Raih Prestasi, BMX Tak Punya Area Latih
Banyuwangi Motor Extreme, disingkat BMX, selama beberapa tahun ini telah memberikan kebanggaan bagi Banyuwangi dengan meraih berbagai kejuaraan tingkat Nasional. Juara 2 open Stunt championship Sulawesi tengah 24-11-2013 merupakan prestasinya pertama kali. Berlanjut 2014 Juara 1 Freestyle Open Competition Bali dan hingga 2019 seabreg piala telah diborong.
Sejak itu, Satrio, pria 28 th Pendiri BMX mengatakan dirinya bersama sahabatnya yang juga pemotor berprestasi, Gendon, telah melatih anak-anak muda di sekitar Wongsorejo menjadi biker profesional sepertinya.

” Mereka kami latih daripada kebut-kebutan di jalan raya, sudah banyak korban kecelakaan karena ulah anak-anak ini. Setidaknya saat berlatih dan bertanding, hasrat mereka tersalurkan di ajang yang resmi,” lanjut Satrio.
Untuk diketahui, tingkat kecelakaan lalulintas di Wongsorejo cukup tinggi mengingat di wilayah tersebut dilewati kendaraan besar dan disiplin pengguna motor cukup rendah.
Ironisnya, hingga saat ini Satrio tidak dapat menemukan area latihan yang memadai. Kesempatan berlatih dengan area aman justru diperoleh dari pihak Waduk Bajulmati yang secara administratif berada di wilayah Situbondo.
“Awalnya kami dilarang bermain di area ini. Namun setelah komunikasi terus menerus dan mereka (pihak Waduk Bajulmati) tahu prestasi kami, mereka mengijinkan dan mendukung penuh latihan kami,” terangnya.
Tak hanya itu, Kapolres Situbondo juga merangkul Satrio dan kawan-kawan. BMX sering dilibatkan dalam kegiatan Polres Situbondo.

“Kami sering diminta unjuk kebolehan dalam kegiatan Polres Situbondo, kami malah merasa seperti warga Situbondo,” ujar Satrio.
Selain membina anak-anak muda Wongsorejo dengan latihan motor Extreme, Satrio bersama ulama setempat juga mengajak anak-anak itu menguatkan kepekaan sosial mereka. Ngamen dengan cara unjuk keahlian motor mereka untuk menghibur warga dan menyiapkan kardus donasi menjadi kegiatan andalan.
“Kami tergabung dalam Barata, Barisan Relawan Anak Yatim. Perolehan ngamen motor kami serahkan untuk adik-adik yatim piatu di daerah kami,” tutur pria yang juga mendidik anak perempuannya motor Extreme sejak usia 3 tahun ini.
Satrio dan anggota BMX hanya berharap pemerintah Banyuwangi bersedia memberikan area latihan yang layak dan aman untuk mereka, agar mereka tetap bisa berprestasi atas nama Banyuwangi.
“Kami hanya butuh tempat latihan, selama ini kami menanggung biaya mandiri. Semoga harapan kami ini didengar dan dikabulkan Bupati Banyuwangi,” pungkas Satrio. (Ind.)


Komentar