Di tengah kehidupan masyarakat abad ke-21 yang semakin kompleks, kebutuhan terhadap nilai kebersamaan, gotong royong, dan harmoni sosial menjadi semakin penting. Perkembangan teknologi dan perubahan pola interaksi sosial membawa banyak kemudahan, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan dalam membangun hubungan antarmanusia yang saling menghargai dan bertanggung jawab. Kondisi tersebut mendorong pentingnya menggali kembali khazanah intelektual Nusantara sebagai sumber nilai yang dapat direfleksikan dalam kehidupan masyarakat kontemporer, salah satunya melalui Sastra Gendhing karya Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Upaya tersebut dilakukan Khoirul Anwar, S.Pd., M.Pd., Dosen FISIP Universitas Negeri Semarang (UNNES), melalui kajian terhadap Sastra Gendhing dengan melibatkan KGPH Puger, putra PB XII sekaligus budayawan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sebagai mitra dalam menggali kandungan ajaran karya tersebut. Kolaborasi akademisi dan budayawan ini dilakukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam Sastra Gendhing, baik dari perspektif tekstual maupun konteks kebudayaan Jawa. Kajian tersebut menempatkan Sastra Gendhing dalam perspektif sosial-humaniora, khususnya untuk melihat relevansinya terhadap pembentukan kehidupan sosial yang kolaboratif pada masa kini.
Sastra Gendhing merupakan karya yang lahir dari tradisi intelektual Sultan Agung Hanyakrakusuma dan memuat ajaran filosofis mengenai kehidupan manusia, hubungan antarmanusia, serta upaya membangun keseimbangan dalam kehidupan. Pembacaan dari perspektif sosial-humaniora menunjukkan bahwa ajaran tersebut tidak hanya memiliki dimensi spiritual dan filosofis, tetapi juga mengandung nilai sosial yang berkaitan dengan cara manusia menempatkan diri dalam kehidupan bersama. Dalam konteks tersebut, Sastra Gendhing dapat dipandang sebagai salah satu sumber pemikiran Nusantara yang menawarkan konsepsi tentang etika hidup bersama atau apa yang dalam kajian ini dipahami sebagai etika gotong royong.
Nilai-nilai tersebut memiliki relevansi kuat dengan kebutuhan masyarakat abad ke-21 yang menempatkan kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, bertanggung jawab, berkompromi, dan menghargai perbedaan sebagai bagian penting dalam kehidupan sosial. Spirit yang terkandung dalam Sastra Gendhing menunjukkan bahwa kehidupan bersama tidak hanya membutuhkan kecakapan individual, tetapi juga kesediaan untuk membangun relasi yang dilandasi tanggung jawab dan kepentingan bersama. Dengan demikian, warisan pemikiran Sultan Agung tersebut dapat menjadi bahan refleksi untuk memperkuat karakter kolaboratif masyarakat di tengah perubahan sosial yang berlangsung semakin cepat.
Menurut Khoirul Anwar, menggali Sastra Gendhing tidak semestinya berhenti pada upaya memahami dan melestarikan sebuah karya masa lalu, tetapi perlu dilanjutkan dengan membaca nilai-nilainya dalam konteks kehidupan masyarakat saat ini. Spirit kebersamaan, gotong royong, saling menghargai, dan upaya menjaga harmoni merupakan nilai yang tetap dibutuhkan meskipun bentuk kehidupan masyarakat telah berubah secara signifikan. Karena itu, warisan intelektual Nusantara dapat ditempatkan bukan sekadar sebagai artefak kebudayaan, melainkan sebagai sumber refleksi untuk menjawab persoalan sosial dan kemanusiaan pada masa kini.
Kajian ini diharapkan dapat mendorong semakin banyak peneliti untuk menggali karya-karya intelektual Nusantara secara lebih mendalam dengan pendekatan lintas disiplin dan perspektif yang relevan dengan kebutuhan zaman. Pada saat yang sama, generasi muda diharapkan semakin terbuka untuk mempelajari ajaran dan nilai luhur yang diwariskan para pemikir Nusantara, bukan semata-mata sebagai bagian dari sejarah, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang dapat dikontekstualisasikan dalam kehidupan mereka. Melalui upaya tersebut, warisan pemikiran seperti Sastra Gendhing dapat terus hidup, berdialog dengan perubahan zaman, dan memberikan kontribusi bagi terbentuknya masyarakat yang lebih kolaboratif, harmonis, dan berkarakter.(Miskawi)


Komentar