oleh

Mengenal Sejarah Desa Ketapang Lewat Sarasehan

Dalam rangka mengungkap sejarah desanya Pemerintah Desa Ketapang Kecamatan Kalipuro Banyuwangi menggelar Sarasehan sejarah dengan tema “Mengenal Sejarah Desa Ketapang ” bertempat di Destinasi Wisata Penawarsari (18/06/2022).

Sarasehan ini diikuti oleh banyak komunitas sejarah dari berbagai daerah khususnya dari Banyuwangi dan Dewan Kesenian Blambangan, Kopat, Masyarakat Desa Ketapang Mahasiswa, juga hadir Camat Kalipuro . Sebagai narasumber dalam sarasehan ini adalah Bapak Mas Aji Ramawidi yang banyak menulis buku tentang sejarah Blambangan/Banyuwangi, Taufik Pak Cik dan Thomas Racharto .

Dengan pembukaan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama sama dan diteruskan dengan sambutan dari Kepala Desa Ketapang Slamet Utomo , sekaligus membuka jalannya acara menyampaikan bahwa sarasehan ini bertujuan mengungkap dan meminta masukan- masukan dari para tokoh dan pegiat sejarah yang hadir terkait sejarah desa Ketapang atau dengan kata lain kegiatan ini dimaksudkan untuk menggali sejarah desa Ketapang.

IMG-20220623-WA0000

Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa terima kasih atas terselenggaranya acara Sarasehan Sejarah ini. Ia juga berharap acara ini dapat memberikan kemanfataan serta spirit yang membangun serta mampu memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat, bangsa dan negara.

“Dengan adanya sarasehan bedah sejarah Desa Ketapang ini kita berharap mengetahui Sejarah desa Ketapang sangat penting karena memiliki nilai-nilai yang harus diketahui oleh generasi muda. Bedah Sejarah Ketapang tidak hanya ingin tahu ceriteranya tetapi dapat dijadikan sebagai representasi awal tentang kehidupan budaya masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang,” paparnya.

Menurut Astorik, Camat Kalipuro menyampaikan bahwa acara seperti ini sangat baik untuk mengingatkan kembali tentang sejarah peradaban kejayaan masa lalu yang pernah dicapai oleh Bangsa Indonesia, terutama di Banyuwangi khususnya wilayah Ketapang.

Spirit luar biasa yang ditunjukkan oleh para pendahulu itu perlu kita gali kembali dan menjadi tonggak bagi kita dimasa kini untuk bisa berkontrbusi membangun peradaban negeri yang lebih baik lagi bagi kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Sesuai dengan tema yang diangkat dalam sarasehan kali ini yaitu, “Sarasehan Desa Ketapang ”

Yang tak kalah penting adalah untuk sarana mengenal jati diri daerah dan untuk menumbuhkan rasa peduli serta merasa memiliki daerahnya.Sebagai puncaknya masyarakat desa Ketapang ikut merasa memiliki dan turut aktif memajukan rasa daerahnya.

Acara ini dipandu oleh moderator Kjn. H.Ilham Triadi (Dewan Kesenian Blambangan sekaligus Tim Ahli Cagar Budaya ). Acara berlangsung sangat dinamis, karena bersamaan dengan paparan sejarah desa Ketapang ini dikaitkan dengan beberapa data Belanda , dapat diketahui bahwa lokasi sejarah peradaban masa lalu, salah satu di antaranya Kota Ketapang adalah desa tertua dalam sejarah Banyuwangi .Hal ini memberikan banyak kemanfaatan bagi masyarakat yang tinggal disekitarnya.

Hadir dalam acara sarasehan ini di antaranya , Camat Kalipuro, perwakilan dari DKB, Kopat , Perangkat Desa Ketapang , BPD , tokoh masyarakat seperti ; Wahyudi, SE, tokoh muda peduli sejarah ; Radenmas Hari , Pokdarwis ,dll.

Sesi Pertama materi acara sarasehan disampaikan Thomas Racharto ( Kopat )dengan mengambil judul “ Blambangan Kuno ”

Thomas memaparkan
dalam Sejarah Blambangan kuno, diawali oleh kesenangan beliau terhadap sejarah Blambangan dan kemudian mengadakan penelitian sejak tahun 1971, lebih lanjut beliau meminta “Dalam upaya merekontruksi sejarah Blambangan kuno, dirinya mendapat tantangan untuk membentuk team penyusun sejarah lokal Blambangan agar kelak anak didik mempunyai pegangan tentang Sejarah Blambangan yang benar, “katanya.

Yang tak kalah penting adalah untuk sarana mengenal jati diri daerah dan untuk menumbuhkan rasa peduli serta merasa memiliki daerahnya. Sebagai puncaknya masyarakat desa Ketapang ikut merasa memiliki dan turut aktif memajukan rasa daerahnya.

Sebagai narasumber kedua
Taufik ” Pak Cik ” dalam materinya mengatakan bahwa sumber sejarah kita diambil dari tulisan-tulisan musuh kita yaitu dari VOC atau Belanda sendiri maupun dari tulisan asing lainnya seperti Inggris yaitu tulisannnya Sir Thomas Rafless untuk membuktikan bahwa sejarah asal usul desa Ketapang memang benar adanya sesuai dengan pendekatan logika berfikir.

Menurut catatan Belanda, De Opkomst, disebutkan kalau kota Panarukan ( Situbondo) yang jadi wilayah Blambangan di taklukkan pertama VOC tanggal 9 Maret 1767. Dua hari kemudian tanggal 11 Maret 1767, tentara VOC melanjutkan perjalanan ke Banyualit (Blimbingsari).

Rute perjalanan darat Belanda tersebut disebutkan pada Opkomst:
“Pada tanggal 11 Maret 1767 pasukan dari Panarukan bergerak maju dan mengikuti jalur ini: Banyu Tikus, melalui Kali Tikus; di Selakar Putih, melewati Kali Putih; negeri Kabondang, di kakinya Baluran, sekarang stasiun pos Bengkalingan; Menang; KETAPANG; Banyu Alit. Perjalanannya dari 11 sampai 23 Maret 1767, ”tambah Pak Cik.

Mas Aji Ramawidi sebagai narasumber ketiga , memulai pemaparannya dengan pertanyaan :
Kapan hari lahir desa Ketapang

Desa KETAPANG masuk wilayah Kecamatan Kalipuro adalah sebagai salah satu desa yang banyak memiliki mewarnai sejarah Banyuwangi bahkan merupakan desa tertua di Kabupaten paling ujung timur pulau Jawa.

Bukti-bukti sejarah yang menunjukkan desa KETAPANG tersebut adalah : (1) Prasasti Ketapang tahun (1095-1150); (2) Petilasan Aning Pati di Selogiri ( 1647-1719); (3) Lokasi Perang Kabakaba (1767); (4) Ketapang sebagai Calon Ibukota Banyuwangi (1771); (5) Ketapang sebagai Distrik/Kecamatan pertama di Banyuwangi (1773); (6) Pembangunan jalur Watu Dodol ( 1773 – 1782 : masa Pemerintahan RT. Wiraguna I ) .
Belajar dari penetapan tanggal 18 Desember 1771 sebagai Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba), poin nomor 3 yang seharusnya dipilih dan dipertimbangkan sebagai hari jadi desa Ketapang.

Acara dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab atau tanggapan dari apa yang disampaikan ketiga narasumber. Pada sesi ini rata-rata peserta memberi masukan tentang perlunya meluruskan kembali tentang sejarah Desa Ketapang lewat gesah atau sarasehan sarasehan yang nantinya dapat disuguhkan kepada generasi penerus tentang kebenaran sejarahnya.

Sementara menurut sejarawan Samsubur , kepada Gema Tawangalun , menyampaikan bahwa lamanya perjalanan pasukan VOC dari Panarukan ke Banyualit sampai 13 hari (11-23 Maret 1767).

Seharusnya perjalanan dari Panarukan ke Banyualit bisa dilakukan selama satu minggu perjalanan darat. Panjangnya waktu perjalanan menjadi pertanyaan besar, mengapa ? Apa yang menyebabkannya. Pada Babad Wilis, yang menyebutkan kalau para pejuang Blambangan dan Mengwi yang menghadang Belanda selama perjalanan dari Negeri Kabondhang sampei Papakemdan perang besarnya terjadi di kota KETAPANG.

Di dalam Babad Wilis dituliskan :
“Gusti Murah (Ngurah) angandika Kuthabedhah prayoga bibara dhingin, ngirida kawula Bangsul (Bali), nuli andika bubar ing Papakem dadalan, andika rebut. Kawula medal KETAPANG, sakonca kula pribadi, margine lumebeng KITHA ING KETAPANG simpangan agung amalih lah rare sira lumayu nusula Kapanasan.”

Peristiwa perang besar antara Bengkalingan (Wongsorejo) sampek Kota KETAPANG terjadi antara tanggal 15-20 Maret 1767. Angka tanggal 15 Maret 1767 ini disebutkan juga pada bukunya DR. Sri Margana (Perebutan Hegemoni Blambangan):

“Di Blambangan (Banyualit), pasukan Belanda di bawah komando Kapten Blanke menghadapi situasi yang sangat berbeda dengan saat mereka tiba (di Kabondhang-KETAPANG) tanggal 15 Maret. Tidak ada perlawanan dari rakyat Blambangan dan Bali ketika mereka mendarat di Banyualit.”

Dalam sarasehan ini banyak sekali yang didiskusikan sekitar peristiwa-peristiwa di daerah yang sekarang bernama desa Ketapang dan dampaknya bagi Masyarakat Blambangan pada umumnya. Kesimpulan dari sarasehan ini adalah mereka menghendaki salah satu peristiwa tersebut dijadikan dasar untuk menentukan hari jadi desa Ketapang.

Sebelum acara ditutup dengan do’a yang disampaikan oleh Sanusi Marhaendi.(Ilham Triadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *