oleh

Pabrik Pengeringan Jagung Bantuan Rp 600 Juta di Alasbuluh Mangkrak Lebih dari Satu Dekade

Banyuwangi, Jurnalnews.com  – Pabrik pengeringan jagung senilai Rp600 juta yang berasal dari dana hibah Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Provinsi Jawa Timur tahun 2013 untuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, kini terbengkalai dan tidak lagi beroperasi.

Bangunan yang berada di Dusun Karangbaru, Desa Alasbuluh tersebut tampak tidak memiliki aktivitas apapun hingga Senin, 11 Mei 2026. Kondisi bangunan yang mangkrak selama lebih dari 10 tahun itu pun menjadi sorotan warga setempat.

Kepala Desa Alasbuluh, Abu Sholeh Said, mengatakan bahwa pabrik pengeringan jagung tersebut awalnya dibangun untuk membantu masyarakat dalam mengelola hasil panen jagung, khususnya warga Dusun Karangbaru dan sekitarnya.

“Awal pembangunan itu bertujuan untuk membantu masyarakat Dusun Karangbaru dan sekitarnya dalam pengelolaan hasil panen jagung,” ujar Abu Said.

Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut sebenarnya diharapkan mampu mempermudah petani dalam proses pengeringan hasil panen sehingga memiliki nilai jual yang lebih baik. Namun dalam perjalanannya, pemanfaatan pabrik tersebut tidak berjalan optimal.

“Tujuannya agar masyarakat tidak bingung dalam mengolah hasil pertanian, tapi akses jalannya memang tidak mudah. Mungkin itu juga yang menjadi kendala masyarakat akhirnya enggan menggunakan pabrik pengeringan ini,” katanya.

Akibat minimnya pemanfaatan, bangunan bantuan hibah pemerintah tersebut akhirnya mangkrak selama lebih dari satu dekade tanpa aktivitas berarti.

“Pabrik ini dibangun kalau tidak salah pada tahun 2013 dan sempat dimanfaatkan sebentar. Selanjutnya sudah tidak lagi sampai hari ini. Saya berharap masyarakat kembali dapat memanfaatkan pabrik pengeringan jagung tersebut agar tidak sia-sia,” imbuh Abu.

Warga berharap adanya perhatian dari pihak terkait agar bangunan yang telah menelan anggaran ratusan juta rupiah itu dapat kembali difungsikan demi mendukung sektor pertanian masyarakat setempat. (Venus). 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *