oleh

Mata Tidak Jadi Layu Digoyang Sinden Wayang Kulit Di Pendopo Desa Tampo

CLURING – Wayang kulit semalam suntuk di pendopo desa Tampo kecamatan Cluring itu membius warga yang menonton. Pagelaran itu dilaksanakan pada Jumat pukul 20.00 WIB sampai selesai. Sabtu (29/08/2018).

Pagelaran itu dalam rangka bersih desa dan diselenggarakan satu tahun sekali, walau lokasi tidak luas namun warga sangat antusias.

Warga yang datang untuk melihat dibekali jajanan oleh para among tamu, juga dipersilakan dahar.

Sebelum kepala desa menyerahkan gunungan (wayang), para sinden dan bintang tamu sempat menggoyang penonton dengan beberapa alunan  lagu, membuat mata pemirsa dilokasi tidak jadi layu.

Pertunjukan wayang kulit yang sudah dinanti warga mulai dari beberapa hari itu berjudul “Wahyu Senopati” kulit berukir itu dimaninkan oleh dalang kondang Ki.Heri Prastio dari Dusun Cemetuk, Cluring. Banyuwangi.

Malam semakin larut Saatnya kulit menyerupai gunung berukir kehidupan itu diserahkan oleh kepala desa tampo Suparno kepada sang dalang yang nyentrik berambut panjang. Itu bertanda saatnya dimulai dan lakon dijalankan.

“Kita serahkan gunungan (wayang) untuk melanjutkan lakon yang sudah dipersiapkan.” Ucap Kades.

Acara ini dalam rangka bersih desa selain bertujuan menghibur masyarakat agar mengerti filosofi kehidupan yang diceritakan lelakon wayang yang dimainkan.” Kata Kades

Saat sambutan, Suparno juga menyinggung pembangunan dikantor desa yang sekarang sedang dilaksanakan.

“Kantor kita sedang perbaikan agar tidak lagi banjir jika musim hujan, supaya pelayanan didesa kita tidak terhambat.” tambahnya.

Sementara warga yang melihat tidak seperti menonton pertunjukan Janger yang penontonnya selalu penuh, sedangkan pagelaran ini penonton hanya segelumit namun penuh hikmat.

Ebit warga dusun krajan desa Tampo yang sengaja ingin melihat pagelaran tersebut menceritakan asiknya nonton wayang.

“Awalnya saya ngantuk banget mas, setelah melihat Sindennya bergoyang langsung ilang rasa kantuk saya.” Ucapnya.

Ebit bersama teman lainnya tertawa saat menjelaskan kepada media, memang swasana malam saat itu sangat penuh kehangatan dan kesakralan karena baru pertama pagelaran wayang kulit ditaruh dipendopo desa Tampo. (Rony)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *