PPM Al-Azhar Muncar merupakan salah satu lembaga pondok pesantren di Kabupaten Banyuwangi yang terus berbenah dan beradaptasi terhadap perkembangan jaman. Dalam upaya menciptakan sekolah dan pesantren ramah anak, PP Al Azhar mengadakan kegiatan seminar tentang bagaimana menciptakan sekolah ramah anak dengan berbagai ide kreatif. Seminar yang dilaksanakan pada hari Rabu, 21 September 2022 diikuti oleh seluruh santriwan dan santriwati serta para guru dan asatidzh serta staf TU.
“Seminar ini guna untiuk mencegah dan memberikan pemahaman arti bullying kepada seluruh warga PP Al Azhar. Dengan harapan meminimalisir terjadinya bullying dalam bentuk apapun. Sehingga nantinya tercipta insan generasi emas 2045 yang cerdas, taqwa, religius dan bermartabat, ujar K.H. Abdillah As’ad, Lc dalam sambutannya. Beliau juga menambahkan bagaimana menjaga dengan maksimal mungkin keberadaan pesantren yang lahir sebelum proklamasi kemerdekaan NKRI tetap eksis sampai akhir jaman.
Pemantik dalam acara seminar tersebut Aiptu Nur Aini dari Kanit Binmas Polsek Muncar dan Yeti Chotimah, M.Pd yang merupakan fasilitator guru pendamping khusus atau GPK. Dalam paparannya Nur Aini menyampaikan tentang kisah kisah inspiratif diantaranya Thomas Alfa Edisson dan kisah hidup dari Aiptu Nuraini sendiri yang sering di bully karena mempunyai nama seperti layaknya nama perempuan dan sesaudara 25 orang.
“Selayaknya terhadap berbagai kasus bullying, yang di bully tidak harus selalu melayani. Jika dalam masih batas ringan, tidak perlu digubris, jika menyakitkan maka jadikan sebagai cemeti untuk memacu diri menjadi lebih baik dan lebih baik lagi,” kata beliau seraya sebut ada 4 jenis perundungan seperti lisan, perbuatan fisik,
cyber dan sosial.
Sedang Yeti Chotimah memberikan paparan bertajuk Inklusif bukan Eksklusif. Bahwa di era keterbukaan ini, pesantren hendaknya terus berbenah dalam berbagai hal, baik dibidang literasi yang mencakup 6 literasi selain membaca menulis, juga literasi budaya dengan memanfaatkan sumber daya manusia sebagai bagian dari pembelajaran kebudayaan, literasi digital dengan memanfaatkan lab komputer untuk bagaimana santri menguasai tehnologi yang terus berkembang, selanjutnya memperkaya dengan berbagai hal literasi lainnya. Selain itu bagaimana santri yang merupakan manusia pilihan sangat cocok sebuah sekolah berbasis pesantren untuk dijadikan sebagai tempat pembelajaran kehidupan dan menerapkan karakter pancasila. Diantaranya berketuhanan, berkebhinekaan tunggal, mandiri, berfikir kritis, serta berbudaya kearifan lokal. Pendidikan pesantren masa kini bagaimana mengenal lebih dekat peserta didiknya dengan mengetahui latar belakang dari peserta didik itu sendiri. Bentuk lembut kasih sayang guru, selayaknya lebih diutamakan daripada egosentris sendiri.
“jadilah yang terbaik dari yang paling baik, ” Kalimat pamungkas dari alumni PP Nurul Jadid Paiton, Yeti Chotimah, yang kini mengajar IPA dan Seni Budaya di SMPN 3 Rogojampi serta Ketua MGMP Bahasa Osing yang geogle master juga ini.
Sesi pemaparan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu ustadzah Mekar Arum Puspa. Ternyata pertanyaan sangat antusias dan kritis ke tehnis berikut rencana tindak lanjut yang bisa diterapkan untuk mengetahui perilaku dan karakter serta praktis pencegahan bullying.
Kabid SDM PPM Al Azhar, Candra Saputra, SH, S.Pd pada media ini memperhatikan suksesnya seminar maupun pentingnya dialogtika akademis maka akan dilanjuti dengan hadirkan pegiat LSM yang juga praktisi hukum dan media untuk guru dan pengurus serta motivator untuk parenthing dengan hadirkan walisantri.
Acara yang gayeng bertemakan Mewujudkan Lingkungan Belajar Anti Perundungan dan Ramah Anak ini ditutup do’a oleh pengasuh PP modern Al -Azhar seraya bermunajat kepada Allah, semoga semua yang sudah dipaparkan dalam seminar bisa menjadi bagian hikmah untuk bisa memperbaiki pola asuh, pola ajar dan pola didik dalam pesantren diera globalisasi dengan sikon gurunya produk lama,mendidik anak milinea generasi Z untuk menyiapkan kader generasi di masa depan. ( Bung Aguk)


Komentar