oleh

TRADISI MBANGUN NIKAH, ADAT USING BANYUWANGI DI BALI

-Berita-3.686 views

Dalam pernikahan, sepasang suami- istri pasti mengharapkan rumah tangga yang langgeng (Shakina Mawada Warahmah). Hal tersebut pastinya menjadi idaman dan juga keinginan pasutri baik yang baru menikah/sudah lama mengarungi pernikahan.

Dalam perjalanan suatu pernikahan tentu ada proses, yang semuanya tidaklah mulus. Dalam masyarakat kita bisa dijumpai ada masalah yang berhubungan baik itu internal atau external.

Dari dalam biasanya berasal dari pasutri sendiri, juga unsur keluarga/orang tua, saudara dan kerabat. Sedangkan dari luar pengaruhnya umum seperti teman, lingkungan, masyarakat juga komunitas. Yang sering menyulut perbedaan dan memicu masalah adalah urusan anak -anak.

IMG-20210330-WA0097

Untuk itu biasanya dalam pernikahan yang bermasalah (ada pertengkaran yang menyebabkan ketidak harmonisan keluarga, dan menimbulkan masalah lain)sampai terlontar kata- kata yang bisa menyakiti kedua fihak (pasutri) bahkan tidak jarang terucap talaq yang samar, ada yang tidak sengaja, pisah ranjang dll.  Semua bisa merusak keharmonisan rumah tangga,yang berpengaruh kepada terhambatnya rejeki bagi keluarga.

Dalam tradisi islam, ada upacara atau adat yang berkaitan memulihkan/merukunkan kembali pasangan suami istri dalam bentuk pernikahan ulang. Mbangun Nikah/Nganyari Nikah biasanya masyarakat menyebutnya.

IMG-20210330-WA0100

Tradisi Mbangun Nikah/Nganyari Nikah ini hari Kamis malam Jum’at/25-03-2021 disaksikan sendiri oleh penulis disebuah dusun Kaba-Kaba dekat desa Nyambu Tabanan Bali.

Pasutri yang membangun nikah bernama Irwan (Macan Putih) dan Miswanah (Glagah) yang sudah berumah tangga selama 12 tahun.
Keduanya memiliki 2 putri (Kayla dan Kayra usia 11 dan 5 th).

Keduanya tinggal di banjar dukuh Pande, Munggu, Mengwi Badung Bali. Berlatar belakang petani tulen keduanya mengikuti jejak orang tuanya hijrah ke Bali, juga membantu pekerjaan sebagai petani di sawah.

Lekat dekangan budaya yang tidak bisa ditinggalkan dari tanah kelahiran, apapun yang berkaitan dengan upacara tradisi dari bumi Blambangan tetap dipakai ditanah para dewa. Menurut ayahnya pak Syawali (tokoh petani penggarap di Bali),”Using biso ninggalaken weluri dugi nggriyo nopo mawon kedah dilampahi ngangge slametan coro Banyuwangi kulo”(tidak bisa meninggalkan tradisi dari rumah,apa saja memakai cara seperti yang dilakukan leluhur dari banyuwangi), “katanya.

Upacara/Tradisi Mbangun Nikah ini sama seperti orang yang mau menikah, yaitu ada pengantin, wali, dan saksi juga ijab kabul dan mahar. Bertindak sebagai penghulu Ustazd Widodo dari Kampung Santri Bali, wali nikah pak Syawali ayah dari Miswanah dan saksi pak Ahmad dan pak Zaki kerabatnya.

Sebelum dinikahkan keduanya dipersilahkan duduk disaksikan semua undangan/kerabat yang hadir,dan ditanya kesiapannya untuk membangun nikah, setelah mendapatkan jawaban, acara ijab kabul pun berjalan dengan lancar dan diakhiri dengan doa dan nasehat pernikahan singkat berdasarkan Qur’an dan hadist.
Keharuan dan kekhusukan tampak saat doa dan nasehat pernikahan disampaikan, sampai ada yang meneteskan air mata.

Selesai penyerahan mahar dan lainnya yang langsung disambut bahagia oleh bu Miswanah dari suaminya Irwan, kebahagiaan pun segera mencair keseluruh undangan. Dihadapan semua keluarga suku using Banyuwangi ini menggelar kuliner tradisi kawinan wong using yaitu: Tumpeng Robyong lengkap dengan ube rampenya(daun kluwih, alang2, tebu, puring, dll) simbol filosofi kemakmuran kehidupan. Ayam Ingkung/Petheteng lengkap dengan pecel klopo parut dan juga pecelan janganan, pelas klopo jagung, mie, telor bali, ayam kuah soto, tempe tahu kare.

Yang tidak ketinggalan bubur merah putih/jenang abang juruh santan dan jajanan pasar, teh kopi wedang legi.
Yang paling penting sekali dan tidak pernah ketinggalan adalah dupa pengasapan, menambah harum semerbak ruangan juga kesakralan acara Mbangun Nikah tersebut yang menandai dimulainya kehidupan baru bagi sepasang suami istri tersebut dengan mengubur dan melupakan semua hal tidak baik yang pernah terjadi,mengawali hidup rumah tangga baru Sakina Mawada Warahmah seperti harapan dan doa semua kerabat dan undangan yang menyaksikannya.

Tradisi leluhur yang dijaga dengan baik dan dilestarikan, meskipun ditanah rantau membawa kebanggaan dan kecintaan atas semua rahmat Allah SWT diatas buminya yang luas ini.

(Ambarwati Soenarko-Tabanan Bali).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *