Salah satu ceritera unik dimasa Sekolah ketika harus menempuh pendidikan di sekolah yayasan Katolik meski mereka adalah seorang muslim yang Kami temui Kamis, (25/11/2021).
Teguh Eko Rahadi, SAB. yang saat ini menjabat sebagai Kepala desa Tamansuruh Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi-Jatim memiliki kisah menarik semasa sekolah di SMA Katolik Hikmah Mandala. Di masa SMA, ia belajar banyak mengenai toleransi dan saling menyayangi. Teguh Eko Rahadi pernah punya rasa khawatir disaat pertama kali sekolah di SMA Katolik karena ia sedari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menegah Pertama selalu sekolah di sekolahan umum. Namun kekwatirannya tidak terbukti karena yang sekolah di SMA Katolik Hikmah Mandala Banyuwangi ini muridnya tidak saja beragama Katolik/Kristen tetapi ada yang beragama Hindu dan Islam.
Saat duduk di Kelas 1 tidak ada pelajaran Agama, yang ada adalah pelajaran Ketuhanan dan pendidikan moral yang mengajarkan tentang pentingnya nilai nilai saling menghormati, menghargai, menerima perbedaan keyakinan/agama dan mengajarkan tentang pentingnya menjunjung tinggi toleransi antar sesama hamba Tuhan, baru ketika duduk di kelas 2 dan 3 ada pelajaran Agama Katolik. Dan pada saat pelajaran Agama Katolik, siswa yang beragama lain diberi dispensasi untuk meninggalkan kelas dan begitupun saat hari Jumat ada dispensasi untuk siswa yang beragama Islam untuk melaksanakan sholat Jumat. Selama menjadi siswa di SMA Katolik Hikmah Mandala Banyuwangi, Teguh yang punya hobby dibidang seni dan budaya nyaris tidak mendapat perlakuan yang berarti dan bahkan ia mendapatkan pelajaran yang luar biasa tentang “toleransi dan kasih sayang”.

Saat do’a pagi, ia dan siswa yang beragama Islam tidak perlu ikut berdo’a secara Katolik, tetapi diperbolehkan berdo’a secara Islam. Teguh Eko Rahadi tiga tahun sekolah di SMA Katolik, tetapi ia tidak tergoyahkan keimanannya. Selaku siswa muslim, ia sangat menghormati guru-gurunya yang beragama Katolik serta teman-temannya yang berbeda keyakinan. Sebaliknya para guru dan teman temannya yang berbeda keyakinan, menghormati saya yang beragama minoritas.
Teguh selalu menerapkan untuk saling menghormati dan menghargai serta selalu menunjukkan sikap keramahan baik terhadap guru maupun teman sekolah yang berbeda keyakinan. Prinsip ini ia dapat kan dari ajaran almarhum bapaknya yang bernama Supandi dan ibunya yang bernama Suwarni sejak kecil. Teguh sejak kecil senang akan budaya daerah dimana ia dilahirkan, apalagi bapaknya pada waktu itu sudah punya group seni Janger sedang ibunya berlatar belakang seorang penari dan penyanyi. Darah seni dari kedua orang tuanyalah yang kemudian menjadikan Teguh menggeluti seni dan budaya wong osing Banyuwangi.

Lulus dari SMA tahun 1984/1985 Teguh lalu bekerja di BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten Banyuwangi yang dulu namanya Biro Pusat Statistik dan beberapa tahun kemudian ia melanjutkan kuliah yang tertunda di STIA (Sekilah Tinggi Ilmu Administrasi) Jember dan lulus pada tahun 2006.
Teguh Eko Rahadi, SAB, kini terpilih sebagai Kepala desa di desa Tamansuruh Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi sejak 20 Nopember 2019. Desa Tamansuruh adalah satu satunya desa CANTIK (desa dengan Catatan Statistik) di Banyuwangi, dan semuanya ada 110 desa Cantik di seluruh Indonesia. Setelah dinominator Penerima Desa Cantik Award 2021, akhirnya ditetapkan oleh team Pemerintah Pusat hanya 10 desa Cantik di seluruh Indonesia penerima Award.
Teguh dalam mengelola desa Tamansuruh yang begitu komplek, ia memiliki jargon : ” Membangun desa dengan data” (data bukan segala galanya, membangun tanpa data akan sia sia).
“Saya melanjutkan “Program desa cantik merupakan bentuk tanggung jawab BPS dalam melakukan pembinaan Statistik sektoral sebagai mana tertuang dalam UU no. 16 tahun 1997 tentang Statistik dan Perpres no. 36 tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia (SDI), ” tuturnya.
Teguh Eko Rahadi, SAB sebelum dipercaya oleh rakyat menjadi Kepala desa, ia pernah menduduki jabatan yang diantaranya :
-.Pegawai BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupayen Banyuwangi pada tahun 1988 -.2019
– Pejabat Kepala desa Glagah pada tahun 2006 – 2007.
– Pengurus Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) desa Glagah pada tahun 2005 – 2019
– Ketua PARFI DPC Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2014 – sekarang.
(Hariyanto)


Komentar