Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jember mengadakan workshop dengan tema “Merajut Kekayaan Budaya Nusantara Guna Membekali Mahasiswa di Era 5.0” pada hari Sabtu, 3 Juni 2023. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menambah dan mengembangkan pengetahuan, serta melestarikan kebudayaan daerah. Workshop ini diisi oleh dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yaitu Fitri Nura Murti, S.Pd., M.Pd. dan Dr. Furoidatul Husniah, S.S., M.Pd. Pranata Acara dan Tradisi lisan merupakan mata kuliah yang menjadi lingkup pembahasan workshop ini.
Seiring perkembangan zaman, budaya nusantara yang begitu beragam hampir hilang karena globalisasi. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai generasi sudah sepantasnya ikut melestarikan dan menjaga kebudayaan yang ada. Pelestarian budaya bertujuan untuk tetap mempertahankan warisan leluhur.

Ketua Panitia Workshop, Putri Nurul Azizah menyampaikan dalam sambutannya bahwa Workshop Seni dan Budaya Nusantara ini merupakan suatu kegiatan yang dapat menggugah kesadaran mahasiswa dalam mempelajari kebudayaan nusantara.
“Keberagaman nusantara banyak yang telah terkubur. Sekarang saatnya bagi mahasiswa untuk kembali membangkitkan kebudayaan-kebudayaan tersebut.”
Pernyataan tersebut didukung Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP UNEJ, Dr. Rusdhianti Wuryaningrum, M.Pd, bahwa budaya Nusantara memang harus dilestarikan oleh seluruh mahasiswa sebagai generasi muda.
“Saya sangat mengapresiasi acara ini karena Workshop Seni dan Budaya Nusantara yang diadakan oleh mahasiswa angkatan 22 semester 2 mengangkat tema yang luar biasa. Senada dengan semangat Kampus Merdeka. Belum lagi kelas drama yang sudah 1 minggu menggelar pementasan tiap harinya. Hal ini tentu menjadi bukti bahwa PBSI UNEJ memang layak mendapatkan akreditasi unggul, “ungkapnya.
Materi pertama disampaikan oleh Fitri Nura Murti, S.Pd., M.Pd tentang Mitologi dalam Batik Jawa. “Batik merupakan produk-produk selayang lisan, yang harus dikembangkan oleh kita agar dapat dikenal oleh generasi kita selanjutnya. Tradisi dikembangkan berdasarkan mitos-mitos dari daerah tersebut. Dalam tradisi lisan kedudukannya sebagai hasil dari segala produk masyarakat yang diturunkan dari generasi pertama ke generasi-generasi selanjutnya. Dari hasil karya tersebut muncullah produk lisan dan tidak lisan, keduanya tidak dapat terpisahkan. Saat ini, kita masih menganut tradisi lisan.”
Materi yang kedua disampaikan oleh Dr Furoidatul Husniah, S.S., M.Pd. tentang Sirkuit Kebudayaan yang berkaitan tentang produk tradisi lisan. Mitologi merupakan bagian dari sirkuit kebudayaan. Sirkuit kebudayaan menurut Paul du Gay mengungkapkan 5 elemen di antaranya representasi, identitas, produksi, kondumsi, dan regulasi.

“Proses kultural ini mampu menjelaskan representasi budaya terbentuk dengan representasi, asosiasi identitas yang ditampilkan, dan bagaimana proses budaya di produksi. Sirkuit kebudayaan ini menghasilkan produksi budaya dan tidak dapat dipisahkan. Representasi dan identitas dari produk ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian, terdapat relasi 5 elemen sirkuit kebudayaan. Teori sirkuit budaya dapat dimulai dari objek yang muncul terlebih dahulu atau dari identitas budayanya.”
Dalam penyelenggaraan workshop ini, terdapat kegiatan membuat produk-produk tradisi lisan, seperti batik, tas, dan sebagainya. Kemudian, mendapatkan kritik dan saran dari para pemateri.
Tidak hanya diisi oleh pemateri, workshop ini diisi oleh penampilan mahasiswa PBSI angkatan 2022 berupa Tari Wonderland Indonesia, Musikalisasi Puisi berjudul “Angkara”, dan penampilan menyanyi solo. Mahasiswa PBSI angkatan 2020 yang menjadi peserta sangat antusias mengikuti acara workshop tersebut.(Miskawi)


Komentar