Potensi sumber daya arkeologi Macan Putih di observasi Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Banyuwangi ( TACB ). Lokasi observasi di sekitar persawahan di Desa Macanputih dan ditemukan reruntuhan bata kuno berukuran besar. Sebaran bata berukuran besar di persawahan dan sempadan sungai irigasi sebagai
Struktur Bata Kuno Diduga struktur benteng kerjaan Macanputih. Potensi sumber daya arkeologi yang bisa menjadi cagar budaya di Macan Putih sangat besar. Beberapa lokasi menjadi perhatian dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banyuwangi. Setelah melakukan penelitian dan kajian potensi cagar budaya di beberapa titik, juga ditemukan sebaran (pecahan) genting dan pecahan keramik, kemudian ada juga bejana perunggu dan teracota. Kemudian, di lokasi yang tidak begitu jauh ditemukan sebaran pecahan genting dan keramik dari Dinasti Yuan.

Dalam konteks sejarah lokal, Situs Macan Putih merupakan situs penting dalam sejarah kerajaan Blambangan karena sumber sejarah tentang masa pemerintahan Tawangalun II sangat minim terkait dengan tidak adanya kontak dengan bangsa asing. Sementara itu, Situs Macan Putih memiliki nilai penting pula jika dikaitkan dengan masa Hindu-Budha di Indonesia dalam mengungkap pola pemukiman penduduk kota klasik di Nusantara karena Kerajaan Blambangan yang berdiri pada abad 14 M mengalami kemunduran pada abad 18 karena pengaruh Islam dan kolonial
Situs Macan Putih dulunya merupakan sebuah hutan bernama Sudimara yang dibabat untuk dijadikan ibu kota kerajaan Blambangan masa pemerintahan rajanya yang ke-8, yaitu Danureja yang berjuluk Prabu Tawangalun II (1655-1691). Prabu Tawang Alun II inilah yang membawa Blambangan pada masa puncak kejayaannya lepas dari kungkungan Mataram dan Bali.
“Secara kasat mata dan pengalaman memperhatikan bata kuno, bata ini lebih muda dari masa Majapahit, kedua bata ini dan cara pengerjaannya lebih tua dari masa Majapahit, ” ujar Arkeolog Titin Fatimah saat ekskavasi seperti dilansir Jurnalnews pada jumat (17/6/2022).
Titin menambahkan pada 2010 lalu arkeolog dan sejarawan Universitas Gajah Mada telah melakukan survei awal terhadap keberadaan situs itu. Hasilnya, tim menemukan reruntuhan bangunan kuno terbuat dari batu bata yang terpendam di persawahan milik warga. Selain itu, ditemukan juga berbagai pecahan keramik kuno yang berasal dari Eropa dan Cina.

Berdasarkan penelitian arkeologis berikutnya tahun 2012, pemukiman di Macan Putih dibangun pasca erupsi Gunung Raung karena terdapat sedimentasi abu vulkanik setebal 10 cm.
Nama Macan Putih didasarkan pada kepercayaan masyarakat bahwa dalam perjalanannya dari Petilasan Rowo Bayu menuju Situs Macan Putih Prabu Tawang Alun didampingi oleh seekor Macan Putih, tambah Titin.
Sejawat Titin di TACB, Bonavita Dwi Wijayanto mengatakan , Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, sangat berpotensi sebagai kawasan cagar budaya sebagaimana diatur Undang Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
“Pemerintah Banyuwangi hingga kini tak kunjung menetapkan Desa Macan Putih sebagai kawasan cagar budaya. “Padahal banyak benda bersejarah dari Macan Putih yang dijual warga,” imbuhnya.
Macan Putih, bila dibiarkan terus-menerus, dikhawatirkan keberadaan situs akan rusak.
“Situs sejarah itu menyangkut jati diri bangsa,” katanya.
Dia mengemukakan, tersebut berdasarkan pada pengerjaan tumpukan batu bata. Pihaknya menduga, struktur bangunan
“Hasil temuan-temuan yang sudah kita ekskavasi, menemukan empat lapis bata yang tertebal, ada yang dua lapis kurang. Kemudian kita melihat ukuran batanya cukup besar yaitu panjang 41 – 42 sentimeter, lebarnya juga lebih dari 30 sentimer, tebal antara 8–10 centimer, ini menunjukkan bahwa situs ini diduga dari masa lalu dari struktur batanya,” katanya.
Bila situs Macan Putih dipugar, Totok optimistis, dapat menjadi tujuan wisata sejarah yang dapat mendatangkan pendapatan bagi daerah dan masyarakat setempat.
“Dengan demikian kesejahteraan masyarakat bisa terpenuhi,” katanya.
Sementara Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Choliqul Ridho mengakui situs Macan Putih belum ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya. Menurut dia, “Saat ini Pemerintah Banyuwangi sedang menginventarisasi situs-situs sejarah yang akan ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya, “ujarnya. Pihaknya kini bersama Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Cipta Karya, Perumahan dan Permukiman (CKPP) Banyuwangi, melakukan pemetaan dan penelitian cagar budaya situs Kerajaan Macan Putih, di Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, Jumat (17/6).
Kegiatan penelitian bersama anggota Tim Ahli Cagar Budaya ( TACB ) Banyuwangi ini tak lain untuk melakukan penelitian dan kajian terhadap sumber daya arkeologi di Desa Macan Putih. Sebab, di Desa inilah dulu pernah berdiri Kerajaan Macan Putih.Tujuannya akan melanjutkan proses ekskavasi untuk mengungkap yang sebenarnya mengenai temuan struktur batu bata di lahan persawahan dan sempadan sungai irigasi ini. Sehingga tim lakukan kajian untuk gali potensi Cagar Budaya Macanputih agar sebagai langkah awal
dijadikan Destinasi Wisata Sejarah dan Arkeologi.
“Harapan kami akan ada sebuah pencerahan sumber daya arkeologi, dan bisa muncul destinasi wisata sejarah baru di Banyuwangi,” cetusnya.
Apalagi, kata Ridho, saat ini Museum Blambangan yang berada di kantor Disbudpar Banyuwangi sudah mulai banyak diminati pengunjung. Tapi sayang, bukti-bukti sejarah masih belum ada dan ditemukan di lapangan secara langsung.
“Jika ada cagar budaya di Macan Putih, tentu akan sangat luar biasa dan bisa menjadi destinasi wisata sejarah di Banyuwangi yang melengkapi bukti-bukti penemuan benda yang berada di museum Blambangan,” imbuhnya.
Dari hasil penelusuran di Desa Macan Putih, sudah mulai ditemukan sejumlah benda cagar budaya, seperti temuan gerabah, potongan piring kuno, dan sejumlah benda temuan lainnya. Tentu agar benda-benda cagar budaya di daerah itu bisa terlestarikan.
Dengan adanya penemuan situs cagar budaya di Macan Putih itu, lanjut dia, ke depan bisa jadi pengembangan dan pemanfaatan untuk kesejahteraan masyarakat sekitar situs, salah satunya dalam wujud museum.
“Jika cagar budaya ini bisa dilestarikan, maka akan menjadi destinasi objek wisata sejarah baru di Banyuwangi, dampaknya juga akan dirasakan oleh masyarakat sekitar,” tandasnya.(Ilham Triadi)


Komentar