oleh

Spontanitas Waroeng Kemarang Menyambut Tahun Baru Jawa

Memasuki pergantian tahun tahun baru Jawa, ada tradisi yang biasa dilakukan Panji Belambangan, salah satu tradisinya adalah mengadakan *jamasan pusaka* yaitu mencuci benda pusaka.

Ritual mencuci benda pusaka atau jamasan pusaka ini rutin dilakukan oleh Panji Belambangan sejak 2006 tahun berdirinya paguyuban pelestari pusaka pada saat memasuki tahun baru Jawa.

Ritual jamasan pusaka tersebut memiliki makna agar seseorang dapat membersihkan dirinya guna menyambut masa yang akan datang, yaitu tahun baru. Benda-benda pusaka merupakan peninggalan leluhur. Agar tidak korosi, bulan Sura seperti saat ini banyak yang melakukan prosesi jamasan pusaka.

IMG-20210811-WA0002

“Pusaka sejenis keris, tombak, pedang dan lain sebagainya, peninggalan leluhur yang mempunyai nilai adiluhung, ujar Kjn. Ilham saat menjamas pusaka di kediamannya, Selasa, 10 /8/2021

Siang itu secara spontan atas nama Paguyuban Pelestari Tosan Aji Blambangan mendapat kehormatan oleh owner Waroeng Kemarang, Wowok Meirianto mengundang Kanjeng Ilham Panji Belambangan untuk menjelaskan ritual jamasan pusaka dihadapan belasan budayawan yang sebagian besar anggota Kopat (Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi) Banyuwangi, Lesbumi Babyuwangi, jurnalis dan budayawan lainnya. Wowok mengundang mereka untuk menikmati jenang suro dengan acara inti diskusi budaya penjelasan ritual jamasan pusaka yang diselingi diskusi tentang keris , sejarah , filosofi dan budaya pelestariannya.

Menurut Wowok, Penyambutan tahun baru Jawa atau bulan Suro memang tidak lepas dari kegiatan-kegiatan untuk introspeksi diri yang dikaitkan dengan perbuatan masa lalu, ujarnya.
“Orang-orang yang mengoleksi dan memiliki warisan pusaka, terlebih para kolektor keris juga melakukan prosesi penjamasan pusaka,” kata Wowok.

IMG-20210811-WA0006

Harapan Wowok prosesi jamasan pusaka dilakukan pada 1 Sura bisa dikemas dengan acara spontanitas makan jenang suro , karena pandemi covid 19 , Waroeng Kemarang membatasi jumlah undangan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, melakukan jamasan pada bulan Sura sebagai awal tahun baru jawa.
Dia bilang, proses yang paling penting dalam jamasan pusaka adalah tetap lestarinya budaya warisan leluhur dan pusaka agar tampak bersih dan indah kembali sebagai benda warisan budaya yang sudah diakui Unesco sebagai warisan budaya dunia , 25 Nopember 2005.

Sementara menurut Kanjeng Ilham Panji Belambangan, Ritual mencuci benda pusaka atau jamasan pusaka ini rutin dilakukan oleh Panji Belambangan sejak 2006 tahun berdirinya paguyuban pelestari pusaka pada saat memasuki tahun baru Jawa. Benda-benda pusaka merupakan peninggalan leluhur. Agar tidak korosi, bulan Sura seperti saat ini banyak yang melakukan prosesi jamasan pusaka.

“Pusaka sejenis keris, tombak, pedang dan lain sebagainya, peninggalan leluhur yang mempunyai nilai adiluhung, ujar Kjn. Ilham saat menerangkan jamasan pusaka di Waroeng Kemarang selasa siang , Selasa (10 /8/2021). Untuk kegiatan lainnya yang masih dalam rangka menyambut pergantian Tahun Baru Jawa
earat kaitannya dengan Satu Suro yaitu Jamasan Pusaka. Benda-benda pusaka merupakan peninggalan leluhur. Agar tidak kotor , bulan Sura seperti saat ini banyak yang melakukan prosesi jamasan pusaka.

Pusaka sejenis keris, tombak, dan lain sebagainya, peninggalan leluhur yang dijadikan senjata perang di masanya, katanya.

” Orang Jawa Osing melihat benda pusaka sebagai visualisasi dari laki-laki yang artinya imam atau pemimpin. Nah, salah satu visualisasi itu adalah keris atau pusaka. Kalau pusakanya itu terawat dengan baik, tentu dia akan berakhlak baik, kalau pusakanya tidak pernah dirawat, tentu sebaliknya,” ujar Ilham.

“Jamasan pusaka yang terpenting kita dalam keadaan suci, karena dalam membersihkan pusaka, pastinya berkomunikasi dengan Sang Hyang Tunggal,” tambahnya

Filosofi benda pusaka sebagai visualisasi dari laki-laki yang artinya imam atau pemimpin. Ritual jamasan pusaka tersebut memiliki makna agar seseorang dapat membersihkan dirinya guna menyambut masa yang akan datang, yaitu tahun baru.

“Mencuci pusaka itu dilakukan pada bulan Suro. Maksudnya kan awal tahun, jadi diharapkan tahun yang akan datang itu kan menjadi lebih baik,” kata Kjn
Ilham .

“Jamasan pusaka yang terpenting kita dalam keadaan suci, karena dalam membersihkan pusaka, pastinya berkomunikasi dengan Sang Hyang Tunggal,” katanya.

“Berkomunikasi tentang rasa syukur kita telah diberikan kesempatan untuk merawat pusaka leluhur kita,”pungkasnya.(Ilham Triadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *