oleh

Nya Wiji, Menabur Karya Menuai Budaya Tari untuk Kedamaian dan Persaudaraan

Dalam rangka Hari tari sedunia, bertempat di Rumah Budaya Kebo-Keboan  dalam menjadi saksi bergeliatnya tari di Banyuwangi, Hari ini 29 april 2021 adalah hari tari dunia

Selamat Hari Tari, Menabur
karya menuai budaya. Bertajuk  “Nya Wiji” Tari untuk kedamaian, persaudaraan. Melintas batas etnik, bahasa, agama dan segala yang membatasi para seniman muda untuk mengeksplor kreatifitasnya.

IMG-20210430-WA0006

Sedikitnya 34 penampilan tari perorangan maupun kelompok yang pertama di Banyuwangi didukung oleh Dewan Kesenian Blambangan dan seluruh sanggar tari di Banyuwangi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Tanggal 29 April merupakan hari kelahiran Jean Georges Noverre (1727-1810), pencipta balet modern yang kemudian ditetapkan sebagai International Dance Day atau Hari Tari Sedunia sejak tahun 1982.

IMG-20210430-WA0004

Memperingati Hari Tari Sedunia tersebut, Rumah Budaya Kebo-Keboan Alasmalang Kecamatan Singojuruh Banyuwangi mempersembahkan sajian bertema “Nya Wiji”

Dalam kesempatan tersebut, Hasan Basri Ketua DKB ( Dewan Kesenian Blambangan ), menyatakan
“Tari merupakan pencapaian peradaban bangsa. Jadi, jika bangsa ini meremehkan dan menganggap rendah tari, maka sesungguhnya bangsa ini menghianati tubuh dan gerak bangsanya, filosofi tersebut merupakan salah satu bentuk memuliakan seni tari. Di dalam setiap gerak tari mengandung sejarah, filosofi dan peradaban bangsa,” paparnya

IMG-20210430-WA0008

Hasan Basri, menyebut perayaan Hari Tari Sedunia sebagai perwujudan rasa, budaya, dan narasi bangsa serta kebahagiaan universal dalam bentuk tari. Karena bahasa tari mampu melintasi hambatan politik dan etnis untuk menyatukan semua orang di seluruh dunia,” tambahnya.

Kegiatan ini penting untuk seniman Banyuwangi agar memiliki kesadaran global. Apalagi ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan di Banyuwangi. Selain itu kegiatan ini bukan sekedar memberikan hiburan tapi mengusung idealisme, mengusung gagasan tentang persaudaraan, kebersamaan, keharmonisan, persatuan yang dirangkum dalam tema NYA WIJI. Dengan keindahan tari yang universal kita terabas sekat ideologi, politik, etnis, agama dll. Tari adalah bahasa universal. Selamat hari tari sedunia. Mari lestarikan seni tari tradisi Indonesia agar semakin dikenal dunia, pungkas Hasan.

IMG-20210430-WA0007

Sedangkan menurut M. Sarpin, tokoh adat Alasmalang mengatakan, kekuatan Rumah adat Kebo- Keboan oleh masyarakat yang diintegrasikan dengan alam. Yakni, keberadaan rumah-rumah joglo yang juga sangat mendukung pengembangan wisata.

“Tidak hanya yang nampak, tetapi juga yang tidak nampak, seperti ritual adat Keboan dan cerita legenda lainnya untuk mendukung pengembangan wisata Kecamatan Singojuruh ,” ujarnya.

Sementara itu, Suko Gandrung Arum salah satu koordinator acara, mengatakan momentum Hari Tari Sedunia ini menjadi titik awal dengan acara ini bisa mengembalikan gairah menari, khususnya bagi kaum muda yang selama satu tahun terakhir meredup akibat pandemi.

“Awal ide ini bermula kita menampung keresahan dari teman-teman para seniman tari di Kabupaten Banyuwangi yang selama masa pandemi ini jarang melakukan pementasan. Selama satu tahun sangat jarang tampil, makanya Nya Wiji di rumah Budaya Kebo-Keboan ini memfasilitasi teman-teman penari di Banyuwangi, khususnya untuk anak muda, karena kita ketahui selama satu tahun akibat pandemi nyaris tidak ada seni pertunjukan, kami harapkan bisa menjadi pemicu kembali bergairahnya seni pertunjukan di Kabupaten Banyuwangi,” harapnya.

“Ke depan nanti kan wisata budaya, religi dan sejarah. Kita juga sudah mulai mengembangkan ke desa-desa sebagai pendukung, “kata Ketua 2 DKB ( Dewan Kesenian Blambangan ) ini.(Ilham Triadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *