, dan akselerasi aktivitas ekonomi kawasan.
Nur Mahmudi, S,Pd. Pendamping Kawasan Pedesaan, Kementerian Desa menambahkan bahwa “Setiap tahun kawasan Alas Purwo melakukan evaluasi baik dari bidang ekonomi, sosial budaya, lingkungan, jejaring dan kelembagaan. Hal ini dilakukan sebagai upaya apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan, salah satunya dalam upaya membangun kawasan perdesaan, ” tambahnya.
Diskusi dipandu oleh Daru Surya Putra, S.E, selaku Kasubbid Pemerintahan dan sosial budaya, berlangsung nyaman, mengalir, dan Gayeng lantaran semua peserta Focus Group Dicussion (FGD) diberikan kesempatan untuk ikut memberikan masukan dan saran. Kegiatan FGD mendapatkan banyak apresiasi, masukan dan saran yang positif dari peserta. Salah satunya Kepala Desa Kaliploso menyampaikan bahwa “RPKP selingkar Alas Purwo sebagai pedoman dalam membangun Kawasan Pedesaan sangat bermanfaat sekali. Program dan kegiatan RPKP Selingkar Alas Purwo sangat baik. Namun potensi yang sudah ada tetap di memaksimalkan agar terus berkembang serta perlunya pendampingan kelembagaan menjadi penting, misalnya pendampingan kepada kelompok tani, peternakan dan perikanan agar berkelanjutan, ”Ungkap Rudiyanto.
Hal yang sama juga disampaikan Edi Purnomo bahwa pengembangan Pedesaan juga tidak bisa dilepaskan Infrastruktur pendukung, oleh karena itu dibutuhkan sinergisitas sektoral. Hal senada juga disampaikan oleh Edi Muyono bahwa untuk mengembangkan wisata dibutukan inovasi-inovasi dalam mengembangkan potensi desa. (Miskawi Kebangsaan).


Komentar