oleh

Bupati Ipuk Luncurkan Program Wisesa Sikadi Belajar Tidak Harus Selalu di Dalam Kelas

Program Wisesa Sikadi sendiri digagas PUDAM Banyuwangi bersama lintas OPD. Kloter pertama diikuti 75 siswa SD yang diajak belajar langsung di lokasi sumber mata air tertua di Banyuwangi ini. Lewat Wisesa Sikadi, Ratusan Pelajar Belajar Langsung di Kawasan Sumber Gedor. Ratusan pelajar mengikuti program Wisata Edukasi Sejak Usia Dini atau Wisesa Sikadi dengan belajar langsung di kawasan Sumber Gedor, Banyuwangi.

Direktur PUDAM Banyuwangi, Abdurrahman, menjelaskan bahwa kawasan Sumber Gedor bukan hanya sumber mata air biasa, tetapi juga memiliki nilai sejarah tinggi sebagai peninggalan kolonial Belanda yang dibangun sejak 1926.

“Sumber Gedor ini merupakan cagar budaya peninggalan Belanda sejak 1926. Anak-anak dikenalkan tentang sejarah, air, dan vegetasi di sekitar sumber mata air,” ujarnya.

Menurut Abdurrahman, edukasi sejak dini penting dilakukan agar generasi muda memahami nilai strategis sumber air sekaligus ikut menjaga keberlanjutannya di masa depan.

Ia juga memastikan kualitas air PUDAM Banyuwangi tetap terjaga karena berasal langsung dari sumber alami dan rutin menjalani pengujian laboratorium setiap bulan oleh Dinas Kesehatan.

“Air dari PUDAM Banyuwangi ini merupakan air terbaik dan bisa langsung diminum dari kran rumah. Unsur kesehatannya selalu dijaga karena rutin dilakukan pengecekan laboratorium,” tegasnya.

Program Wisesa Sikadi dikemas agar anak-anak tidak hanya berwisata, tetapi juga memahami proses produksi air bersih, pentingnya menjaga kelestarian sumber mata air, dan dampak lingkungan bagi kehidupan masyarakat.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani , menyambut positif hadirnya program Wisesa Sikadi. Menurutnya, pembelajaran di luar ruang seperti ini mampu memberikan pengalaman yang lebih kontekstual bagi para siswa.

“Belajar tidak harus selalu di dalam kelas. Melalui program ini, anak-anak bisa memahami langsung proses produksi air bersih, sejarah, dan pentingnya menjaga lingkungan sejak dini,” kata Ipuk.

Melalui program tersebut, para siswa tidak hanya diajak berwisata edukatif, tetapi juga memahami bagaimana air bersih diproduksi, pentingnya menjaga kelestarian sumber mata air, serta dampak lingkungan terhadap kehidupan masyarakat, tambah Ipuk.

Sumber Gedor Layak Jadi Cagar Budaya

Sementara itu, Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Banyuwangi, KRT Ilham Triadi, menilai Sumber Gedor layak segera ditetapkan sebagai Struktur Cagar Budaya karena memiliki nilai sejarah penting bagi Banyuwangi.

“Sumber Gedor adalah warisan Belanda yang menjadi nadi air bersih Banyuwangi sejak dahulu hingga sekarang,” ujarnya.

Ilham menjelaskan, bendungan dan instalasi yang dibangun sejak 1926–1927 masih berfungsi hingga kini dan menjadi bukti perkembangan infrastruktur air di masa kolonial. Penetapan sebagai cagar budaya dinilai penting untuk menjaga keaslian dan nilai historisnya agar tidak hilang seiring waktu.

Program Wisesa Sikadi sendiri digagas PUDAM Banyuwangi bersama lintas OPD. Kloter pertama diikuti 75 siswa SD yang diajak belajar langsung di lokasi sumber mata air tertua di Banyuwangi ini.(Ilham T.)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *