Masyarakat yang ada di ujung paling timur Pulau Jawa merupakan masyarakat agraris karena sebagian besar masyarakatnya hidup dari sektor pertanian atau bercocok tanam di persawahan baik sebagai pemilik sawah maupun sebagai petani penggarap sawah. Begitu suburnya tanah pertanian di Banyuwangi, sampai-sampai pernah meraih predikat sebagai daerah Lumbung padi tingkat nasional pada tahun 1979, dari kehidupan agraris ini tidak mengherankan jika muncul kearifan lokal berupa adat atau tradisi yang terkait dengan tata cara pengelolaan tanah pertanian.
Tokoh adat Osing Dusun Talun Jeruk Desa Glagah Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi-Jawa timur Bapak Sanusi Marhaedi yang dikenal dengan sebutan Kang Usik KOPAT (Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi) menjelaskan bahwa :

“Upacara Adat Tradisi Selametan Sawah dilakukan oleh generasi terdahulu dan kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya,”ujarnya.
Lebih lanjut menurut pitutur dari sumber yang sama mengatakan bahwa Tradisi selamatan sawah dilakukan secara turun temurun dan masih dilaksanakan sampai saat ini khususnya di Dusun Talun Jeruk dan umumnya di Desa Glagah.
Bapak Sumartono Selaku pemilik sawah yang kebetulan hari ini Minggu (04/07/2021) menyelenggarakan tradisi selamatan sawah, diberi kehormatan untuk menancapkan benih padi yang pertama, setelah itu barulah dilaksankan ritual Adat Tradisi “selamatan sawah” yang diawali dengan pembacaan do’a lalu dilanjut makan bersama. Untuk melaksanakan upacara adat ini, Pak Sumartono selaku pihak yang mempunyai hajad telah mempersiapkan macam makanan antara lain ada Nasi Tumpeng, ada Pecel Phitik (pecel ayam), jenang merah putih dan aneka jajanan.
“Maksud dari tradisi selamatan ini adalah memohon kepada Allah semata berupa keselamatan buat yang punya sawah dan bagi pekerja yang menanam padi agar tanaman padi nya tumbuh subur, bebas dari hama, serta hasil panenannya bagus,” tegasnya.
Setelah dilakukan doa selamatan oleh Sesepuh adat, makanan tersebut dibagikan kepada warga petani yang hadir di sawah.
“Upacara tradisi ini telah dilaksanakan secara turun temurun, juga merupakan kegiatan nguri-uri (melestarikan) budaya. Jika tidak dilaksanakan ada semacam sanksi sosial dari warga, apalagi kalau hasil panen tidak bagus,” Pungkas Pak Sanusi KOPAT.
(Hariyanto)


Komentar