oleh

Mamaca Sakral Awali Rokat Petik Laut Kalitopo, Tradisi Leluhur Nelayan Tetap Lestari

Banyuwangi, Jurnalnews.com – Tradisi sakral Mamaca menjadi pembuka rangkaian Rokat Petik Laut Nelayan Pantai Kalitopo, Desa Sidodadi, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, yang digelar pada 20 Juni 2026. Ritual budaya khas masyarakat Madura tersebut dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur para nelayan atas rezeki hasil laut sekaligus memohon keselamatan dan keberkahan dalam menjalani aktivitas melaut.

Selain Mamaca, rangkaian acara juga diisi dengan prosesi Rokat atau ruwatan, sholawat Asyrokol, hingga persiapan pelarungan perahu mini yang berisi berbagai sesaji berupa palawija, ayam, bunga, serta uang sembur uthik. Perahu tersebut dihiasi 99 bendera merah putih dan akan dilarung ke laut sebagai simbol rasa syukur masyarakat nelayan.

“Yang penting Alhamdulillah nemu bulir untuk melengkapi sesaji ketan lima warna,” tutur Mbah Hasan, salah satu sesepuh Kalitopo yang kini sudah tidak lagi melaut karena faktor usia.

Pengepul ikan sekaligus tokoh nelayan setempat, Iwan Cahyono, mengungkapkan bahwa Mamaca merupakan bagian penting dalam tradisi petik laut yang diwariskan turun-temurun. Menurutnya, berbagai kegiatan seperti lomba voli pantai, layang-layang, karaoke, galatama pancing lele, hingga jalan sehat hanyalah pelengkap untuk memeriahkan momentum utama petik laut.

“Inti dari petik laut adalah ungkapan syukur kepada Allah SWT atas hasil laut yang diberikan kepada para nelayan,” ujarnya.

Iwan juga menjelaskan bahwa perairan Kalitopo memiliki potensi perikanan yang cukup besar. Berbagai jenis ikan bernilai ekonomis seperti kerapu, marlin, tumbuk, pogot, dan ikan-ikan berukuran besar lainnya banyak dihasilkan dari kawasan tersebut, bahkan sebagian dipasarkan hingga ke luar daerah dan ekspor.

Ritual Mamaca tahun ini dibawakan oleh lima lansia asal Desa Alasbuluh, yakni Abdi Kadir, Pusati, Sugiarto, Hatija, dan Indiawan. Mereka meneruskan tradisi yang diwariskan para leluhurnya.

Sementara naskah yang dibaca merupakan karya Asmadiyah yang ditulis dalam bentuk buku menyerupai kitab kuning atau lontar.

Kegiatan Mamaca berlangsung pada Sabtu malam (20/6) mulai pukul 21.17 WIB hingga Minggu dini hari pukul 02.45 WIB di Surau Siti Chotimah Kalitopo. Naskah yang dibacakan berjudul “Nur Muhammad”, yang mengisahkan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW sejak dalam kandungan, masa kanak-kanak, menjadi yatim piatu, menerima wahyu, hijrah dari Makkah ke Madinah, hingga kisah syafaat Rasulullah bagi umatnya.

Pembacaan dilakukan secara bergantian dengan irama dan cengkok khas Madura yang dilantunkan secara bersahut-sahutan. Di hadapan para pembaca telah disiapkan berbagai perlengkapan ritual seperti tumpeng, bunga, peras, serta damar kumambang oleh panitia.

Di lokasi yang sama, Mbah Hasan bersama istrinya tampak sibuk menghias dan mengisi perahu mini yang akan dilarung pada puncak acara petik laut yang bertepatan dengan awal Bulan Suro atau 4–5 Muharram 1448 Hijriah.

Sementara itu, Founder  Pantai Kalitopo, Eko Setiawan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga semangat gotong royong dalam mengembangkan kawasan wisata bahari tersebut.

Menurut Eko, pengembangan Pantai Kalitopo tidak hanya bertujuan meningkatkan sektor pariwisata, tetapi juga mendorong kesejahteraan masyarakat pesisir. Karena itu, pihaknya menggandeng berbagai instansi terkait seperti Dinas Perikanan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta mendapat dukungan dari Camat Wongsorejo dan jajaran Forkopimka.

“Kami ingin masyarakat nelayan tetap bersyukur dan bersabar dalam berikhtiar meningkatkan kesejahteraan. Ketika cuaca tidak memungkinkan untuk melaut, keluarga nelayan diharapkan memiliki alternatif usaha melalui warung maupun UMKM. Selain itu, kami juga terus mengkampanyekan budaya gemar makan ikan,” ujar Eko.

Ia menambahkan, Pantai Kalitopo juga mulai diperkenalkan sebagai destinasi wisata dirgantara dengan menghadirkan aktivitas paramotor. Bahkan, pihaknya telah menyiapkan area runway untuk mendukung kegiatan tersebut.

“Kami ingin Kalitopo dikenal sebagai destinasi wisata bahari sekaligus wisata dirgantara yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar,” pungkasnya. (Bung Aguk/Venus/JN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *