oleh

Nguri-uri Budaya Adat Tradisi Leluhur “Njenang Syuro”

Istilah syuro yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jawa suku Osing, berasal dari kata Asyura (bahasa Arab) yang berarti bulan ke kesepuluh. Istilah itu kemudian dijadikan sebagai bulan permulaan hitungan dalam takwim jawa. Sementara itu dalam Islam, istilah syuro sebagaimana yang telah dipahami oleh masyarakat Islam, dikenal dengan nama bulan Muharram . Kemudian di zaman sahabat Umar Ibnu Khattab di resmikan sebagai tahun (baru Islam.

Bulan Muharram atau bulan Asyuro (oleh masyarakat Osing dimaknai sebagai bulan yang kurang baik untuk mengadakan hajatan hajatan misalnya hajatan pernikahan, khitanan, pindah rumah dan yang lainnya, dan di bulan suro ini kebanyakan orang orang suku Osing melakukan ritual selamatan dan mayoritas masyarakat Osing membuat jenang Syuro.
Masyarakat suku Osing yang tinggal di Kabupaten Banyuwangi-Jatim, menganggap bulan Syuro ini sebagai bulan istimewa. Hal ini terlihat banyak masyarakat Suku Osing diberbagai tempat ada yang melaksanakan kegiatan ritual Kebo keboan di wilayah kecamatan Singojuruh , Gelar songo di wilayah kecamatan Glagah,  Petik laut di wilayah pesisir, selamatan kampung di hampir setiap Desa/Kelurahan dan lain lain.
Sementara pelestarian adat tradisi “Njenang Suro bersama” kemarin diadakan di desa Segobang Kecamatan Licin (Minggu 29/7/2023), dengan membuat jenang Suro secara bersama sama.

IMG-20230731-WA0015

Abdul Rouf selaku ketua panitia mengatakan “Kegiatan Njenang Suro bersama ini bertujuan diantara nya adalah sebagai ungkapan rasa puji syukur kepada Allah SWT atas karunia nikmat yang telah diberikan kepada warga Segubang sehingga hasil panennya berlimpah, ” ucapnya.

Suhatiyanto selaku Kepala Desa Segubang mengatakan pada awak media

“Kegiatan Adat Njenang Suro ini rutin dilaksanakan oleh warga desa yang tiada lain adalah untuk menguri-uri adat tradisi peninggalan leluhur dan dijadikan sebagai sarana silaturrahmi antar warga di seluruh desa Segubang.

“Sebelum acara Njenang Suro bersama, remaja masjid menggelar pawai Ta’arub keliling desa Segubang dan pengumpulan uang shodaqoh dari warga untuk yatiman di mesjid Baiturrahim pada malam harinya dan yang menjadi pembicara adalah KH Imron dari Pondok Pesantren Aswaja kecamatan Srono, ” jelasnya

IMG-20230731-WA0017

Sayuri,  S.Pd. dari Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi (Kopat) cabang Licin mengatakan di sambutannya “Kopat akan selalu hadir ditengah tengah masyarakat yang menggelar acara adat tradisi, hal ini karena sesuai dari amanah visi dan misi Kopat yaitu turut serta menguri-uri adat tradisi tidak hanya adat istiadatnya wong Osing saja, tetapi juga adat tradisinya Suku lain yang ada di Banyuwangi, ” cetusnya .

Aekanu Hariyono yang merupakan pemerhati Budaya Osing mengatakan “Njenang Suro di desa Segubang ini dimasak dengan wajan besar (Jedi), hasil dan rasanya sangat luar biasa karena dimasak dalam waktu lama dengan cara diaduk aduk oleh beberapa orang yang disertai dengan membaca do’a do’a, dikerjakan secara Ichlas dan dilakukan dengan rasa bahagia, ” katanya.

Upacara adat tradisi Njenang Suro bersama, selain dihadiri perwakilan dari Kantor Kecamatan Licin juga dihadiri oleh Babinsa , Babinkamtibmas dan dihadiri pula Ketua Umum Kopat Banyuwangi Ir. Wowok Meirianto dan puluhan anggotanya.
Acara resmi ditutup dengan pembacaan do’a oleh Ustad Masturi dan dilanjut kan dengan menikmati Jenang Suro khas desa Segubang sambil dihibur oleh anggota Kopat dengan membawakan lagu Umbul umbul Blambangan dengan iringan group kesenian dari Waroeng Kemarang. (AWI)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *