oleh

Kopat Meluncurkan Angklung Osing Kromatis di Hari Musik Nasional 2022 di Waroeng Kemarang

Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi (KOPAT) Banyuwangi memeringati hari Musik Nasional dengan menggelar Peluncuran Angklung Osing Kromatis di Waroeng Kemarang KM 5 desa Tamansuruh Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi-Jawa Timur Rabu, (09/03/2022).

Peluncuran Angklung Kromatis ini sengaja digelar pada hari ini bertepatan dengan hari Musik Nasional yang diperingati setiap tanggal 9 Maret oleh masyarakat Indonesia.
Angklung Kromatis ini adalah sebuah alat musik angklung Osing yang memiliki tangga nada 12 macam nada dan semuanya berjarak 1/2. Tangga nada kromatis merupakan kumpulan dari semua nada.
Jadi, angklung Osing kromatis yang terdiri dari 3 oktaf atau 36 nada mampu mengiringi semua lagu dan tidak terbatas pada tangga nada slendro saja atau satu nada dasar F seperti pada angklung Osing konvensional.

20220309_170038

Angklung Osing Kromatis yang dibuat oleh team KOPAT memiliki 47 bilah angklung dengan panjang kerangkanya 150 Cm.
Menurut Wowok Meirianto yang juga sebagai Ketua KOPAT mengatakan :

“Angklung Kromatis bisa disebut Diatonis, tetapi setingkat lebih maju karena bisa dimainkan secara Diatonis untuk semua nada dasar, ” terangnya.

Masih menurut  Wowok  “Memang Angklung Kromatis ini agak susah cara memainkannya, karena mirip dengan cara memainkan alat musik piano, sedang angklung konfensional adalah menggunakan tangga nada Slendro dan bernada dasar La=C# atau biasa disebut Do=E “katanya.

Alat musik angklung Kromatis sangat bisa dikolaborasikan dengan alat musik lainnya misalnya gitar, bass, perkusi jimbe, perkusi, piano dan alat musik lainnya.

20220309_161144

Gayung bersambut setelah Wowok Meirianto selaku pemilik ide bertemu dengan maestro pengrajin pembuat angklung yang bernama Isnaini Bendol, mereka sepakat bekerjasama membuat Angklung Osing bernada dasar Kromatis dengan memberi nama “ANGKLUNG OSING KROMATIS”.

Acara Peluncuran Angklung Osing Kromatis di Waroeng Kemarang, diisi pula dengan diskusi-diskusi tentang musik dan adat tradisi Banyuwangi. Diskusi berjalan santai sambil mendengarkan pengalaman pengalaman dari para musisi dan ceritera dari para budayawan Banyuwangi. Menurut Inne Suherman  “Kalau pakai angklung selendro atau pelok ada nada yang tidak terkafer. Selain itu rang suara manusia berbeda-beda, jadi jangan suara penyanyi yang harus menyesuaikan ke musiknya tetapi musiknyalah yang harus menyesuaikan kepada suara penyanyinya  ” jelasnya.

Saat disela sela diskusi, Wowok menambahkan  “Angklung Osing Kromatis yang baru di luncurkan ini, sifatnya masih prototif (contoh awal). Nanti akan disempurnakan lagi utamanya kerangkanya agar lebih praktis dan lebih sederhana sehingga akan lebih mudah memainkannya, “terang Wowok.

20220309_174814

Muhamad Sarfin selaku tamu undangan yang berasal dari seni budaya Kebo keboan Alasmalang  “Saya sangat mengapresiasi ide kreatif membuatan Angklung Osing Kromatis ini dan bisa dikatakan sebagai kemajuan karena antara angklung pelok dan selendro disatukan dalam satu kerangka, ” katanya.

Turut hadir dalam gelaran peluncuran Angklung Osing Kromatis diantaranya ada Momok sebagai wakil dari Dewan Kesenian Blambangan Kabupaten Banyuwangi, Teguh Eko Rahadi selaku Kepala Desa Tamansuruh, para Seniman dan Budayawan Banyuwangi diantaranya Aekanu Hariyono, Selamat Menur, Eko electone, Inne Suherman guru vokal, personel group seni Joyokaryo dan dari Anggota KOPAT serta dari awak media Online dan cetak.

Akhir acara didemontrasikan Permainan Angklung Osing Kromatis yang dikolaburasikan dengan permainan electone dan gitar dengan membawakan sebuah lagu Kelangan yang sangat populer di Banyuwangi oleh Inne Suherman dan Irma penyanyi muda berbakat.

Semua tamu ikut bernyanyi dan menari saat didendangkan lagu Umbul-umbul Blambangan yang dibawakan oleh Bambang cucu dari mbah buyut Semi Penari Gandrung perempuan kawitan atau pertama. (Hariyanto)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *