Prosesi Jamaran Pusaka berupa Tosan Aji dilakukan oleh Paguyuban Pelestari Tosan Aji Belambangan ( Panji Belambangan ) Tujuan kegiatan tersebut tak lain adalah untuk melestarikan kearifan lokal budaya ruwatan, merawat pusaka, tosan aji. Jamasan Pusaka tersebut digelar mulai (29/7) hingga Rabu (7/8) bertajuk Gelar Budaya Keris yang digelar pada 4 lokasi berbeda , yaitu : malam 1 Syuro ( 29/7)di Pesantogan Gesah Pancasila Tamansuruh Kec. Glagah. Esok harinya tanggal 30 -7-2022 sampek dengan tanggal 5 Agustus 2022 digelar di Museum Tempo Dulu Dinas Kebudayaan Pariwisata Banyuwangi , tanggal 6 Agustus 2022 di Hore Kafe dengan lomba mewarnai dan melukis tingkat TK – SD dan penutupan kegiatan diselenggarakan di markas Kopat ( Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi ) dusun Talun Jeruk Dukuh, Desa /Kecamatan Glagah. Acara bertajuk “Gelar Budaya Keris ” terdapat sekitar 300 keris dari berbagai abad antara ke-8 hingga abad ke-19. Keris yang dipamerkan juga mempunyai beragam model dan nama.
Ketua Panitia, Kanjeng Ilham Panjibelambangan menjelaskan, proses jamasan pada hakikatnya ialah proses pembersihan jiwa. Karena dalam jamasan tidak hanya menyoal pembersihan pusaka, namun ada pula proses tirakatan semacam refleksi diri. Dari refleksi ini, pemilik pusaka akan diantarkan menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya.

“Orang Jawa Osing kaya dengan pasemon, orang Jawa memiliki kode-kode rahasia, leluhur kita selalu menyelipkan pesan dalam setiap ajarannya. Termasuk dalam pusaka, banyak filosofi yang bisa digali dari setiap bentuk sebuah keris. jika kita tanggap ing wacono, jika mampu membaca pesan-pesan dalam ajaran bertosan aji, kita akan mendapati nilai-nilai adiluhung dari leluhur kita,” ucapnya.
“Kegiatan ini adalah upaya pelestarian kebudayaan dimana Blambangan adalah salah satu wilayah yang memiliki historis penting sejak jaman pra sejarah, tegasnya. “Jamasan itu sebenarnya tidak harus bulan Suro (Muharram), tapi bulan ini dianggap yang paling baik,” terang Ilham.
Selain Jamasan Pusaka, juga digelar berbagai kegiatan lain seperti pameran pusaka sarasehan, dan konsultasi perawatan pusaka. Pusaka-pusaka yang dipamerkan berjumlah dua ratusan dan semuanya memiliki nilai seni dan sejarah yang sangat tinggi.

Pusaka-pusaka tersebut, yakni pusaka yang pernah ada di zaman Kerajaan Majapahit, Blambangan, Pajajaran, Sriwijaya, Melayu, Bugis, Bali, dan Lombok. “Keris Blambangan berumur dua abad juga saya pamerkan dalam kegiatan ini,” imbuh Ilham.
Dalam kegiatan itu, dia juga tengah menyosialisasikan tentang pedang luwuk milik Kerajaan Blambangan. Karena konon pedang luwuk digunakan pada zaman penjajahan untuk melawan VOC Belanda terutama saat berlangsungnya perang Puputan Bayu.
Pedang luwuk tersebut, merupakan pedang yang pada bagian bibirnya dilumuri bisa ular hijau (ulo luwuk). Benda pusaka tersebut merupakan yang paling ditakuti VOC Belanda. Sebab, jika pedang luwuk itu dihunuskan racunnya mampu menyebar dan mematikan tentara VOC Belanda.
“Kita juga ingin mengenalkan pada khalayak, jika Banyuwangi juga mempunyai pedang yang sangat ditakuti oleh Belanda. Dan kami ingin agar pedang luwuk ini juga bisa jadi warisan pusaka Banyuwangi,” terangnya
Ada berbagai jenis benda pusaka yang di-jamas. Mulai keris, tombak, hingga pedang luwuk.
Jamasan pusaka ini merupakan kegiatan budaya yang merupakan kegiatan budaya yang rutin dilakukan setiap bulan Suro (Muharram). Dalam jamasan ini, dilakukan pencucian terhadap sejumlah benda pusaka.
Ritual ini bagian dari kegiatan kebudayaan yang terus dikembangkan. “Jamasan ini dilakukan secara terbuka untuk umum,” ungkap KRT. H. llham Trihadinagoro budayawan Banyuwangi sekaligus yang berperan men-jamas benda-benda pusaka tersebut.
Jamasan pusaka ini merupakan kegiatan budaya yang merupakan kegiatan budaya yang rutin dilakukan setiap bulan Suro (Muharram). Dalam jamasan ini, dilakukan pencucian terhadap sejumlah benda pusaka.
Diharapkan dengan kegiatan jamasan pusaka, dan tosan aji tersebut, pusaka-pusaka yang telah banyak menyimpan energi negatif bisa dilepas untuk dibersihkan dan diganti dengan energi positif. Sehingga akan berdampak baik terhadap sang empunya (pemilik).
“Biasanya ada cerita jika ada keris yang sampai bergoyang, bahkan sampai berpindah tempat. ltu karena terlalu banyak energi negatif dan tidak pernah dijamas,” tandasnya.
“Dengan pameran ini masyarakat bisa tahu bahwa keris itu sebuah mahakarya yang dalam pembuatannya memiliki filosofi dan harapan. Jadi tidak lagi dipandang mistis seperti yang ada di masyarakat,” katanya .
Ia juga menambahkan, pemerintah melalui Disbudpar turut serta mendukung kegiatan ini, sebab ada sisi edukasi yang bisa bermanfaat untuk masyarakat, terlebih lagi pelajar. Bahkan, kerjasama untuk pameran ini sudah berjalan tahun kedua, sebab dirasa sangat menarik.
Masyarakat, terutama generasi milenial mendapatkan edukasi tentang keris sebagai salah satu warisan budaya non bendawi yang telah ditetapkan oleh UNESCO pada 25 Nopember 2022. Bahkan, dengan kegiatan ini juga bisa tersampikan pesan agar masyarakat selalu mencintai benda bersejarah dan mempelajarinya agar tidak diambil negara lain.
“Kami berharap keris ini terus dijaga dan dicintai. Seperti ini sangat disukai oleh negara lain. Untuk itu harus dijaga agar tidak diambil oleh negara lain,” ujarnya.
Kegiatan Gelar Budaya berlangsung dengan lancar. Panitia sempat melakukan edukasi tentang benda bersejarah. Para pelajar juga sangat antusias saat melihat secara langsung beragam benda pusaka tersebut. Terlebih lagi, ketika mereka mengetahui harga benda pusaka tersebut yang sangat tinggi.
Panitia memang mengundang para pelajar untuk ikut menyaksikan pameran, dengan harapan mereka bisa semakin memahami tentang benda pusaka. “Ada ratusan pelajar di Kota Banyuwangi yang mendapatkan edukasi tentang keris,” pungkas Ilham.(Ilham Triadi)


Komentar