oleh

Ritual Gandrung Wadon Kawitan 2021

Peringatan/Haul ke – 51 Maestro Penari Gandrung perempuan pertama Almarhumah Mbah buyut Semi digelar di Jalan Hadrah Caruk lingkungan Cungking Kelurahan Mojopanggung Kecamatan Giri Kabupaten Banyuwangi-Jatim Sabtu (18/12/2021), dengan kepanitiaan dari lingkup keluarga besar mbah buyut Semi.

Mbah buyut Semi lahir di Banyuwangi pada tahun 1882 dan meninggal pada tahun 1970 merupakan seniman tari gandrung perempuan pertama dan menurut Slamet Sugiono warga Cungking yang hadir pada upacara ritual ini dan beliau adalah juga sebagai seniman pahat mengatakan bahwa “Mbah buyut Semi pada tahun 1895 melakukan pertunjukan tari Gandrung di Surabaya, “ungkapnya.

20211218_142226

Bambang selaku panitia mengatakan dalam sambutannya “Kegiatan ritual mengenang mbah buyut Semi, kami selaku cucu dan cicit nya menggelar setiap tahun secara rutin, ” katanya.

Acara ini dihadiri oleh : Bapak Suko selaku Kepala Kelurahan Mojopanggung, para budayawan khususnya dari KOPAT (Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi) Banyuwangi, Patih Senawangi (Pelatih tari dan seniman) Banyuwangi, anggota Dewan Kesenian Blambangan kabupaten Banyuwangi dan dihadiri pula oleh masyarakat lingkungan Cungking Kelurahan Mojopanggung.

20211218_145624

Wowok Meirianto selaku Ketua “KOPAT” mengatakan dalam sambutannya  “Kita sebagai masyarakat Banyuwangi harus bangga karena sekarang Banyuwangi menuju sebagai kota besar, banyak orang orang asing merasa senang dan betah tinggal di Banyuwangi hal ini karena wong Osing Banyuwangi sangat terbuka, ramah dan sopan sopan, ” cetusnya.

Masih Wowok melanjutkan “Kalian semua para cucu dan cicit mbah buyut Semi harus bangga karena Gandrung sekarang sudah menjadi simbol/ikon kota Banyuwangi, ” katanya.

Acara dilanjutkan kirab menuju ke pesarehan/makam mbah buyut Semi dengan berjalan kaki sekitar 1 KM yang diikuti oleh para penari gandrung, para cucu cicitnya mbah buyut Semi, para undangan dan masyarakat setempat dengan diiringi tabuhan gamelan yang dinaikkan kendaraan roda empat. Sesampai di Pesarehan/makam, dimulailah ritual memanjatkan do’a untuk almarhumah mbah buyut Semi dan dilanjutkan dengan penggantian kain penutup cungkup makam dan kain sampur (selendang yang dipakai penari gandrung saat pentas) dengan yang baru, penggantian ini dilakukan setiap setahun sekali.

20211218_155254

Seusai acara nyekar, semua nya kembali ke tempat awal untuk menikmati suguhan tari gandrung dan ditutup dengan menyanyikan lagu Umbul umbul Blambangan oleh seluruh keluarga besar keturunan mbah buyut Semi. Pada puncak acara, ditutup dengan do’a dan para undangan dipersilahkan menikmati nasi tumpeng .
(Hariyanto)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *