oleh

Pendidikan Karakter Dejak Dini di Kampung Santri Bali.

Pendidikan adalah salah satu usaha dan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.Bukan hanya cerdas mentalnya namun juga spiritualnya. Seperti cita-cita luhur para pendiri NKRI dalam UUD ’45 dan Pancasila yaitu sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Korelasi kedua sila tersebut sangat kuat, dimana sebenarnya semua sila dalam pancasila saling terkait.

Menurut Ustazd Widodo, sebagai pengasuh Kampung Santri Bali yang beralamat di desa Munggu,Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, mendidik para santri mengenal Tuhannya sangatlah penting.  Dengan mengenalkan apa,siapa,bagaimana Tuhan/Allah SWT itu.Serta apa siapa,bagaimana mahluk Allah itu tentang hak dan kewajibannya. Tidak semudah teori dan kata-kata, yang disampaikan, menurut beliau memberi contoh perilaku dan praktek nyata lebih cepat diterima para santri daripada narasi saja.

IMG-20220117-WA0012

Setiap hari diajarkan praktek sholat jamaah,bersholawat, berzikir, berdoa, membaca iqro’ & Al-Qur’an menghafalkan doa harian, juzz amma’ serta beberapa lagu2 penyemangat kisah Nabi dan Rosul.
Ibu Lilis Hayati (54 th) dari Kediri Tabanan, tiap hari mengantarkan cucunya yang bernama Satria dan Najwa rela menempuh jarak jauh PP jam 17.30-20.00 WITA serta ikut mengawasi kegiatan cucunya ditempat yang lumayan jauh dari kediamannya tersebut. Menurutnya semua itu dilakukan demi terbentuknya karakter muslimin/muslimat yang positif dan bermanfaat bagi kehidupan dunia akhirat kedua cucunya.

Setiap hari dengan suaminya Sahri (57 th) yang berprofesi penjual cendol dan rujak setia mengantar dengan berbonceng sepeda motor. Menurut bunda Yuni pengasuh Kpung Santri, meski hujan badai, mereka ini semangat dan istikomah selalu hadir tepat waktu. Selain itu Sri Wahyuni (50 th) buruh setrika uap seorang janda, wali santri dari Agus menitipkan putra semata wayangnya yang sejak lahir sudah tidak berayah tersebut dengan harapan ahlak putranya jadi baik dan soleh. Ibu Kahfi (40th) warga desa pererenan, wali santri dari Yunita, dua kali sehari datang menemui pengasuh minta tolong memberi pelajaran baca, tulis, hitung dan ngaji untuk putrinya karena orang tuanya buta huruf.
Kondisi sosial masyarakat,terutama bagi perantau yang datang ke Bali demi perbaikan dan pemenuhan kebutuhan ekonomi memang terkadang melupakan sisi spiritual untuk membentuk kecerdasan emosional jasmani rohani bagi putra-putrinya.

Dengan berbekal keyakinan kepada Allah SWT, disiplin ilmu pendidikan, keikhlasan, kesabaran kedua pengasuh Kampung santri Bali Ustazd Widodo dan bunda Yuni mempersilahkan siapapun yang menitipkan putra putrinya untuk dididik dan dikenalkan dengan rasa cinta ketauhidan, ahklakul karimah, serta keihklasan dan kesabaran dan mpraktekan iman dalam kehidupan sehari-harinya. (Catatan dari Ranting NU Munggu, Ambarwati Soenarko).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *