Temuk Misti saat tampil di Ketapang Indah Hotel Banyuwangi-Jatim (31/12/2022) dan saat tampil di beberapa tempat, Gandrung Temuk Misti selalu menunjukkan dinamisnya gerak tari sekaligus menyanyi dengan penuh energi. Baginya struktur gerak tari, syair, gending pengiring dan kostum gandrung semuanya mengacu pada ajaran kebaikan bahkan sebagai media untuk berdoa kepada Tuhan yang dirasakan bisa memberikan dorongan energi tersendiri baginya.
Kostum gandrung yang tidak hanya indah artistik tapi memiliki filosofi penuh nilai.
Menurut Seorang Pengamat Budaya Osing dan Pengurus Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi (Kopat) Banyuwangi menjelaskan :
*Omprok*
Omprok adalah mahkota penutup kepala khusus untuk penari Gandrung, “Omprok” sama peran dan kedudukannya seperti “kuluk” yang dikenakan oleh para pemain teater tradisional pada umumnya yang dipakai di kepala di mana sebagai bagian tubuh manusia yang dianggap paling sakral.
Hiasan ornamen Omprok memiliki makna secara estetis, simbolis, etis serta filosofis yang mempunyai arti value yang sangat dalam.

Ornamen “Pilis” yang melengkung di atas alis di bawah dahi menutupi rambut, warna perak atau keemasan bermakna sebagai ungkapan ekspresi dari sistem budaya yang berisi norma adat, norma religi, norma etika, norma tata krama kesopanan, norma hukum, dan norma kesusilaan yang ada pada masyarakat.
Ornamen Wayang berkepala ksatria Pandawa(Gatotkaca) dan berbadan ular naga bermakna ksatria, penguasa atau manusia yang selalu berpihak pada kebaikan,kebenaran dan simbul kepemimpinan yang merakyat bersifat “andhap asor” tanpa pilih kasih.
Di atas pilis ada Gunungan atau Meru merujuk pada Tri Hita Karana (dalam Hindu) sejalan dengan hablumminalloh, hablumminannas dan hablumminalalam (dalam Islam) bermakna harmonisasi hidup antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam.
*Fungsi Gandrung*
Tidak hanya sebagai fungsi ritual, tapi juga fungsi profan bahkan pernah berperan dalam perjuangan mengusir penjajah. Gandrung juga mempunyai peran penting sebagai fungsi sosial untuk merekatkan tali persaudaraan dengan tidak memandang perbedaan terlihat dari episode “paju gandrung” yang terinspirasi dari “tundikan Seblang” dengan mata terpejam ia melempar sampur (selendang) ke arah penonton tanpa tebang pilih untuk menari bersama sebagai tanda persaudaraan dengan dasar saling menghormati.

*Gandrung berselendang merah*
sebagai media untuk menghormati Dewi Sri, menghormati ibu, menghormati kaum perempuan yang lebih mempunyai peran dalam berbagai ritual masyarakat agraris Osing yang berhubungan dengan kesuburan dan kesejahteraan.
*Kelat bau berupa kupu kupu*
Yang dipakai di kedua lengan gandrung berupa kupu-kupu binatang yang indah dan simetris bentuknya. Gandrung mengajarkan untuk belajar dari kodrat metamorfosis akhir kupu-kupu yang berproses dari ulat menjadi kepompong dan kepompong menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu yang awalnya dia hanya seekor ulat yang buruk rupa.
Dalam proses kehidupan ia pun berubah menjadi kepompong. Badannya terbujur kaku menggantung di dahan dan dedaunan.
Dengan perjuangan dan kesabarannya ia tetap kokoh di tempatnya bersemedi untuk berubah menjadi kupu-kupu yang penuh pesona keindahan beterbangan ke sana kemari membantu penyerbukan bunga menjadi buah dari berbagai jenis tanaman.
Kupu menerima kodrat dalam siklus hidupnya, ia akan segera mati dengan meninggalkan segala keindahannya tapi sesudah dia memberi manfaat pada makhluk lain.
(AWI-Kiling Osing Banyuwangi)


Komentar