Di penghujung tahun 2022 ini, ratusan pasang mata bisa melihat pertunjukan di Ketapang Indah Hotel dengan Tema “Amazing Osing” yang menampilkan warna khas seni budaya Osing diantaranya ; Seni Bordah, Mocoan Lontar dalam ruwatan, Pencak Sumping, fragmen Seni drama tari Barong Jakripah Vs Paman Iris dan Gandrung yang dibawakan oleh sang maestro Mak Temu Misti Sabtu (31/01/2022)
Sekitar 350 wisatawan domestik dan mancanegara terhentak kagum menyaksikan arak arakan Barong Osing yang pernah tampil di Frankfurt Jerman dengan iringan musik rancak dipandu gerak jenaka sepasang Pitik2an dengan start dari Marlin Resto di tepi pantai hingga memasuki hall utama Ketapang Indah Hotel.
Aura dalam gedung terasa mistis, asap dupa yang mengepul bersamaan lantunan tembang Luntar Yusup pupuh Kasmaran dan Arum2 serta Kidung Rumekso ing Wengi membuat para tamu terdiam seolah terhipnotis energi syair tembang sebagai doa tolak balak ini. Disusul vokal khas Osing melantunkan syair Barjanji diiringi musik ritmik gembrung.

Tepuk tangan tak terbendung ketika sepasang anak perempuan yang masih berusia anak anak menunjukkan kebolehannya dalam seni bela diri pencak sumping. Demikian pula sepasang orang dewasa mampu menarik perhatian dalam gerakan duel seni pencak dengan iringan musik rancak tempo cepat.
Kali ini Gandrung Terop dipersembahkan oleh Ketapang Indah Hotel untuk para tamu dalam pertunjukan pendek. Dua gandrung tampil memukau yaitu Gandrung Temu dan gandrung Reni. Gandrung Temu yang pernah menerima anugerah Kebudayaan Nasional dan juga pernah menerima gelar Maestro Tari Indonesesia dari Kemendikbud serta pernah melatih 15 anak se Indonesia dalam program BBM (Belajar Bersama Maestro) ini pernah memukau publik Eropa saat tampil di Frankfurt Jerman. Walau usia gandrung Temuk yang sudah menginjak 71 tahun, tetapi ia masih tampil begitu energik malam ini.
Sebelum gandrung Temu tampil, para tamu dibuat tertegun menyaksikan FRAGMEN seni drama tari BARONG Jakripah – Paman Iris.

Pagelaran ini diambil dari buku “KEMIREN – Kisah Barong Jakripah dan Paman Iris” karya Aekanu Hariyono dengan pengantar Prof. Dr. Ayu Sutarto yang diterjemahkan oleh 7 penutur bahasa aslinya yaitu bahasa Inggris, Belanda, Perancis, Itali, Osing, Jawa dan bahasa Indonesia.
Pengamat Budaya Osing dan Pengurus Kopat (Komunitas Osing Pelestati Adat Tradhisi) Banyuwangi, Aekanu Hariyono menuturkan “Barong Osing berkembang di kalangan masyarakat Osing, salah satu kelompok etnis yang dianggap paling tua di Banyuwangi, Jawa Timur. Barong Osing dianggap sebagai pengejawantahan leluhur yang menunggu desa. Itulah sebabnya Barong sangat berperan penting dalam upacara2 adat, hajatan maupun acara yang berhubungan dengan kesuburan dan keselamatan di desa. Barong Osing menyandang identitas yang khas antara rasa Jawa dan Bali, Islam dan Hindu, gunung dan laut, sakral dan profan, ” tuturnya.
Masih Aekanu “Barong Osing memiliki ciri terdiri 5 warna, tubuhnya bersayap dan bermahkota besar di kepalanya, ” tambahnya.
Buku Kemiren tersebut terinspirasi dari penampilan seni Barong semalam suntuk yang terdiri beberapa cerita non-linier yang unik dan menarik sebagai ramuan dari musik, tari, puisi, pantun, mantra, lelucon, mistis akrobatis dll. Cerita Barong-Jakripah dan Paman Iris menjadi daya pikat tersendiri bagi penggemarnya mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
“Jakripah adalah sosok gadis cantik dan sakti yang kehilangan hewan piaraannya berupa barong bernama Barong Sinar Udara. Barong yang menjadi kekuatannya itu sangat membuatnya gundah dan lemah. Ia mencari kesana kemari, dalam perjalanan pencariannya ia bertemu tiga orang pria bernama Tambur, Layar Kemudi yang berdandan seperti badut dan bertingkah lucu. Disusul kemudian datanglah pemuda tampan bernama Paman Iris di antara mereka. Tatapan mata Jakripah dan Paman Iris membuat hati mereka terpikat dan saling jatuh cinta.
Kepada ke tiga orang ini, Jakripah berjanji siapapun yang bisa menemukan barongnya, ia bersedia menjadi istrinya.
Paman Iris yang sakti itu ternyata bisa menemukan Barong Sinar Udara yang bisa merobah wujudnya menjadi kupu-kupu.
Ketika Paman Iris menagih janji, Jakripah menolak dan bahkan minta Paman Iris bertarung melawan barong. Betapa hancur hati Jakripah melihat barongnya mati di tangan Paman Iris.
Jakripah merayu Paman Iris agar menghidupkan kembali barongnya dan berjanji jika barong bisa hidup kembali, ia siap diperistri Paman Iris.
Namun betapa terkejutnya Paman Iris saat Barong Sinar Udara bisa dihidupkan kembali, Jakripah mengingkari janjinya dan bahkan menantang adu kesaktian duel berdua. Duel perang dua orang yang sebenarnya saling jatuh cinta ini saling adu mantra dan kanuragan yang dasyat terjadi, namun Jakripah kalah digdaya dan dibuat bulan-bulanan oleh tendangan Paman Iris. Tidak tega melihat Jakripah yang makin lemah, Paman Iris yang sakti demi cintanya pada Jakripah, ia menunjukkan titik apesnya.
Akhirnya Paman Iris merelakan raganya dimakan oleh Barong Sinar Udara, rohnya masuk ke raga Jakripah.
Jakripah Barong dan Paman Iris menyatu dan hidup bahagia”
Pertunjukan menjadi sangat menarik dengan koreo yang digarap oleh seorang Maestro tari yang namanya sudah tersohor di Indonésia Samsul Slamet Diharjo, diiringi para pemain, penari dan para pemusik muda berbakat ditunjang dekorasi panggung dengan lighting spektakuler yang diramu oleh Kang Nur Kholil dkk menjadikan pertunjukan benar benar Spektakuler.
“Ketapang Indah Hotel, hotel berbintang lima malam itu (31/12/2022) telah berhasil menampilkan pertunjukan seni dengan dekorasinya yang begitu mewah, tetapi auranya terasa bernuansa agraris. Hiasan yang terpajang benar2 buah lokal yang utuh dengan batang dan daunnya, kudapannya juga kue2 olahan tradisional nampak sekali sebagai hotel berbintang pelestari seni tradisi, “ucap salah seorang tamu yang biasa menginap di hotel ini dengan bangga.
(AWI-Kiling Osing Banyuwangi)


Komentar