oleh

Napak Tilas Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi (KOPAT) di Taman Nasional Alas Purwo

Cuaca alam Banyuwangi yang begitu cerah dan kekompakan peserta napak tilas Alas Purwo yang begitu semangat, anggota Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi (KOPAT) Banyuwangi yang berjumlah 50 orang memulai start perjalanan dari Waroeng Kemarang Jalan Perkebunan Kali bendo KM 5 desa Tamansuruh Kecamatan Glagah kabupaten Banyuwangi (Kamis 27/01/2022) dengan menggunakan mobil sebanyak 9 unit.

Usai sarapan dan pembagian kaos yang disediakan Waroeng Kemarang, napak tilas memulai perjalanannya pada pukul 06.20 Wib. Taman Nasional Alas Purwo sebagai tujuan karena memiliki keistimewaan tersendiri, Taman nasional dengan ikon merak ini memiliki ragam flora dan fauna yang dapat kita jumpai pada jam-jam tertentu.

IMG-20220128-WA0011

Taman Nasional Alas Purwo memiliki keragaman flora dan fauna, tetapi juga memiliki pesisir pantai yang sangat indah sekali. Pasirnya berwarna putih kecoklatan dan di beberapa pantai yang kita kunjungi menyuguhkan keunikan yaitu ada pantai yang memiliki pasir yang sangat lembut dan ada pula pantai yang memiliki pasir serupa butiran kecil kecil .

Jarak dari Waroeng Kemarang sampai ke taman nasional ini kita tempuh dengan waktu sekitar dua setengah jam dengan menggunakan 9 mobil, karena sebelum menuju ke Alas Purwo, rombongan terlebih dahulu mampir di pantai Muncar untuk berselfi ria. Perjalanan kami terasa istimewa karena dikawal oleh team RAFI Riders sebanyak lima personil.

20220127_101018

Selama perjalanan menuju Alas Purwo peserta napak tilas sangat menikmati hamparan lahan pertanian masyarakat Banyuwangi Selatan yang sangat subur, tanaman padi, buah naga, jeruk, dan jagung sangat mendominasi tanaman disana. Selain itu, pemandangan hijau di sepanjang perjalanan sangat menyegarkan mata.

 

Sesampainya di Alas Purwo, semua peserta diajak oleh Made Widodo atau yang dikenal dengan nama mbah Dowo menuju Situs Kawitan. Di Situs ini, kita mendapat penjelasan asal usul Situs ini oleh Adi Wasito selaku pemangku Situs. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Situs Kawitan Savana Sadengan. Menurut Banda Nurhara selaku koordinator unit Sadengan “Savana Sadengan Alas Purwo memiliki luas 80 hektare dengan padang rumput semi alami di dalamnya. Tempat ini menawarkan pemandangan padang rumput yang selalu hijau dengan sebuah menara pandang tiga lantai. Dari atas menara pandang tersebut, dengan mudah kita dapat menjumpai kawanan banteng, rusa, kijang, babi hutan, atau merak hijau yang sedang mencari makan. Di sekitar menara Savana Sadengan juga telah dibangun tempat duduk dan pagar pembatas dari kayu yang semakin menambah estetika tempat ini, ” jelasnya.

Setelah menikmati hangatnya wedang kopi Robusta yang dibawa oleh M. Saefudin dari rumahnya, perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Pancur. Di tempat ini rombongan bersuka ria sambil menikmati makan siang di rumah makan Pancur, sambil menggelar pembacaan puisi dari peserta rombongan, bernyanyi dengan iringan alunan angklung yang dimainkan oleh Isnaini Bendol. Acara di Pantai Pancur berakhir dengan dinyanyikannya sebuah lagu yang sangat heroik yaitu “Umbul umbul Blambangan”. semua anggota rombongan ikut bernyanyi dan Wowok Meirianto selaku Ketua Kopat turut membunyikan alat musiknya yakni Seruling. Semua merasa terhibur dan salah satunya Teguh Eko Rahadi yang membawakan puisi dan bernyanyi mengatakan : “Terima kasih atas dukungan Kang Wowok dan Waroeng Kemarangnya yang telah memfasilitasi semua nya sehingga acara Napak Tilas Alas Purwo berjalan dengan selamat dan dapat menghilangkan kepenatan semua anggota rombongan dari padatnya aktivitas yang dilakukan setiap hari, ” celotehnya.

20220127_151759

Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo memiliki pemandangan sangat indah dengan deburan ombak yang cukup besar. Ombak di Pantai Pancur memang tergolong tinggi. Jika terus diurut kearah Barat, terdapat pantai yang terkenal dengan ombak setinggi dua belas meter, yakni Pantai Plengkung.

Di tempat mangkalnya 10 mobil Jeep Trover yang siap mengantarkan pengunjung menuju pantai pantai Plengkung (G Land), Giran salah satu sopir mengatakan bahwa : “Semenjak pandemi covid-19, pengunjung yang akan menuju ke pantai Plengkung sepi sekali. Kita jarang mendapat jasa mengantar pengunjung menuju ke pantai Plengkung dibanding sebelum pandemi. Saya dan teman teman seprofesi
kadang hanya mengantar 1 trip dalam seminggu dan kadang tidak dapat sama sekali, padahal kebutuhan rumah tangga sangat tinggi, ” katanya.

Setelah membereskan semua alat musik dan sound milik Waroeng Kemarang, semua peserta rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pantai Ngagelan yaitu sebagai tempat Pengelolaan Penyu Semi Alami (PPSA). Disini rombongan diterima Purwadi, beliau lalu menjelaskan tugas tugas beliau kepada rombongan dan 10 orang rombongan diberi kesempatan untuk melepaskan Tukik ke pantai setelah jam menunjukkan pukul 15.30 wib.
Ririt selaku istri owner Waroeng Kemarang mengatakan : “Seumur umur baru kali ini saya berkesempatan melepas benih Tukik ke pantai, trima kasih ya…” katanya.

20220127_144928

Setelah puas berfoto ria dengan latar belakang daratan Grajagan, akhirnya semua rombongan napak tilas mengakhiri misinya dan sebelum menuju ke Waroeng Kemarang, rombongan mampir dulu di lokasi hutan Trembesi yang memiliki deretan pohon berusia ratusan tahun di De Djawatan Benculuk.

Pukul 18.50 Wib semua rombongan tiba kembali di Waroeng Kemarang dengan selamat, Wowok Meirianto mengatakan : “Bila diberi kesempatan, dilain waktu KOPAT akan mengadakan tour ke desa Adat yang ada di Pulau Bali, ” pungkasnya.
(Hariyanto)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *