Di terminal Angkutan Kota (Angkot) Blambangan Banyuwangi-Jawa timur tidak seramai dulu lagi yang penuh berjejer kendaraan angkot. Dulu puluhan Angkot berjejer untuk menunggu antrian pemberangkatan, tetapi situasi ini tidak lagi tampak terlihat.
Sepinya penumpang membuat Sopir angkot mengeluhkan nasibnya, diantara Abdullah (sopir angkot Lin 6 dengan trayek Terminal Blambangan-Terminal Sritanjung). (07.07.2021) Dia mengisahkan bahwa sudah bertahun tahun penumpang yang naik kendaraannya menurun drastis di banding beberapa tahun lalu sebelum wabah Pandemi Covid-19 melanda dunia, dulu banyak calon penumpang yang memerlukan keberadaan angkot sebagai alat transportasinya. Untuk saat ini yaitu saat pandemi Covid-19 banyak para sopir angkot yang mencari penumpang, dan mereka dengan setia menunggu penumpang di tengah teriknya sinar matahari. Keadaan ini juga di benarkan oleh sopir Angkot lain yang bernama Iwan Purwadi sambil ber teriak keras memanggil manggil calon penumpang : “Ketapang… Ketapang ayo langsung ke Terminal Tanjung wangi, “teriaknya.

Dia tampak semangat terus tak henti henti nya para calon penumpang.
“Mari mari terus berangkat, rayunya,
Osing kang, isun arep nang Kampung Arab (tidak mas saya mah ke Kampung Arab) lokasinya dibelakang Terminal.
Iwan juga mengatakan :”Seiring berjalannya waktu, keberadaan Angkot di Kota Banyuwangi lambat laun mulai tersingkirkan dengan adanya transportasi On line dan diperparah lagi dengan adanya kebijakan Kredit Motor dengan uang muka yang mudah dan murah. Namun Iwan dan teman teman sopir Angkot yang lain tidak bisa memprotes karena perkembangan di era globalisasi.
Purnomo seorang sopir Angkot lin 9 menambahkan :”Selama 20 tahun menjadi sopir angkot, ia mengaku sepinya penumpang sangat terasa sejak PSPB diberlakukan dan lebih parah lagi saat pemerintah memberlakukan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Walau penumpang sangat sepi, namun ongkos masih tetap sama yaitu jauh dekat Rp. 5.000,- untuk penumpang umum dan Rp. 3.000,- untuk penumpang pelajar.
Saat sekarang ini sopir Angkot untuk mencari penghasilan Rp. 25.000,- per hari sangat sulit, sehingga untuk menutupi uang setoran ke Juragan (pemilik Angkot) yang tidak ditentukan besarnya karena dilihat dari ramai dan sepinya penumpang serta untuk beli BBM nya, para sopir sering menunggu di depan depan Sekolahan untuk menunggu para Pelajar yang pulang sekolah. Semenjak Kegiatan Belajar mengajar di tiadakan secara tatap muka, terpaksa para sopir angkot hanya bisa menarik penumpang umum sebanyak maksimal 2 kadang 3 trip tapi kalau pas sepi cuma narik 1 kali trip.
Kalau dulu sebelum wabah pandemi covid-19 para sopir Angkot misal satu kali trip perjalanan bisa bawa penumpang 7 orang dengan ongkos Rp 5.000,- maka dalam satu jalan bisa dapat Rp 35.000,- kemudian pas rejekinya kadang kembali nya bisa dapat 5 penumpang kadang lebih.
Lebih lanjut beliau menuturkan bahwa penumpang Angkot berkurang cukup drastis di masa penerapan PPKM ini yang berlangsung sejak 03 sd 20.07.2021 , Angkot sekali jalan hanya bawa 2 sampai 4 orang penumpang, itupun kadang kadang tidak dapat penumpang alias kosongan.
Dahulu Angkutan Kota yang beroperasi sebelum Pandemi kurang lebih ada 50 unit itupun sudah banyak yang tidak beroperasi karena sepinya penumpang, pada saat pandemi berlangsung, malah lebih banyak Angkot yang di kandangkan oleh para juragan, dan bahkan banyak yang dijual. Tetapi dalam benak para sopir angkot berharap kepada Pihak Pemerintah untuk sudinya turut memikirkan bagaimana Angkot Di Kabupaten Banyuwangi kembali bergairah dan kembali digemari oleh masyarakat sebagai alat transportasi umum.(Hariyanto)


Komentar